Logo Header Antaranews Lampung

Menko Airlangga tak khawatir limit investasi dapen-asuransi naik 20 persen

Selasa, 3 Februari 2026 17:28 WIB
Image Print
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pidato pembukaan pada Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). IES 2026 yang diselenggarakan 3-4 Februari 2026 tersebut merupakan wadah strategis bagi mitra global untuk memperoleh pemahaman terkini mengenai arah kebijakan ekonomi dan prioritas pembangunan Indonesia. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar
Indonesia membuka kesempatan dana pensiun untuk melakukan investasi di saham-saham yang baik tentunya. Di saham-saham dengan fundamental kuat

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai peningkatan batas investasi perusahaan asuransi dan dana pensiun (dapen) ke pasar modal menjadi 20 persen tidak perlu dikhawatirkan.

Sebab, kebijakan tersebut akan diarahkan pada emiten-emiten dengan fundamental yang kuat.

"Indonesia membuka kesempatan dana pensiun untuk melakukan investasi di saham-saham yang baik tentunya. Di saham-saham dengan fundamental kuat," kata Airlangga dalam acara Indonesia Economic Summit (IEC) 2026 di Jakarta, Selasa.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan arah kebijakan peningkatan batas atau limit investasi saham bagi industri dana pensiun (dapen) dan asuransi dari sebelumnya 8 persen menjadi 20 persen.

Pada tahap awal, implementasi kebijakan ini akan difokuskan pada saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45.

“Itu bisa sampai 20 persen untuk investasinya di pasar modal, termasuk BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) dan Kesehatan (BPJS Kesehatan). Dan ini tentu yang saham yang fundamentalnya kuat antara lain (saham) LQ45,” ujar Menko.

Adapun kebijakan tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal yang tengah dijalankan pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Selain peningkatan batas investasi dapen dan perusahaan asuransi, reformasi juga mencakup kebijakan peningkatan minimal free float saham menjadi 15 persen serta rencana demutualisasi BEI.

Di sisi lain, sebagai respons atas masukan Morgan Stanley Capital International (MSCI), otoritas juga fokus meningkatkan transparansi melalui pengungkapan ultimate beneficiary owner (UBO).

Airlangga menerangkan OJK bersama self-regulatory organizations (SRO) akan mendorong keterbukaan kepemilikan saham hingga di atas 1 persen.

"Jadi di atas 1 persen harus di-disclose (dibuka) termasuk ultimate beneficiary ownernya. Dan ini kan sebetulnya di KSEI itu mudah karena mereka sudah dengan digitalisasi. Sehingga itu barangnya sudah ada tinggal disclosure-nya saja dilanjutkan," ujarnya.

Langkah ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan regulator pasar modal Indonesia dengan MSCI yang berlangsung pada Senin kemarin (2/2).

Airlangga juga menyinggung pergerakan pasar modal yang kembali menguat.

Menurutnya, hal tersebut mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Adapun IHSG terpantau berbalik menguat sebesar 119,11 poin atau 1,50 persen ke posisi 8.041,84 pada perdagangan sesi I pukul 11.20 WIB hari ini, Selasa (03/02).


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Airlangga tak khawatir limit investasi dapen-asuransi naik 20 persen



Pewarta :
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2026