Masyarakat Uganda manfaatkan limbah pisang sebagai karpet
Minggu, 18 April 2021 6:44 WIB
Pekerja membuat karpet dari serat limbah pisang di Texfad, Mukono dekat Kampala, Uganda, 3 April 2021 (REUTERS/ABUBAKER LUBOWA)
Jakarta (ANTARA) - Masyarakat Uganda biasanya makan banyak pisang. Kini, perusahaan rintisan lokal berinovasi membuat bagian tanaman yang biasa dibuang agar lebih bernilai.
TexFad memanfaatkan serat pisang alami untuk menghasilkan barang-barang ramah lingkungan seperti karpet dan hair extension yang dapat terurai secara alami.
Ketika petani mengambil pisang dari pohonnya, mereka biasanya meninggalkan batang yang besar dan bulat yang akan membusuk dan dibuang. TexFad mengekstraksi serat dari bagian batang yang biasanya dibakar atau dibuang oleh petani.
"Ketika saya melihat sekeliling, saya melihat bahwa pisang tumbuh subur di negara ini ... kami menghasilkan banyak limbah dari kebun pisang," kata Kimani Muturi, direktur pelaksana dan pendiri TexFad seperti dikutip dari Reuters.
TexFad sedang bereksperimen dengan berbagai penggunaan serat pisang, memproduksi karpet dan produk hair extension untuk pasar, kata Muturi.
"Hair extension yang kami buat sangat mudah terurai secara alami," katanya. "Setelah digunakan, para kaum hawa akan mencopot dan menguburnya di tanah dan itu akan menjadi pupuk kandang untuk tumbuhan mereka."
TexFad juga sedang menguji proses pembuatan serat pisang sehalus kapas sehingga bisa digunakan untuk pembuatan pakaian.
Baru-baru ini di pabrik TexFad di Mukono, sebelah timur ibu kota Kampala, para pemuda menumpuk batang pohon pisang sebelum membelahnya menjadi dua dengan parang dan memasukkannya ke dalam mesin.
Dari situ tercipta serat-serat kasar panjang yang dijejer untuk dikeringkan sebelum diproses dan digunakan untuk membuat karpet dan hair extension.
Muturi memperkirakan TexFad akan membuat 2.400 karpet tahun ini, lebih dari dua kali lipat produksi tahun lalu sehingga meningkatkan pendapatan. Perusahaan, yang memiliki 23 karyawan, menghasilkan sekitar 41.000 dolar AS tahun lalu, angka penjualan terbaik sejak rintisan itu diluncurkan pada 2013.
Perusahaan itu akan mengekspor karpet untuk pertama kalinya pada bulan Juni, ke pelanggan di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada.
Muturi berpendapat, bahan organik yang ringan dapat menggantikan beberapa serat sintetis dan digunakan untuk membuat produk kertas seperti uang kertas di antara berbagai kemungkinan pemanfaatan.
Serat pisang adalah serat masa depan, katanya.
TexFad memanfaatkan serat pisang alami untuk menghasilkan barang-barang ramah lingkungan seperti karpet dan hair extension yang dapat terurai secara alami.
Ketika petani mengambil pisang dari pohonnya, mereka biasanya meninggalkan batang yang besar dan bulat yang akan membusuk dan dibuang. TexFad mengekstraksi serat dari bagian batang yang biasanya dibakar atau dibuang oleh petani.
"Ketika saya melihat sekeliling, saya melihat bahwa pisang tumbuh subur di negara ini ... kami menghasilkan banyak limbah dari kebun pisang," kata Kimani Muturi, direktur pelaksana dan pendiri TexFad seperti dikutip dari Reuters.
TexFad sedang bereksperimen dengan berbagai penggunaan serat pisang, memproduksi karpet dan produk hair extension untuk pasar, kata Muturi.
"Hair extension yang kami buat sangat mudah terurai secara alami," katanya. "Setelah digunakan, para kaum hawa akan mencopot dan menguburnya di tanah dan itu akan menjadi pupuk kandang untuk tumbuhan mereka."
TexFad juga sedang menguji proses pembuatan serat pisang sehalus kapas sehingga bisa digunakan untuk pembuatan pakaian.
Baru-baru ini di pabrik TexFad di Mukono, sebelah timur ibu kota Kampala, para pemuda menumpuk batang pohon pisang sebelum membelahnya menjadi dua dengan parang dan memasukkannya ke dalam mesin.
Dari situ tercipta serat-serat kasar panjang yang dijejer untuk dikeringkan sebelum diproses dan digunakan untuk membuat karpet dan hair extension.
Muturi memperkirakan TexFad akan membuat 2.400 karpet tahun ini, lebih dari dua kali lipat produksi tahun lalu sehingga meningkatkan pendapatan. Perusahaan, yang memiliki 23 karyawan, menghasilkan sekitar 41.000 dolar AS tahun lalu, angka penjualan terbaik sejak rintisan itu diluncurkan pada 2013.
Perusahaan itu akan mengekspor karpet untuk pertama kalinya pada bulan Juni, ke pelanggan di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada.
Muturi berpendapat, bahan organik yang ringan dapat menggantikan beberapa serat sintetis dan digunakan untuk membuat produk kertas seperti uang kertas di antara berbagai kemungkinan pemanfaatan.
Serat pisang adalah serat masa depan, katanya.
Pewarta : Nanien Yuniar
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Agar tak kena wasir, dokter sarankan konsumsi serat dan Jangan mengejan saat BAB
02 December 2021 18:58 WIB, 2021
Ternyata konsumsi serat yang cukup dapat hindari risiko kanker usus besar
09 September 2021 21:38 WIB, 2021
Kata dokter sebaiknya anak di bawah 2 tahun jangan diberi serat terlalu banyak
30 July 2021 5:54 WIB, 2021
Nissan kembangkan mobil berbahan serat karbon seperti digunakan di pesawat
08 September 2020 10:49 WIB, 2020
Presiden Jokowi harap pengusaha tekstil berhati-hati datangnya resesi global
16 September 2019 15:35 WIB, 2019
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kapal induk USS Abraham Lincoln siap lakukan operasi ke Iran dalam 1-2 hari
27 January 2026 9:55 WIB