Lampung Selatan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan, terus mengembangkan inovasi pada sektor pertanian dengan penerapan program Padi Biosalin (Bio Salinity Tolerant Rice), guna meningkatkan produktivitas lahan dan kesejahteraan petani di wilayah pesisir.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Lampung Selatan, Anasrullah, di Kalianda Jumat mengatakan, inovasi Padi Biosalin merupakan langkah cerdas dalam meningkatkan produktivitas lahan pesisir yang selama ini dianggap tidak potensial.
“Ini solusi nyata bagi masyarakat di kawasan pantai. Saat musim kemarau dan pasokan air tawar terbatas, petani tetap bisa memanfaatkan air laut untuk bercocok tanam. Dengan begitu, roda ekonomi masyarakat tetap bergerak,” kata dia.
Dia menjelaskan, Padi Biosalin merupakan varietas unggul hasil inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dirancang tahan terhadap kadar garam tinggi. Teknologi ini menjadi solusi bagi petani pesisir yang selama ini terkendala intrusi air laut sehingga sulit menanam padi secara optimal.
Menurutnya, program Padi Biosalin yang dikembangkan di lahan milik Kardiyansyah warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan berhasil mengubah lahan bekas tambak udang berair asin menjadi hamparan sawah yang kembali produktif.
“Dengan hasil yang menjanjikan, program Padi Biosalin diharapkan menjadi model pertanian adaptif di kawasan pesisir Lampung Selatan, membuka peluang baru bagi petani serta memperkuat ketahanan pangan daerah,” ucapnya.
Sementara itu, pemilik lahan percontohan program Padi Biosalin Kardiyansyah, mengatakan hasil uji coba menunjukkan perkembangan positif. Padi yang ditanam kini telah siap panen dengan masa tanam sekitar tiga bulan.
“Ladang ini dulunya tambak udang dengan air payau. Kami ingin membuktikan bahwa tanah seperti ini tetap bisa produktif jika ditanami varietas yang tepat. Dan sekarang kami akan panen serentak awal bulan depan. Hasilnya cukup menjanjikan,” ujar dia.
