
Sudan dan Sudan Selatan Harus Tarik Pasukannya

Addis Ababa (ANTARA/AFP) - Uni Afrika (AU), Selasa, meminta Sudan dan Sudan Selatan menarik pasukan masing-masing dari wilayah perbatasan yang disengketakan, Abyei.
"Uni Afrika menegaskan kembali tuntutannya bahwa 300 personil (Angkatan Bersenjata Sudan) di Abyei dan 700 personil polisi Sudan Selatan ... segera dan tanpa syarat ditarik keluar dari daerah Abyei, "kata AU dalam satu pernyataan, Selasa malam.
"Uni Afrika terus prihatin dengan perang antara Sudan dan Sudan Selatan, dan mencatat dengan cermat terkait eskalasi operasi militer, " kata pernyataan itu lebih lanjut.
Abyei adalah salah satu dari beberapa wilayah perbatasan yang diperebutkan dan pertempuran telah meletus sejak Sudan Selatan memisahkan diri dari bagian utara pada Juli lalu.
Pasukan Khartoum mengendalikan Abyei, meskipun pasukan PBB yang terdiri dari sekitar empat ribu pasukan perdamaian Ethiopia diberi mandat untuk untuk memastikan demiliterisasi di wilayah itu.
Abyei dijadwalkan menggelar referendum pada Januari 2011, apakah kawasan itu akan menjadi bagian dari utara atau selatan, tetapi pemungutan suara itu tertunda terkait dengan ketidaksepakatan tentang kelayakan pemilih.
Loyalities di daerah tersebut tetap terbagi dan sengketa tanah membuat ketegangan cukup tinggi.
Kedua belah pihak menandatangani perjanjian perdamaian pada bulan Juni 2011, yang telah dilanggar berulang kali dalam beberapa bulan terakhir. Uni Afrika menyebut bentrokan terakhir di Abyei sebagai "tidak dapat diterima" dan mendesak kedua belah pihak untuk mematuhi pakta keamanan.
"Uni Afrika menyeru kepada kedua negara untuk mengambil langkah segera guna mengurangi ketegangan, dan bertindah penuh tanggung jawab berdasarkan semangat kerja sama dalam upaya mewujudkan dua negara yang stabil."
Kekerasan telah meningkat di sepanjang perbatasan kaya minyak yang diperebutkan dalam beberapa pekan terakhir, dengan pertempuran paling intens terjadi di Heglig. Ini adalah pertempuran antara kedua negara yang terburuk sejak Juba merdeka.
Uni Afrika mengatakan infrastruktur minyak harus dihormati dan mendesak kedua pihak untuk melucuti senjata masing-masing di daerah yang disengketakan serta menghormati perbatasan tahun 1956, yang dibuat ketika Sudan merdeka dari Inggris.
Presiden Sudan Selatan Salva Kiir dan timpalannya dari utara Omar al-Bashir dijadwalkan melakukan pertemuan puncak bulan ini namun pertemuan itu telah dibatalkan seiring dengan meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
