Keterlibatan travel agent bisa gerakkan geliat pariwisata
Sabtu, 3 April 2021 5:41 WIB
Ilustrasi (Pexels)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) Anton Sumarli mengatakan bahwa melibatkan kehadiran agen perjalanan (travel agent) dianggap bisa mendorong geliat pariwisata Indonesia.
Menurut Anton, hal tersebut bisa mendorong sektor pariwisata secara luas, mengingat di dalam sebuah perjalanan wisata dengan menggunakan jasa agen perjalanan juga melibatkan elemen pariwisata lain seperti pemandu (tour guide), sopir, restoran yang disinggahi, dan lain sebagainya.
"Kami berharap kepada pemerintah untuk tolong juga perhatikan travel industry dan agent. Kalau kita bicara soal industri dan agen, kita punya teman-teman guide, restoran, sopir, komponen bus pariwisata di daerah... Efek dominonya akan berdampak dan mendorong ekonomi Indonesia. Sehingga baik untuk buat kebijakan yang cukup bersahabat dengan kami," kata Anton kepada ANTARA pada Jumat.
Ia kemudian memberikan contoh negara yang secara langsung melibatkan kehadiran agen perjalanan untuk menggerakkan pariwisata lokal, salah satunya adalah negeri jiran, Malaysia.
Mengutip dari TTG Asia, pemerintah Malaysia mewajibkan mereka yang beriwisata di wilayah dengan RMCO (recovery movement control order) seperti Perlis, Melaka, Pahang, Terengganu, Sabah, Putrajaya dan Labuan, harus menggunakan agen travel terdaftar, dan perusahaan harus mendapatkan persetujuan dari polisi sebelum melakukan perjalanan.
Perjalanan antarwilayah bagian dengan kapasitas pribadi masih tidak diperbolehkan.
"Kondisi di Indonesia berbeda dengan Malaysia. Kebanyakan behavior masyarakat lebih direct untuk beli via OTA (Online Travel Agency/Agen Perjalanan Daring), memilih booking dan beli sendiri," kata Anton.
"Di Malaysia, pemerintahnya mewajibkan mereka yang berlibur untuk menggunakan jasa travel agent. Kalau menggunakan jasa travel, akan membantu ekonomi juga. Agent dampaknya banyak, ada variabel-variabel lain seperti guide, restoran, dan efek dominonya juga dapat," imbuhnya.
Anton kemudian berharap para pelaku bisnis di sektor pariwisata, pemerintah, dan masyarakat sebagai wisatawan bisa terus patuh menerapkan protokol kesehatan, dan harus diawasi secara ketat demi mencegah transmisi penyebaran virus corona (COVID-19).
"Kita tidak mau ada lonjakan sampai belasan ribu seperti libur panjang Natal 2020 dan tahun baru 2021 kemarin. Sehingga mengatur liburan dengan pembatasan dan protokol ketat di tempat-tempat wisata," kata Anton.
"Disiplin dari pelaku industri dan masyarakat, semuanya harus mulai sadar diri. Sehingga nanti pandemi selesai, tidak ada yang terpapar dan bisnis yang terkapar," pungkasnya.
Menurut Anton, hal tersebut bisa mendorong sektor pariwisata secara luas, mengingat di dalam sebuah perjalanan wisata dengan menggunakan jasa agen perjalanan juga melibatkan elemen pariwisata lain seperti pemandu (tour guide), sopir, restoran yang disinggahi, dan lain sebagainya.
"Kami berharap kepada pemerintah untuk tolong juga perhatikan travel industry dan agent. Kalau kita bicara soal industri dan agen, kita punya teman-teman guide, restoran, sopir, komponen bus pariwisata di daerah... Efek dominonya akan berdampak dan mendorong ekonomi Indonesia. Sehingga baik untuk buat kebijakan yang cukup bersahabat dengan kami," kata Anton kepada ANTARA pada Jumat.
Ia kemudian memberikan contoh negara yang secara langsung melibatkan kehadiran agen perjalanan untuk menggerakkan pariwisata lokal, salah satunya adalah negeri jiran, Malaysia.
Mengutip dari TTG Asia, pemerintah Malaysia mewajibkan mereka yang beriwisata di wilayah dengan RMCO (recovery movement control order) seperti Perlis, Melaka, Pahang, Terengganu, Sabah, Putrajaya dan Labuan, harus menggunakan agen travel terdaftar, dan perusahaan harus mendapatkan persetujuan dari polisi sebelum melakukan perjalanan.
Perjalanan antarwilayah bagian dengan kapasitas pribadi masih tidak diperbolehkan.
"Kondisi di Indonesia berbeda dengan Malaysia. Kebanyakan behavior masyarakat lebih direct untuk beli via OTA (Online Travel Agency/Agen Perjalanan Daring), memilih booking dan beli sendiri," kata Anton.
"Di Malaysia, pemerintahnya mewajibkan mereka yang berlibur untuk menggunakan jasa travel agent. Kalau menggunakan jasa travel, akan membantu ekonomi juga. Agent dampaknya banyak, ada variabel-variabel lain seperti guide, restoran, dan efek dominonya juga dapat," imbuhnya.
Anton kemudian berharap para pelaku bisnis di sektor pariwisata, pemerintah, dan masyarakat sebagai wisatawan bisa terus patuh menerapkan protokol kesehatan, dan harus diawasi secara ketat demi mencegah transmisi penyebaran virus corona (COVID-19).
"Kita tidak mau ada lonjakan sampai belasan ribu seperti libur panjang Natal 2020 dan tahun baru 2021 kemarin. Sehingga mengatur liburan dengan pembatasan dan protokol ketat di tempat-tempat wisata," kata Anton.
"Disiplin dari pelaku industri dan masyarakat, semuanya harus mulai sadar diri. Sehingga nanti pandemi selesai, tidak ada yang terpapar dan bisnis yang terkapar," pungkasnya.
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi ringkus pemilik agen travel karena gelapkan uang KKL 106 mahasiswa Unila
01 November 2024 18:42 WIB, 2024
Polda Lampung hadirkan saksi ahli dalam sidang praperadilan 13 kilogram sabu
17 January 2024 11:53 WIB, 2024
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022