UGM juga kaji metode cuci otak
Senin, 9 April 2018 10:24 WIB
Ilustrasi (ist)
Yogyakarta (Antaranews Lampung) - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Ova Emilia menegaskan almamaternya segera mengkaji secara objektif metode cuci otak untuk pasien stroke yang dilakukan oleh dokter Terawan Agus Putranto.
"Dia alumni (UGM). Kami nilai produk dan record-nya bukan pribadi. Ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas UGM untuk objektif," kata Ova saat ditemui di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, Jumat.
Menurut Ova, tidak perlu terburu-buru untuk mengambil keputusan menyalahkan atau membenarkan temuan dokter Terawan. Metode cuci otak tersebut perlu dikaji dari berbagai aspek berdasarkan pandangan para ahli dari berbagai bidang kedokteran.
"Kita harus melihat secara utuh. Tidak bisa terus menyatakan ini salah atau benar. Kita harus melihat dari berbagai sisi secara proporsional supaya tidak mengembuskan isu yang pro-kontra," kata Ova.
Oleh sebab itu, kata dia, Fakultas Kedokteran UGM lebih memilih mendiskusikan hal itu secara akademis dengan mendatangkan berbagai ahli seperti ahli radiologi, ahli saraf dan bedah saraf, ahli bio etik, hingga ahli penilian teknologi kesehatan (HTA).
"Kami diskusikan secara utuh dan kami tidak melihat ini dari sisi setuju atau tidak setuju, itu terlalu dangkal. Saya yakin kaca mata akademis masih objektif," kata dia.
Menurut dia, perlu dilihat secara mendalam apakah metode yang diterapkan dokter Terawan menghilangkan penyakitnya, hanya mengurangi gejalanya, atau hanya untuk pencegahan suatu penyakit.
"Dalam kedokteran ada tiga level pengujian sebelum obat diperuntukkan bagi manusia. Pertama diuji coba dulu ke binatang kecil, uji klinis terbatas, uji klinis secara luas atau berbasis populasi baru kemudian bisa diluncurkan," kata dia.
Ova membenarkan bahwa lahirnya inovasi-inovasi baru selalu dibutuhkan untuk terus memajukan dunia kedokteran. "Ya inovasi harus, sah-sah saja," kata dia.
Namun demikian, ia mengatakan berbagai inovasi atau temuan berbagai produk dalam kedokteran tidak serta merta dapat diperuntukkan secara massal sebelum ada pengujian yang ketat.
"Kalau kemudian ini (metode cuci otak) benar dan bisa didukung katakan itu benar. Namun kalau tidak benar dan kemudian mau diajukan ke yang lebih luas ya semestinya ada syarat-syaratnya," kata dia.
Sebelumnya MKEK ID menerbitkan surat yang berisi pemberian sanksi kepada dr Terawan Agus Putranto yang juga Kepala RSPAD Gatot Subroto berupa pemecatan dalam jangka masa satu tahun.
Ketua MKEK IDI Dr dr Prijo Sidipratomo Sp.Rad(K) menandatangani surat pemberian sanksi kepada dr Terawan dengan dugaan berlebihan mengiklankan diri terkait terapi cuci otak melalui metode "Digital Substraction Angiography" untuk pasien stroke.
Alasan lain pemberian sanksi yang tertera di surat itu ialah adanya janji-janji tentang kesembuhan dengan metode cuci otak, padahal MKEK menilai terapi tersebut belum ada bukti ilmiah.
"Dia alumni (UGM). Kami nilai produk dan record-nya bukan pribadi. Ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas UGM untuk objektif," kata Ova saat ditemui di Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta, Jumat.
Menurut Ova, tidak perlu terburu-buru untuk mengambil keputusan menyalahkan atau membenarkan temuan dokter Terawan. Metode cuci otak tersebut perlu dikaji dari berbagai aspek berdasarkan pandangan para ahli dari berbagai bidang kedokteran.
