Bandarlampung (ANTARA) - Institut Teknologi Sumatera (Itera) berkolaborasi dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menggelar seminar nasional mengkaji upaya pencegahan kemerosotan biodiversitas Bukit Barisan di Pulau Sumatera, melalui perkebunrayaan.

Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid, di Aula Gedung Kuliah Umum 1 Itera, beberapa waktu lalu tersebut, menghadirkan narasumber para peneliti dan ilmuwan dari AIPI, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), akademisi Itera, dan perwakilan pemerintah daerah di Sumatera.

Rektor Itera Prof I Nyoman Pugeg Aryantha menyampaikan komitmen Itera menggandeng AIPI sebagai organisasi ilmuwan terkemuka di Indonesia, untuk menanamkan tradisi keilmuan yang kuat di Kampus Itera.

Kerja sama perdana dengan AIPI yang melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) dan UPT Konservasi Flora Sumatera/Kebun Raya Itera, menitikberatkan peran perguruan tinggi dan para ilmuwan, untuk ikut menyelamatkan kelestarian biodiversitas Sumatera, khususnya di kawasan Bukit Barisan sebagai kekayaan alam Sumatera.

Rektor menambahkan, wujud komitmen Itera menjaga biodiversitas Sumatera, salah satunya dengan membangun kebun raya. Saat ini Kebun Raya Itera telah menjalankan lima fungsi utama, yaitu konservasi, edukasi, penelitian, wisata, dan jasa lingkungan.

Di Kebun Raya Itera dilakukan konservasi aneka flora Sumatera, termasuk hasil dari eksplorasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Lampung, sebagai koleksi spesies khas Sumatera. Nantinya aneka spesies yang diambil langsung dari alam tersebut akan diidentifikasi bersama dengan para ilmuwan AIPI.

“Itera sejak awal dibangun sebagai kampus modern masa depan, yang menjaga kelestarian alam. Kebun raya menjadi salah satu strategi untuk menyelamatkan kelestarian biodiversitas Sumatera,” ujar Rektor.

Ketua AIPI Prof Daniel Murdiyarso menyebut, topik kajian yang dibahas dalam seminar tersebut penting untuk menentukan strategi mempertahankan kelestarian biodiversitas Sumatera. Biodiversitas yang dimaksud mencakup spesies hewan, tumbuhan, dan habitat khas yang perlu dilindungi di kawasan Bukit Barisan, Sumatera.

”Biodiversitas Bukit Barisan sangat besar, unik, dan tidak bisa dibuat lagi, akan tetapi bisa dipertahankan, dan dipelihara,” ujar Prof Daniel.

Kolaborasi dengan Itera yang telah memiliki kebun raya, menurut Prof Daniel, sangat tepat dalam menjaga megabiodiversitas Sumatera. Untuk itu, semua pihak diharapkan dapat mendukung pembangunan Kebun Raya Itera, yang diharapkan semakin banyak memiliki koleksi, hingga menjadi ikon Provinsi Lampung, dan Sumatera.

Kepala Bappeda Provinsi Lampung Mulyadi Irsan menyampaikan, menjaga biodiversitas di kawasan TNBBS selaras dengan visi dan misi Gubernur Lampung dalam mengupayakan pembangunan berkelanjutan.

Melalui seminar yang melibatkan para ilmuwan dan peneliti, Gubernur Lampung berharap akan mendapatkan masukan, terkait strategi yang perlu dilakukan guna menjaga kekayaan alam Provinsi Lampung, dan Sumatera. Hal tersebut nantinya penting sebagai acuan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Lampung 2024-2045. 

“Biodiversitas yang terjaga dengan baik merupakan fondasi untuk semua kehidupan, baik di darat, laut, dan udara yang akan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia,” ujar Mulyadi.

Dalam sesi seminar, dipaparkan berbagai kajian dan hasil riset terkait upaya menjaga biodiversitas di Indonesia. Sebagai pengantar, Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar AIPI Prof Terry Mart mambawakan materi jalan sunyi menuju ilmuwan. Selain itu disampaikan materi seputar Berkenalan dengan  Schizostachyum spp, potensi dan ancaman buluh asli Sumatera oleh dosen Biologi Itera Yeni Rahayu,

Materi seputar pengembangan kebun raya kampus demi pemapanan Tri-Darma-Bakti Itera dibawakan oleh KIPD AIPI Prof Mien Rifai, sementara perwakilan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memaparkan Kebijakan KLHK dalam melindungi biodiversitas Sumatera.

Sebagai salah satu praktik pemerintah daerah di Sumatera, Ketua Badan Pengelola Geopark Silokek Ranah Minang, Kabupaten Sijunjung Zefnihan mengulas upaya Badan Pengelola Geopark Ranah Minang Silokek dalam melestarikan keragaman hayati di kawasan geopark.

Terakhir dosen Rekayasa Kehutanan Itera Sena Maulana menjabarkan pemanfaatan dan pengembangan bambu sebagai salah satu solusi mengatasi degradasi hutan alam.
Baca juga: Rektor: Dies Natalis ke-9 Itera momentum tingkatkan kualitas SDM sains
Baca juga: Gubernur Arinal hadiri sidang terbuka dalam rangka Dies Natalis Itera ke-9


Pewarta : Emir Fajar Saputra
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2024