Harga sawit di Tulangbawang dan Mesuji anjlok
Sabtu, 6 April 2019 9:43 WIB
Perkebunan sawit di Kabupaten Tulangbawang,Lampung. Harga tandan buah segar sawit turun drastis di Kabupaten Tulangbawang dan Kabupaten Mesuji dalam seminggu terakhir (Raharja/Antaralampung.com).
Tulang Bawang, Lampung (ANTARA) - Beberapa petani sawit di Kabupaten Tulangbawang dan Kabupaten Mesuji Lampung mengeluhkan harga tandan buah segar sawit (TBS) yang anjlok dari Rp1.500 per kilogram menjadi Rp800 per kilogram.
"Hampir setiap hari harganya turun sebesar Rp60 untuk setiap kilogramnya, jadi saat ini harga yang kami terima Rp800 per kilogramnya," kata Satosa, petani sawit di Kecamatan Rawa Jitu , Kabupaten Tulangbawang , Sabtu .
Ia mengatakan, penurunan harga tersebut terjadi dalam sepekan terakhir.
Para petani, kata Santosa, hanya pasrah dan menerima harga yang ditetapkan pengumpul; sebab bila ditolak maka sawit yang sudah dipanen tidak terjual dan membusuk.
"Apalagi sawit berbeda dengan karet. Kalau sawit tidak dipanen akan merusak batangnya, beda dengan karet yang tahan tidak disadap," ujarnya.
Santoso berharap pemerintah mengawasi penerapan harga TBS sebab para petani mendapatkan informasi bahwa harga terendah TBS sudah ditetapkan pemerintah bersama pengusaha sawit.
Sementara pedagang pengumpul sawit, Marlinton warga Kabupaten Mesuji Lampung mengatakan penerapan harga sawit di tingkat petani berdasarkan harga pabrik.
Ia mengatakan para pengumpul hanya mendapat selisih Rp60 perkilogramnya dari petani, kemudian menjualnya ke pabrik pengolah minyak sawit.
"Harga yang diterima pabrik sekarang ini Rp9.00 dan Rp1.000 per kilogramnya," kata dia.
Sementara beban ongkos angkut TBS dari kebun warga hingga ke desa dan menuju pabrik dibebankan kepada pedagang pengumpul.
"Hampir setiap hari harganya turun sebesar Rp60 untuk setiap kilogramnya, jadi saat ini harga yang kami terima Rp800 per kilogramnya," kata Satosa, petani sawit di Kecamatan Rawa Jitu , Kabupaten Tulangbawang , Sabtu .
Ia mengatakan, penurunan harga tersebut terjadi dalam sepekan terakhir.
Para petani, kata Santosa, hanya pasrah dan menerima harga yang ditetapkan pengumpul; sebab bila ditolak maka sawit yang sudah dipanen tidak terjual dan membusuk.
"Apalagi sawit berbeda dengan karet. Kalau sawit tidak dipanen akan merusak batangnya, beda dengan karet yang tahan tidak disadap," ujarnya.
Santoso berharap pemerintah mengawasi penerapan harga TBS sebab para petani mendapatkan informasi bahwa harga terendah TBS sudah ditetapkan pemerintah bersama pengusaha sawit.
Sementara pedagang pengumpul sawit, Marlinton warga Kabupaten Mesuji Lampung mengatakan penerapan harga sawit di tingkat petani berdasarkan harga pabrik.
Ia mengatakan para pengumpul hanya mendapat selisih Rp60 perkilogramnya dari petani, kemudian menjualnya ke pabrik pengolah minyak sawit.
"Harga yang diterima pabrik sekarang ini Rp9.00 dan Rp1.000 per kilogramnya," kata dia.
Sementara beban ongkos angkut TBS dari kebun warga hingga ke desa dan menuju pabrik dibebankan kepada pedagang pengumpul.
Pewarta : Raharja
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Tulangbawang
Lihat Juga
Petugas Rutan Menggala simulasi pemadam kebakaran untuk perkuat kesiapsiagaan
11 February 2026 12:56 WIB
Sengketa lahan tiga kampung di Tulangbawang masuk tahap penentuan titik koordinat
20 January 2026 14:08 WIB
Kapolda Lampung turun langsung redam konflik lahan Isenpatow Bonow Tulangbawang
16 January 2026 16:51 WIB
Dosen UNU Lampung kembangkan pembangkit listrik hybrid untuk petambak udang vaname
21 September 2025 19:12 WIB
Baznas salurkan bantuan satu ton beras bagi korban banjir di Tulangbawang
29 December 2024 9:29 WIB, 2024