BMKG : 11 titik api di Lampung

id Bmkg lampung, hotspot, kebakaran, titik api

Petugas pemadam kebakaran Balai TNWK dan petugas Masyarakat Mitra Polhut (MMP) memadamkan api yang membakar hutan semak-semak di dalam kawasan hutan Way Kambas, Lampung Timur. (FOTO: ANTARA Lampung/File)

Bandarlampung (Antaranews Lampung) - 
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung memantau ada sekitar 11 titik api (hot spot) tersebar di beberapa daerah setempat.
         
"Ada sekitar 11 titik api yang tersebar di berapa tempat di Provinsi Lampung. Sementara dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen ada di tiga titik," kata Kasi Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudy Hariyanto, di Bandarlampung, Selasa.
         
Ia menyebutkan,  titik api dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen harus segera diantisipasi oleh instansi terkait seperti TNI/Polri, Dinas Kehutanan maupun BPBD.
         
Hal tersebut, lanjutnya, kemungkinkan dapat terjadi kebakaran dan harus segera dilakukan tindakan pemadaman maupun melokalisasikan di tempat kejadian.
         
Menurutnya, titik api muncul disebabkan beberapa faktor seperti musim kemarau saat ini, pembukaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara membakar lahan, maupun kejadian alami seperti kebakaran hutan.
       
Rudi menjelaskan, dengan terpantaunya cukup banyak titik api oleh BMKG Lamphng, diimbau instansi terkait segara melakukan klarifikasi di lokasi kejadian, jangan sampai kejadian titik api tersebut menjadi bencana yang besar bagi Provinsi Lampung, apalagi saat ini menjelang pelaksanaan Asian Games 2018.
         
"Memang ada 11 titik api atau hotspot, adapun tingkat kepercayaannya di atas 80 persen ada sekitar 3 titik, dan ini perlu diklarifikasi kebenarannya," ujar Rudy Hariyanto.
           
Untuk mencegah terjadinya kebakaran lahan atau hutan,  pihaknya mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
         
Karena menurutnya, dengan angin yang cukup kencang dan curah hujan yang sedikit saat ini dapat menyebabkan kebakaran lahan.
       
 "Selain itu,  tidak membuang bara api secara sembarangan," tambahnya.

 
Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar