Dokter paparkan perlunya batasan waktu bagi anak bermain gawai
Kamis, 1 Agustus 2019 16:33 WIB
Ilustrasi anak kecanduan gawai (shutterstock)
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis kesehatan jiwa memaparkan perlu adanya batasan waktu bagi anak dalam bermain menggunakan gawai yang disesuaikan pada umur anak agar tidak memberikan dampak buruk jika dipergunakan secara berlebihan.
Kepala Sub Direktorat Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja dr Lina R Mangaweang Sp.Kj dalam bincang-bincang di Kementerian Kesehatan yang dikutip di Jakarta, Kamis, mengatakan pemberlakuan batasan waktu penggunaan gawai pada anak harus ketat.
Lina menerangkan secara tegas untuk tidak memberikan gawai pada anak dalam rentang usia 0-6 bulan. "Usia 0-6 bulan kalau bisa jangan dulu diperkenalkan. Pada usia 1-2 tahun boleh sedikit-sedikit dikasih lihat tapi jangan lebih dari satu jam," kata Lina.
Sementara untuk anak dengan usia di bawah enam tahun, orang tua sudah harus melakukan pengawasan terhadap penggunaan gawai pada anak. Sedangkan jika anak di usia enam tahun sudah mulai bermain game, orang tua harus mengetahui jenis game seperti apa yang dimainkan oleh anak.
"Di atas enam tahun harus dilihat apa yang dipermainkan di handphone-nya, pastikan bukan permainan yang bersifat kekejaman atau kekerasan," kata dia.
Orang tua juga harus mengetahui aplikasi apa saja yang ada di ponsel anak dan kebiasaan anak dalam menggunakan internet. Jika anak mengakses internet dari komputer, kata Lina, komputer tersebut harus ditempatkan di ruang keluarga dan bukan di kamar anak agar bisa terpantau.
Kecanduan atau adiksi terhadap game online (daring) bisa memengaruhi psikis anak jika berlangsung secara terus menerus dan tidak dibatasi. Dampak psikis yang terjadi pada anak akibat kecanduan game bisa membuatnya menjadi cemas, mudah tersinggung, dan mengakibatkan konsentrasi yang menurun.
Lina menjelaskan kecanduan terhadap game yang tidak teratasi bisa mengganggu fungsi otak, seperti fungsi kognitif, serta fungsi eksekutif yang berpengaruh dalam proses merencanakan dan menentukan.
Selain itu, anak yang ketagihan terhadap game dan memainkannya setiap hari juga bisa berpengaruh pada interaksi sosialnya yang memburuk.
"Keterampilan sosialnya bisa berkurang karena sering bermain game online. Anak bisa menjadi egosentris, individualistik, dan nantinya akan kesulitan bekerja bersama dalam kelompok," kata Lina.
Kepala Sub Direktorat Masalah Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja dr Lina R Mangaweang Sp.Kj dalam bincang-bincang di Kementerian Kesehatan yang dikutip di Jakarta, Kamis, mengatakan pemberlakuan batasan waktu penggunaan gawai pada anak harus ketat.
Lina menerangkan secara tegas untuk tidak memberikan gawai pada anak dalam rentang usia 0-6 bulan. "Usia 0-6 bulan kalau bisa jangan dulu diperkenalkan. Pada usia 1-2 tahun boleh sedikit-sedikit dikasih lihat tapi jangan lebih dari satu jam," kata Lina.
Sementara untuk anak dengan usia di bawah enam tahun, orang tua sudah harus melakukan pengawasan terhadap penggunaan gawai pada anak. Sedangkan jika anak di usia enam tahun sudah mulai bermain game, orang tua harus mengetahui jenis game seperti apa yang dimainkan oleh anak.
"Di atas enam tahun harus dilihat apa yang dipermainkan di handphone-nya, pastikan bukan permainan yang bersifat kekejaman atau kekerasan," kata dia.
Orang tua juga harus mengetahui aplikasi apa saja yang ada di ponsel anak dan kebiasaan anak dalam menggunakan internet. Jika anak mengakses internet dari komputer, kata Lina, komputer tersebut harus ditempatkan di ruang keluarga dan bukan di kamar anak agar bisa terpantau.
Kecanduan atau adiksi terhadap game online (daring) bisa memengaruhi psikis anak jika berlangsung secara terus menerus dan tidak dibatasi. Dampak psikis yang terjadi pada anak akibat kecanduan game bisa membuatnya menjadi cemas, mudah tersinggung, dan mengakibatkan konsentrasi yang menurun.
Lina menjelaskan kecanduan terhadap game yang tidak teratasi bisa mengganggu fungsi otak, seperti fungsi kognitif, serta fungsi eksekutif yang berpengaruh dalam proses merencanakan dan menentukan.
Selain itu, anak yang ketagihan terhadap game dan memainkannya setiap hari juga bisa berpengaruh pada interaksi sosialnya yang memburuk.
"Keterampilan sosialnya bisa berkurang karena sering bermain game online. Anak bisa menjadi egosentris, individualistik, dan nantinya akan kesulitan bekerja bersama dalam kelompok," kata Lina.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Aplikasi MyTelkomsel tambah tiga fitur baru dari nonton hingga main game
04 November 2024 17:54 WIB, 2024
Belajar asyik matematika dan TIL dengan game edukasi rancangan mahasiswa prodi sistem informasi darmajaya
07 March 2024 8:49 WIB, 2024
Terpopuler - Lintas Daerah
Lihat Juga
Dompet Dhuafa, Indosat dan Tokopedia hadirkan sumur bor bagi penyintas banjir di Aceh
14 February 2026 9:55 WIB
Seratusan ikan keramat di Cigugur mati, Pemkab Kuningan selidiki penyebabnya
02 February 2026 16:07 WIB
Pewarta foto ANTARA rilis buku "Orang -Orang Bermata biru dari Minangkabau"
01 February 2026 11:46 WIB