"Kita harus melihat secara utuh. Tidak bisa terus menyatakan ini salah atau benar. Kita harus melihat dari berbagai sisi secara proporsional supaya tidak mengembuskan isu yang pro-kontra," kata Ova.
Oleh sebab itu, kata dia, Fakultas Kedokteran UGM lebih memilih mendiskusikan hal itu secara akademis dengan mendatangkan berbagai ahli seperti ahli radiologi, ahli saraf dan bedah saraf, ahli bio etik, hingga ahli penilian teknologi kesehatan (HTA).
"Kami diskusikan secara utuh dan kami tidak melihat ini dari sisi setuju atau tidak setuju, itu terlalu dangkal. Saya yakin kaca mata akademis masih objektif," kata dia.
Menurut dia, perlu dilihat secara mendalam apakah metode yang diterapkan dokter Terawan menghilangkan penyakitnya, hanya mengurangi gejalanya, atau hanya untuk pencegahan suatu penyakit.
"Dalam kedokteran ada tiga level pengujian sebelum obat diperuntukkan bagi manusia. Pertama diuji coba dulu ke binatang kecil, uji klinis terbatas, uji klinis secara luas atau berbasis populasi baru kemudian bisa diluncurkan," kata dia.
Ova membenarkan bahwa lahirnya inovasi-inovasi baru selalu dibutuhkan untuk terus memajukan dunia kedokteran. "Ya inovasi harus, sah-sah saja," kata dia.
Namun demikian, ia mengatakan berbagai inovasi atau temuan berbagai produk dalam kedokteran tidak serta merta dapat diperuntukkan secara massal sebelum ada pengujian yang ketat.
"Kalau kemudian ini (metode cuci otak) benar dan bisa didukung katakan itu benar. Namun kalau tidak benar dan kemudian mau diajukan ke yang lebih luas ya semestinya ada syarat-syaratnya," kata dia.
Sebelumnya MKEK ID menerbitkan surat yang berisi pemberian sanksi kepada dr Terawan Agus Putranto yang juga Kepala RSPAD Gatot Subroto berupa pemecatan dalam jangka masa satu tahun.
Ketua MKEK IDI Dr dr Prijo Sidipratomo Sp.Rad(K) menandatangani surat pemberian sanksi kepada dr Terawan dengan dugaan berlebihan mengiklankan diri terkait terapi cuci otak melalui metode "Digital Substraction Angiography" untuk pasien stroke.
Alasan lain pemberian sanksi yang tertera di surat itu ialah adanya janji-janji tentang kesembuhan dengan metode cuci otak, padahal MKEK menilai terapi tersebut belum ada bukti ilmiah.
Pewarta : Luqman Hakim
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub Lampung: Kenalkan "golden hour" serangan jantung untuk cegah kematian
27 November 2025 9:57 WIB
Akan pasang alat pacu jantung, karier Edoardo Bove di Liga Italia berakhir
08 December 2024 5:19 WIB, 2024
Sebanyak 13 dokter spesialis jantung Indonesia belajar ke China guna perkuat layanan
12 November 2024 11:22 WIB, 2024
IDI sebut pembelajaran pijat jantung ke masyarakat penting dilakukan
04 November 2024 19:47 WIB, 2024
Serangan jantung jadi penyebab sopir tabrak halte Trans Jakarta di Pasar Rebo
27 January 2024 21:13 WIB, 2024
Dosen Unpad ciptakan alat holter monitor jantung yang canggih dan ekonomis
16 December 2023 21:09 WIB, 2023
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Smart farming jadi solusi petani sejahtera di Desa Trimomukti Lampung Selatan
02 December 2025 16:56 WIB
HKA dari produsen material ke penggerak layanan operasi jalan tol nasional
27 November 2025 16:20 WIB
Swasembada pangan hadapi tantangan, banyak petani enggan tanam kedelai di lahan pertanian
17 November 2025 10:39 WIB
Relawan di Lampung bantu pasien kanker dan donor darah, bergerak tanpa dana tetap
10 November 2025 9:47 WIB