
Berharap Konflik Gajah dan Manusia Mereda

Sukadana (ANTARA LAMPUNG) - Taman Nasional Way Kambas merupakan kawasan hutan suaka margasatwa bagian dari wilayah Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, yang kerap menjadi salah satu daerah "konflik" antara gajah dan manusia.
Kawasan yang berjarak sekitar 115 kilometer dari Kota Bandarlampung, dengan luas 125.621,3 kilometer persegi itu, bersinggungan langsung dengan ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan penduduk di enam kecamatan penyangga yang merupakan lokasi "konflik" selama ini.
Kepala Bagian Humas Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) Sukatmoko, di Sukadana, baru-baru ini mengatakan, pihaknya berupaya untuk meminimalisasi terjadinya konflik itu pada tahun 2012 dengan melibatkan semua pihak terkait.
Ia mengatakan, penduduk di daerah penyangga yakni Kecamatan Sukadana, Waybungur, Brajaselebah, Wayjepara, Labuhanratu dan Purbolinggo sebagian besar petani dan pekebun. Tanaman mereka-lah yang menjadi sasaran kawanan gajah dan satwa liar lain dari hutan.
Kelompok hewan tersebut lebih memilih tanaman pertanian penduduk karena tersedia untuk dikonsumsi dalam jumlah besar dibandingkan dengan mencari pakan di dalam hutan," katanya.
Ia menyebutkan, telah terjadi beberapa kali "konflik" antara gajah dan manusia, meskipun satu tahun lalu pihaknya membuat kanal di sepanjang perbatasan antara hutan dengan perkebunan warga.
Menurutnya, konflik ini menimbulkan kerugian besar bagi petani karena kawanan gajah merusak tanaman perkebunan dan pertanian warga sementara tanaman itu tumpuan pendapatan dan kesejahteraan penduduk.
Penduduk setempat mengalami kerugian besar saat "konflik" yang terjadi selama ini karena kawanan gajah berkali-kali ke luar kawasan, katanya.
Selain konflik itu, kawasan hutan yang berbatasan perladangan penduduk daerah penyangga juga kerap terbakar terutama pada saat saat musim kemarau seperti beberapa bulan lalu.
Terbakarnya, kawasan hutan disebabkan titik api dari perladangan karena petani banyak yang membakar lahan hingga merambat ke dalam kawasan hutan sementara kondisi hutan kondisi hutan banyak semak belukar dan daun kering.
"Kebakaran terjadi berkali-kali yang menghanguskan ratusan hektare kawasan hutan di perbatasan pada musim kemarau lalu," katanya.
Selain pembakaran lahan, katanya, pemicu titik api berasal dari para pemancing atau penggembala serta perambah hutan yang dengan sengaja membuat titik api, sehingga percikan api merambat ke kawasan hutan.
Para pemburu juga dengan sengaja membakar padang ilalang agar tumbuh ilalang muda untuk titik perburuan karena biasanya kijang atau rusa suka merumput di padang ilalang muda.
"Pemburu lebih mudah memburu satwa dilindungi tanpa harus mencari ke dalam hutan," katanya.
Pencegahan dan Perlindungan
Menurut Sukatmoko, pihaknya akan berupaya melakukan pencegahan sekaligus tetap melindungi hutan dan satwa dilindungi bersama pihak dinas kehutanan dan masyarakat untuk saling membantu dalam meredakan konflik antara gajah dan manusia itu.
Lalu, salah satu upaya paling efektif meredam konflik adalah perubahan pola tanam petani di daerah penyangga taman karena sebagian besar petani menanam tanaman semusim yang disukai oleh kawanan gajah.
"Keberadaan tanaman pertanian tidak mustahil selalu menjadi sasaran kawanan gajah liar," katanya.
Ia menjelaskan, petani di daerah penyangga masih mengandalkan tanaman semusim untuk meningkatkan pendapatan seperti jagung, padi, umbi-umbian, sayuran, dengan luas mencapai ribuan hektare.
Kemudian, selama ini hal ini menjadi salah satu pemicu konflik karena di hutan kawanan gajah harus mencari makan, sementara di lahan pertanian penduduk tersedia dalam jumlah besar untuk dikonsumsi gajah.
"Kawanan gajah yang sudah terbiasa manja dengan makanan itu dan kembali terus-menerus meskipun selalu dihalau kembali ke hutan," jelasnya.
Ia berharap, petani beralih pola tanam dengan menanam menanam tanaman yang tidak disukai oleh kawanan gajah sehingga konflik gajah dengan manusia dapat diminimalkan tahun depan.
Selain itu, pihaknya akan membentuk pam swakarsa atau pengamanan dari kalangan masyarakat yang tinggal di daerah penyangga agar berperan aktif menjaga dan melindungi satwa liar langka itu.
