Bandarlampung (ANTARA) - Badan Gizi Nasional (BGN) menekankan kepada pihak terkait agar menguatkan rantai pasok dari masing-masing daerah guna memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pentingnya kesamaan pemahaman seluruh pihak yang terlibat, mulai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra, hingga satuan tugas (Satgas), guna memastikan program berjalan optimal dan berdampak langsung pada perekonomian daerah dengan menguatkan rantai pasok," kata Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya di Bandarlampung, Sabtu.
Ia menyampaikan bahwa saat ini di Lampung telah terbentuk sekitar 1.000 SPPG, jumlah tersebut dapat menjadi potensi besar yang harus dikelola secara terintegrasi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan rantai pasok bahan pokok setiap harinya.
“Dengan lebih dari 1.000 SPPG yang beroperasi, kebutuhan bahan pangan tentu sangat besar. Ini bukan hanya tanggung jawab Badan Gizi Nasional (BGN), tetapi juga harus menjadi perhatian pemerintah daerah," kata dia.
Menurutnya, Lampung memiliki potensi komoditas pisang yang melimpah dan ini tidak menjadi masalah, namun untuk kebutuhan lain seperti telur dan daging, hal perlu dipastikan kecukupannya dari dalam daerah.
"Apabila bahan pokok masih didatangkan dari luar provinsi, maka alokasi anggaran dari pemerintah pusat yang seharusnya berputar di Lampung justru mengalir ke daerah lain," kata dia.
Menurut dia, tujuan utama program MBG tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyerapan produk pertanian dan peternakan setempat.
“Jangan sampai kebutuhan telur atau daging justru dipasok dari provinsi lain, karena Lampung tidak menyiapkan. Itu sama saja aliran anggaran keluar dari daerah,” katanya.
Sony juga menyoroti peran pemerintah daerah dalam pengawasan operasional SPPG, khususnya terkait pengelolaan limbah dan potensi pencemaran lingkungan.
"Sehingga, setiap SPPG diwajibkan memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan setempat. Penerbitan sertifikat tersebut diawali dengan proses pengawasan dan pemeriksaan untuk memastikan standar kebersihan dan sanitasi terpenuhi," kata dia.
Ia berharap keberadaan SPPG jangan sampai menimbulkan persoalan baru, seperti pencemaran lingkungan, sehingga pengelolaan sisa makanan dan limbah harus menjadi perhatian serius.
"Apabila pengelolaan limbah dilakukan dengan baik, bukan tidak mungkin ke depan kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah semakin meningkat, sehingga dapat mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA)," kata dia.
Ia menegaskan kembali bahwa tujuan utama MBG adalah memastikan balita, ibu hamil dan menyusui, serta peserta didik sebagai penerima manfaat memperoleh asupan gizi optimal.
"Hal itu hanya dapat terwujud apabila SPPG beroperasi sesuai spesifikasi teknis dan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Jika spesifikasi teknis dipenuhi, SOP dijalankan dengan baik, serta ada kolaborasi antara kepala SPPG dan mitra, insya Allah tidak akan terjadi kejadian menonjol terkait konsumsi MBG,” katanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BGN tekankan penguatan rantai pasok penuhi kebutuhan MBG