Jakarta (ANTARA) - Penyanyi cilik yang kini beranjak dewasa, Geofanny Tambunan kembali ke dunia musik setelah 18 tahun rehat melalui mini album berjudul "Tingki" yang dirilis belum lama ini.

Seperti dikutip dari siaran pers, Senin, mini album ini hadir setelah sang penyanyi sempat mengalami depresi berat karena banyak hal yang terjadi di hidupnya. Ini menjadi karya demi membuat hidupnya lebih bermakna.

Kata "Tingki" (dibaca: ti-kki) diambil dari bahasa batak yang artinya waktu. Di sini, Geofanny ingin berbagi cerita jalur waktu yang terinspirasi dari ilmu Matematika tentang urutan angka.

Geofanny menghadirkan empat lagu dalam mini album bergenre pop itu. Tiga di antaranya yakni "Peluk", "Menunggu Keajaiban" dan "Poda" hasil recycle, sementara satu lagu lainnya, "Jarak" merupakan lagu baru.

Dia bekerja sama dengan sejumlah musisi seperti Pongki Barata, Dewi "Dee" Lestari, Tagor Tampubolon, Yessi Kristianto, Amal Bhaskara, Natasha Chairani, Ronald Silitonga & Chicha Adzhari, serta dukungan dari Rio Exo, Aditya Narendra dan Dimas Pradipta.

Keempat lagu ini berkisah mengenai fase-fase tentang relasi kepada orang-orang yang Geofanny cintai, baik itu kekasih ataupun orang tua. Dia berharap "Tingki" bisa menjadi media curahan hati untuk para penikmat musik yang pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya.

Geofanny Tambunan dulu mulai dikenal publik saat berduet dengan Saskia, dan membawakan lagu-lagu ciptaan Titiek Puspa seperti "Menabung", "Aku Suka Musik", "Marilah Kemari", dan "Apanya Dong"


Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024