Bandarlampung (ANTARA) - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini kagum dengan keberadaan Taruna Siaga Bencana (Tagana), karena kerja mereka nyata dirasakan oleh masyarakat tanpa pamrih.

“Pertama kali, saya menjadi saksi bagaimana para Tagana di berbagai daerah menjadi orang yang pertama saat terjadi bencana. Mereka bekerja dalam sepi, tidak ada orang yang meliput, tidak ada yang tahu siapa yang bekerja. Tagana seolah tidak ada, tapi Tagana hadir nyata di masyarakat,” kata Risma, di Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat, Rabu.

Mantan Wali Kota Surabaya dua periode itu mengaku setelah menjadi Menteri Sosial semakin mengerti dan memahami keberadaan Tagana luar biasa.

“Terus terang, saat saya di Surabaya, saat itu saya tidak begitu memperhatikan yang namanya Tagana, tapi begitu saya berada di Kementerian Sosial, saya tahu betapa luar biasanya mereka. Mereka bekerja sama dengan BPBD di daerah-daerah, meskipun tanpa suara, mereka ada, meskipun itu bukan daerahnya. Mereka datang dari berbagai kota di sekitar, tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang memerintah. Itulah Tagana yang luar biasa,” katanya pula.

Tagana Indonesia, lanjut Risma, membuktikan bahwa Pancasila ada di tengah masyarakat, karena Tagana membuktikan bahwa dengan gotong royong, maka penyelesaian-penyelesaian masalah seberat apa pun bisa diselesaikan secara gotong royong.

Seringkali, saya ditanya, “Bu, bagaimana makannya? Bagaimana tidurnya?” Tapi siapa yang bekerja di balik Kementerian Soisal adalah para Tagana yang luar biasa."

"Saya seringkali juga melihat mereka menyiapkan tempat tidur para pengungsi, menyiapkan makanan para pengungsi, tapi kemudian, saya tanya, Kamu tidur dimana?, Nggak tahu, Bu, ya nanti tidur di tempat seadanya. Ayo, makan sudah jam sebelas malam, Belum, Bu, belum selesai," ujar Risma lagi.

Itulah Tagana Indonesia yang selama ini sama sekali tidak ada yang mengucapkan terima kasih atau memperhatikan mereka. Karena itu, pada ulang tahun ke-17 saat ini, saya mengucapkan terima kasih sekali kepada seluruh Tagana Indonesia dan salam dari Bapak Presiden Republik Indonesia yang juga sangat memperhatikan seluruh Tagana Indonesia.

Pada ulang tahun ke-17 Tagana ini, Risma mengaku tidak mau hura-hura, tetapi ingin meningkatkan kapasitas para Tagana agar lengkap pengetahuannya.

“Saat saya menjadi Menteri, saya nggak mau hura-hura dulu. Saya ingin mereka dilatih berenang, atau menyelamatkan para korban kalau terjadi bencana di air. Jadi, tolong dilatih,” katanya lagi.

Saya pikir, lanjut Risma, Pak, Bu, mereka mau rekreasi ke Pangandaran. Ternyata dobel, ya rekreasi, ya training untuk penyelamatan di air. "Jadi, saya berharap Tagana semakin lengkap pengetahuannya, bagaimana kalau terjadi bencana di air," ujar Risma.

Yang kedua yang saya dorong adalah kearifan lokal. Para nelayan di Pangandaran saat ini sudah dilatih dan disiagakan kalau terjadi segala sesuatu. Kalau kita mengembangkan kearifan lokal, seperti saat ini, dimana para nelayan dilatih, yang kemudian nanti harus diteruskan kepada seluruh warga untuk bagaimana siaga bencana, katanya pula.

Puncak acara HUT Tagana dihadiri oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata, mantan Menteri KKP yang menjabat Ketua Serikat Nelayan Tradisional Susi Pudjiastuti, Gubernur Jawa Barat yang diwakili Kepala Dinas Sosial Dodo Suhendar, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Pepen Nazaruddin, Direktur Jenderal Penanganan Fakir Miskin Asep Sasa Purnama, Kabadiklit Pensos Syahabuddin, Sekretaris Ditjen Linjamsos Robben Rico, dan Direktur PSKBA M Safii Nasution, Direktur PSKBS Sunarti, dan jajaran pejabat di Kemensos.

Risma juga mengukuhkan 1.000 nelayan Pangandaran menjadi Sahabat Tagana, salah satunya Kasnu (52) yang mengaku bahagia, dan selama ini sudah bersatu dengan Tagana.

“Tadi adalah pengukuhan penanggulangan bencana, jadi kami sebagai nelayan merasa bahagia karena nelayan dengan Tagana itu sudah saling bersatu untuk menolong sesama manusia apabila ada bencana, jadi kami juga sebagai nelayan siap untuk membantu Tagana,” ujar Kasnu.

Karena, lanjutnya, nelayan punya ilmu berenang jadi apabila ada kejadian kita bisa evakuasi ke tempat yang aman, setelah itu apabila ada yeng perlu ditolong kita amankan dengan alat seadanya menggunakan pelampung sambil berenang, tadi juga mendapatkan simbolis bantuan berupa dayung untuk alat bantu perahu karet, karena di sini belum ada perahu karet.

Dalam laporannya, Dirjen Linjamsos Pepen Nazaruddin juga menyampaikan para pemenang perlombaan kecakapan Tagana,

“Kegiatan ini dilaksanakan secara online di tempat kedudukan dengan tema Keposkoan, Logisitk, Dapur Umum, Layanan Dukungan Psikososial dan Shelter,” ujar Dirjen.

Ada juga kegiatan yang dilaksanakan secara offline di Kawasan Cagar Alam Pangandaran dengan melibatkan perwakilan Tagana provinsi seluruh Indonesia yang hadir, yaitu

Water Rescue, Vertical Rescue dan Pertolongan Pertama Gawat Darurat.

“Adapun yang menjadi penilaian adalah pengetahuan dan keterampilan,” kata Dirjen Linjamsos.
Baca juga: Mensos sebut Tagana berperan dalam tanggulangi bencana sosial
Baca juga: Tagana semprot disinfektan dan sosialisasi COVID-19


Pewarta : Emir Fajar Saputra
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2024