Logo Header Antaranews Lampung

Tradisi Mudik dan Pertobatan Nasional

Sabtu, 18 Agustus 2012 20:34 WIB
Image Print
Para pemudik yang menginap di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)

Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - "Tiga orang tewas akibat tabrakan kendaraan travel dengan travel di Jalan Lintas Sumatera di Lubuk Kamal Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Jumat (17/8)".

Korban meninggal dan luka-luka berjatuhan, di antara para pemudik menjelang Idul Fitri 1433 Hijriah/tahun 2012 Masehi, saat hendak menjalani tradisi yang telah turun temurun berlangsung di negeri ini.

Berjuta-juta warga Indonesia dari berbagai tempat dan beragam profesi, seperti didorongkan sangat kuat oleh tradisi mudik itu, sehingga dengan segala daya upaya berusaha sekuat tenaga menjalani ritual mudik ini setiap tahunnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik berarti pulang ke kampung halaman.

Sedangkan Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, mengartikan mudik adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.

Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang Lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua.

Pengamat sosial politik dari Universitas Lampung (Unila) Arizka Warganegara MA berpendapat, tradisi mudik yang unik hanya berlaku bagi umat Islam di Indonesia itu, ternyata hingga kini masih identik dengan kemacetan dan antrean panjang yang melelahkan.

Seharusnya, setelah bangsa Indonesia 67 tahun merdeka, kata dosen FISIP Unila itu, persoalan infrastruktur dan transportasi publik telah dapat terpecahkan dengan baik.

Menurut dia, memang setelah 67 tahun merdeka, persoalan infrastruktur dan transportasi publik itu tetap tidak terpecahkan dengan baik oleh pemerintah.

"Jalan raya yang tidak seimbang dengan jumlah kendaraan bermotor, serta transportasi publik yang buruk menjadikan jalan raya penuh dengan pemudik yang akhirnya menimbulkan kemacetan," ujar dia pula.

Arizka mengingatkan, perlu kebijakan khusus dalam bidang infrastruktur dan pengembangan sarana transportasi massal (mass rapid transportation) yang nyaman dan murah.

"Semua itu harus menjadi prioritas pemerintah, agar tradisi mudik tidak identik dengan kemacetan dan antrean panjang di pelabuhan dan stasiun maupun bandara," kata dia pula.

Dia menegaskan bahwa tradisi mudik dan halal bil halal yang hanya ada di indonesia sebagai keunikan dari muslim di negeri ini, merupakan representasi guyub dan semangat kebersamaan serta relevan dikaitkan dengan tradisi mudik tersebut.

"Mudik itu seperti kembali kepada hakikat manusia, hakikat manusia untuk kembali ke tanah dimana dia berasal, dan itu sebuah keharusan sehingga setiap orang yang merantau menjadikan mudik sebagai kembali pada hakikat manusia," kata Arizka lagi.

Berkaitan momentum Idul Fitri 1433 Hijriah/tahun 2012 Masehi yang beriringan dengan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-67 di bukan Ramadhan ini, pengamat sosial politik dari FISIP Unila lainnya, Dr Nanang Trenggono MSi, berpendapat sepatutnya, HUT Kemerdekaan mampu menjadikan Detik-Detik Proklamasi membuat seluruh rakyat Indonesia berhenti sejenak dan dengan khidmat merasakan, kita memang sebuah bangsa yang lahir dengan perjuangan bersama.

"Rasa kebangsaan bersama ini yang mampu mendorong setiap warga perlu berbuat sesuatu untuk kepentingan banyak orang," kata dosen yang kini menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung.

Nanang menegaskan bahwa detik-detik kemerdekaan itu bukan hanya milik PNS yang mengikuti upacara dengan seragam Korpri semata.

Bagi masyarakat Lampung, peringatan HUT Kemerdekaan kali ini harus menyadarkan bahwa betapa banyak problem sosial, politik, ekonami dan lainya yang harus ditemukan jalan keluarnya.

"Saat ini merupakan momentum untuk bukan memikirkan diri sendiri dan melangkah untuk diri sendiri dan keluarga, tapi dapat lebih mengedepankan kebersamaan untuk mengatasi semua problematika tersebut," ujar Nanang pula.

Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung, Dr H Mohammad Mukri MAg berpendapat bahwa pelaksanaan Idul Fitri 1433 Hijriah beriringan dengan HUT Kemerdekaan RI ini, diharapkan menjadi momentum yang tepat untuk menjalankan pertobatan nasional.

"Dengan hasil 'training' Ramadhan selama sebulan, dan Insya Allah pada Minggu bersamaan kita berlebaran yang hampir berbarengan waktunya dengan memperingati Hari Proklamasi 17 Agustus, maka sudah selayaknya bangsa Indonesia, terutama para penyelenggara negara dan pemimpinnya, melakukan pertobatan nasional dari melakukan dosa atau maksiat personal, sosial maupun maksiat dalam penyelenggaraan negara," kata Mukri lagi.

Dia mengajak para pemimpin di daerah dan negeri ini, untuk dapat segera menghentikan pengingkaran terhadap amanat para pendiri bangsa.

"Stop mengingkari amanat para pendiri bangsa, marilah wujudkan keadilan dan pemerataan," ujar mantan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Lampung itu, menegaskan.

Mukri berharap, ke depan para pemimpin akan dapat lebih mendengarkan suara rakyat, bersedia bekerja keras, untuk memberikan dedikasi yang terbaik.

Ia juga berharap, masyarakat dan rakyat Indonesia, diminta tetap bersabar, jangan hanya bisa marah dan bertindak anarkis.

"Insya Allah bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa yang besar dan disegani," kata dia.

Dia mengingatkan bahwa makna peringatan Kemerdekaan RI yang tahun ini saat Ramadhan dan berdekatan dengan Idul Fitri, hendaknya menjadi momentum yang baik guna menjalankan pertobatan nasional tersebut.

Upaya itu sangat diperlukan, mengingat saat ini di tengah masyarakat muncul berbagai problem kemerosotan moral dan akhlak umat, kondisi penegakan hukum dan pelaksanaan pemerintahan sebagai dampak otonomi daerah memberikan imbas negatif.

Masyarakat banyak secara sosial diingatkan untuk tidak mengedepankan aksi massa dalam menghadapi berbagai problematika, tidak lagi bertindak anarkis dengan membakar/membunuh pelaku tindak kriminal dan diharapkan tidak lagi terjadi kerusuhan, ujar dia.

Namun, para pemimpin juga dituntut untuk benar-benar serius membuktikan upaya penanganan korupsi serta terus mengatasi kemiskinan dan kemelaratan yang belum juga tuntas dijalankan sampai kini, kata Mukri lagi.

Dr Yuswanto SH MH, dosen Fakultas Hukum, Ketua Program Pascasarjana FH Unila menyatakan, 67 tahun silam ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan RI bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 Hijriah.

Kini, setelah 67 tahun berlalu, peringatan Hari Kemerdekaan itu bertepatan dengan 28 Ramadhan 1433 Hijriah, kata dia.

"Dulu Soekarno-Hatta mengisi Kemerdekaan itu dengan membangun bangsa menjadi Indonesia baru yang hadir dalam percaturan dunia," ujar Yuswanto lagi.

Kini, Indonesia sudah besar yang penuh dengan dinamika dan aneka warna. Persoalan yang dihadapi kini sudah jauh berbeda dengan Indonesia dahulu, kata dia.

Oleh sebab itu, peringatan Hari Kemerdekaan kali ini dijadikan momentum untuk membangun Indonesia masa kini yang maju, berdaya saing tinggi, sejahtera, berbudaya, dan bermoral.

Karena itu, program mengentaskan kemiskinan harus dilakukan lebih seksama, memberantas korupsi lebih serius, konsisten dalam pelaksanaan "clean government" dan "good governance", fokus pada demokratisasi dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia kini tidak hanya butuh pemimpin yang pintar, tapi juga yang bermoral agar "baldhatun toyyibatun warobbun ghofur" dapat tercapai dengan baik.

Semua itu butuh keseriusan kita bersama, ujar Yuswanto menegaskan pula.

Hampir pasti, tradisi mudik itu tak akan pernah hilang dari masyarakat Indonesia, sehingga sepatutnya mendapatkan balasan setimpal dari pemegang mandat kebijakan di negeri ini, untuk memberikan pelayanan terbaik, praktis, murah, nyaman dan juga aman sampai ke tujuan.




Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026