"Masyarakat yang terlibat ini juga menjaga agar kawanan gajah tidak masuk ke lahan pertanian dan permukiman warga," katanya.
Selanjutnya, pam swakarsa sangat efektif dan efisien untuk membantu mencegah konflik gajah dengan manusia dan menjaga kelestarian ekositem di dalam kawasan hutan tersebut.
Ia mengharap, masyarakat itu juga ikut berpartisipasi menjaga kawasan hutan dari para perambah hutan dan juga pemburu satwa dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya.
Kemudian, mereka akan diperkuat dengan petugas patroli gajah yang akan berpatroli rutin terutama jalur-jalur kawanan gajah liar keluar kawasan hutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Lampung Timur, Edwin Bangsaratoe, mengatakan untuk membantu mengatasi konflik gajah dengan manusia pihaknya bekerja sama dengan investor dari Jepang menanam jarak kepyar atau jarak rambut di daerah penyangga taman nasional itu.
"Petani setempat lebih banyak menanam tanaman semusim sehingga sering menjadi sasaran pengrusakan oleh kawanan gajah liar yang mencari makan keluar hutan," terangnya.
Ia mengatakan, penanaman ini akan melibatkan petani di 22 desa di enam kecamatan penyangga taman nasional bersama pam swakarsa dan forum petani rembug setempat.
Edwin mengharapkan, upaya ini dapat membantu menekan atau meminimalisasi terjadinya konflik antar gajah dengan menusia sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Ia juga mengatakan, untuk melindungi kawasan hutan dari perburuan dan kebakaran pihaknya bekerjasama dengan masyarakat.
Selain itu, pihaknya juga memeriksa semua orang yang keluar masuk hutan dan jika gerak-geriknya mencurigakan karena dikhawatirkan pemburu liar dan yang sering membakar kawasan hutan.
Ia menambahkan, di sekitar TNWK terdapat perkebunan atau lahan pertanian warga sehingga aktivitas keluar masuk di sekitar hutan sangat tinggi.
"Semua yang keluar masuk TNWK harus dengan alasan dan tujuan jelas," tegasnya.
Tempat tujuan wisata
Kepala Kantor Penanaman Modal Lampung Timur Mulayanda mengatakan, Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu lokomotif pembangunan sektor pariwisata di daerah itu.
Menurutnya semua pihak perlu berpartisipasi mendukung kelestarian dan pengembangan kawasan wisata alam itu agar dapat menjadi salah satu pemacu peningkatan roda perekonomian penduduk.
Ia mengatakan, pihaknya membutuhkan investor yang berminat menanamkan modal untuk mengembangkan Way Kambas guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke tempat itu.
"Pengembangan ini untuk meningkatkan daya tarik terhadap para wisatawan dalam dan luar negeri," katanya.
Ia mengatakan, pihaknya membutuhkan campur tangan investor atau pihak ke tiga guna menambah sejumlah aktivitas pendukung agar wisatawan lebih nyaman dan aman berada berkunjung ke daerah itu.
"Fasilitas yang dibutuhkan berupa kemudahan akses transportasi, hotel atau penginapan dan berbagai wahana kreasi agar lebih menarik," ujar dia.
Menurutnya, taman nasional itu sangat potensial dikembangkan agar jumlah wisatawan yang berkunjung terus meningkat karena sudah dikenal sampai mancanegara.
Selain itu, semakin meningkatnya kunjungan wisatawan juga akan berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat terutama yang tinggal di sekitar kawasan taman nasional tersebut.
"Kami harap taman nasional itu dapat menjadi salah satu tempat tujuan wisata di Provinsi Lampung," katanya.
Kemudian, di luar kawasan konservasi itu terdapat berbagai objek wisata pendukung yang menarik, seperti pusat latihan gajah, penangkaran badak Sumatera, dan Kawasan Resort Suaka Rhino Way Kanan serta satwa liar lain.
Ia mengharapkan, pemkab terus menggencarkan promosi wisata ini, untuk meningkatkan minat investor yang ingin menanamkan modalnya di sekitar taman nasional itu.
Mulyanda melanjutkan, kawasan taman nasional terdapat puluhan gajah jinak yang telah dilatih untuk berbagai atraksi dan dapat dipergunakan untuk bersafari melihat berbagai jenis satwa liar.
Selain itu, sekitar kawasan ini juga akan dijadikan sebagai kawasan agrowisata atau wisata pertanian karena terdapat berbagai jenis buahan-buahan seperti pisang cavendish dan durian montong dengan produksi melimpah.
Ia berharap, kawasan wisata Way Kambas berkembang pesat dengan meningkatnya kunjungan wisatawan yang akan berdampak pada kesejahteraan penduduk sekitar dan memacu percepatan pembangunan di Kabupaten Lampung Timur.
Pewarta : Kristian Ali
Editor:
Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
