Pemerhati ingatkan objek wisata Bukit Puser Angin dikhawatirkan rusak lingkungan
Minggu, 30 Agustus 2020 10:51 WIB
Objek wisata Puser Angin di Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Kudus (ANTARA) - Pemerhati lingkungan dari Universitas Muria Kudus (UMK) yang juga Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Muria Hendy Hendro mengatakan objek wisata baru yakni wisata Bukit Puser Angin yang berada di Kecamatan Jekulo dikhawatirkan merusak lingkungan alam sekitar mengingat kondisinya yang sudah gundul.
Menurut Hendy Hendro di Kudus, Jawa Tengah, Jumat, untuk kondisi saat ini, wisata Bukit Puser Angin dinilai belum memiliki detail engineering design (DED).
"Jika perencanaan tersebut tak kunjung dilakukan, dampak buruk terhadap lingkungan lambat laun bakal terjadi," ujarnya.
Untuk itu, dia berharap, pemerintah maupun masyarakat setempat juga mengimbanginya dengan upaya reboisasi dan penataan drainase.
Pasalnya, lanjut dia, Bukit Puser Angin yang masuk dalam deretan Pegunungan Pati Ayam kondisinya saat ini cukup gundul.
Jika tidak diikuti dengan penguatan lahan, dikhawatirkan bisa berakibat pada sedimentasi, erosi bahkan rawan longsor saat musim penghujan.
"Kalau tidak ditata, dikhawatirkan bisa merusak lingkungan. Hal terpenting jangan sampai mengubah bentang alamnya karena kondisi alam sekitar sedang gundul sehingga erosivitasnya tinggi," ujarnya.
Menurut dia pemerintah bisa ikut turun tangan mengarahkannya sebelum terlambat.
Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma sepakat dengan pendapat Hendy Hendro bahwa di daerah Pegunungan Pati Ayam saat ini memang gundul sehingga perlu ada upaya reboisasi.
Polres Kudus sendiri, lanjut dia, bersama Perhutani dan swasta beberapa waktu yang lalu melakukan penghijauan di Pegunungan Pati Ayam.
"Dalam waktu dekat ini, kegiatan serupa juga akan digelar lagi," ujarnya.
Baca juga: Kemenparekraf dorong semua objek wisata di Kudus terapkan "Gerakan BISA"
Ia mengakui masyarakat memang tengah termotivasi mengembangkan objek wisata tersebut, tetapi di sisi lain ada perbuatan merusak lingkungan.
"Jika memang mau dijadikan tempat wisata, harus ada regulasinya terlebih dahulu karena jika sampai terjadi bencana banjir tentunya repot," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan wisata bukit Puser Angin saat ini tidak dikelola oleh dinas.
Lokasi tersebut, kata dia, tidak termasuk dalam empat zona yang direncanakan untuk pengembangan wisata Bendung Logung karena lahan Bukit Puser Angin tersebut juga milik Perhutani.
Baca juga: Kudus tambah pembukaan objek wisata sesuai protokol kesehatan
Menurut Hendy Hendro di Kudus, Jawa Tengah, Jumat, untuk kondisi saat ini, wisata Bukit Puser Angin dinilai belum memiliki detail engineering design (DED).
"Jika perencanaan tersebut tak kunjung dilakukan, dampak buruk terhadap lingkungan lambat laun bakal terjadi," ujarnya.
Untuk itu, dia berharap, pemerintah maupun masyarakat setempat juga mengimbanginya dengan upaya reboisasi dan penataan drainase.
Pasalnya, lanjut dia, Bukit Puser Angin yang masuk dalam deretan Pegunungan Pati Ayam kondisinya saat ini cukup gundul.
Jika tidak diikuti dengan penguatan lahan, dikhawatirkan bisa berakibat pada sedimentasi, erosi bahkan rawan longsor saat musim penghujan.
"Kalau tidak ditata, dikhawatirkan bisa merusak lingkungan. Hal terpenting jangan sampai mengubah bentang alamnya karena kondisi alam sekitar sedang gundul sehingga erosivitasnya tinggi," ujarnya.
Menurut dia pemerintah bisa ikut turun tangan mengarahkannya sebelum terlambat.
Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma sepakat dengan pendapat Hendy Hendro bahwa di daerah Pegunungan Pati Ayam saat ini memang gundul sehingga perlu ada upaya reboisasi.
Polres Kudus sendiri, lanjut dia, bersama Perhutani dan swasta beberapa waktu yang lalu melakukan penghijauan di Pegunungan Pati Ayam.
"Dalam waktu dekat ini, kegiatan serupa juga akan digelar lagi," ujarnya.
Baca juga: Kemenparekraf dorong semua objek wisata di Kudus terapkan "Gerakan BISA"
Ia mengakui masyarakat memang tengah termotivasi mengembangkan objek wisata tersebut, tetapi di sisi lain ada perbuatan merusak lingkungan.
"Jika memang mau dijadikan tempat wisata, harus ada regulasinya terlebih dahulu karena jika sampai terjadi bencana banjir tentunya repot," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan wisata bukit Puser Angin saat ini tidak dikelola oleh dinas.
Lokasi tersebut, kata dia, tidak termasuk dalam empat zona yang direncanakan untuk pengembangan wisata Bendung Logung karena lahan Bukit Puser Angin tersebut juga milik Perhutani.
Baca juga: Kudus tambah pembukaan objek wisata sesuai protokol kesehatan
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Disparekraf perkirakan kunjungan wisatawan ke Lampung pada libur akhir tahun 2,35 juta orang
06 January 2026 14:20 WIB
Pengunjung taman penangkaran rusa Tahura Wan Abdul Rachman naik jadi 6.500 orang
31 December 2025 21:21 WIB
Taman penangkaran rusa Lampung jadi tujuan wisata edukasi di libur penghujung tahun
31 December 2025 18:54 WIB
Ribuan wisatawan Malaysia gunakan Whoosh untuk wisata di libur Natal-tahun baru
28 December 2025 17:35 WIB
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022