Beijing, (ANTARA Lampung) -Dirjen Kantor Administrasi Akreditasi dan Sertifikasi Tiongkok (CNCA) Gu Shaoping mengatakan Tiongkok sangat terbuka dengan produk sarang burung walet Indonesia, asalkan kualitasnya terjamin dan aman dikonsumsi.

"Saat ini telah ada enam perusahaan Indonesia yang kami berikan izin ekspor sarang walet ke Tiongkok. Tidak menutup kemungkinan, jika ada perusahaan di Indonesia yang dianggap layak, dapat kami berikan izin," katanya di Beijing, Kamis.

Guo Shaoping mengatakan Tiongkok adalah konsumen terbesar sarang walet.

"Selama ini kami mengimpor dari Indonesia, Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Indonesia merupakan produsen sarang walet terbesar dunia,"katanya.

Namun, terpaksa impor sarang walet Indonesia dihentikan pada Agutus 2011 karena alasan tertentu.

"Setelah ada pembicaraan kedua pimpinan negara, saat Presiden Xi Jinping berkunjung ke Indonesia maka perdagangan walet kembali dibuka," ujarnya.

Terkait itu, lanjut Gu Shaoping, pada Agustus 2014 diberikan izin ekspor kepada tiga perusahaan Indonesia dan pada Februari 2015 diberikan izin kepada tiga perusahaan tambahan.

"Sehingga total ada enam perusahaan Indonesia terdaftar di CNCA yang bertanggung jawab atas pasokan sarang walet ke Tiongkok," katanya.

Kedepan, tambah Gu, jika ada perusahaan dari Indonesia yang dianggap memenuhi standar untuk memasok sarang walet ke Tiongkok, maka CNCA akan sangat terbuka.

Jamin produknya Terkait itu, Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak dan Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI) Boedhi Mranata mengatakan pihaknya menjamin produk yang dihasilkan telah melalui rangkaian uji standar keamanan pangan yang ditetapkan Tiongkok.

"Di Indonesia ada ratusan prosesor, namun hanya delapan yang dinyatakan sesuai standar keamanan pangan Tiongkok, meski kemudian hanya enam perusahaan yang dinyatakan layak untuk mendapat izin ekspor sarang walet ke Tiongkok. Ini membuktikan bahwa Indonesia juga sangat selektif, dan komitmen untuk menghasilkan produk berkualitas," katanya.

Jika, permintaan memang tinggi maka APPSWI siap untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

"Apakah rumah sarang walet dari enam perusahaan yang sudah terdaftar ditambah, atau kita ajukan lagi perusahaan lain untuk ikut memenuhi permintaan, dengan melalui rangkaian prosedur uji kelayakan keamanan pangan yang telah disepakati kedua pihak, Indonesia dan Tiongkok," katanya..

Tembusnya sarang burung walet di pasar Tiongkok diharapkan mampu mendongkrak ekspor sarang burung walet yang saat ini sebesar Rp4,8 triliun. Masuknya pasar Tiongkok maka potensi ekspor bisa menyentuh Rp7,5 triliun.

"Memang jumlah ekspor sarang burung walet ke Tiongkok masih kecil hanya 1,2 ton tapi ke depan bisa naik tiga sampai empat kali lipat. Tetapi saya optimis jika produksi naik tiga kali lipat, maka nilai ekspor bisa mencapai Rp 14 triliun," katanya.

Ekspor perdana pada 29 Januari 2015 diyakini akan menjadi momentum peternak dan pengusaha sarang burung walet untuk meningkatkan produksi. Tahun ini, APPSW menargetkan produksi sarang burung walet mencapai 800 ton.

Sementara Duta Besar RI untuk Tiongkok merangkap Mongolia Soegeng Rahardjo menambahkan, "sarang walet menjadi produk unggulan Indonesia yang diharapkan mampu untuk mengurangi defisit perdagangan Indonesia-Tiongkok".
 

Pewarta : Rini Utami
Editor :
Copyright © ANTARA 2024