Dongeng Anak Masih Langgeng

id Dongeng Anak Masih Langgeng, Dongeng Anak

"Apa yang didongengkan, akan melekat dalam ingatan anak. Nilai-nilai budi pekerti itu melekat dalam diri anak hingga dewasa," kata Budi yang juga Koordinator Gabungan Seniman Borobudur (Gasebo) itu.
Magelang (ANTARA Lampung) - Sejumlah anak dari salah satu sekolah dasar negeri di kawasan Pegunungan Menoreh melongokkan kepala masing-masing melalui salah satu jendela Gandok Sawitri kompleks Sanggar Seni Pondok Tingal, dekat Candi Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Ketika dalang Junaidi dari depan kelir dengan suara penuh semangat meminta semua anak yang berjumlah sekitar 300 siswa berasal dari beberapa sekolah dasar di kawasan Borobudur itu, boleh mendekat ke tempatnya mendongeng, mereka ikut beringsut meninggalkan jendela tersebut.

Anak-anak pun dengan didampingi para guru, kemudian bergeser dari tempatnya bersila dan timpuh. Mereka duduk merapat di antara para penabuh gamelan dan di antara perangkat gamelan lainnya di gandok tersebut, untuk mengikuti dongeng anak.

Beberapa di antara mereka, bahkan merapat hingga mempet kotak penyimpan wayang, berjarak sekitar satu meter dari tempat bersila sang dalang.

Acara dongeng anak diselenggarakan secara rutin, setiap Sabtu Pahing (Kalender Jawa), oleh pengelola sanggar itu bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Borobudur.

"Sering ikut nonton wayang sambil bermain kalau ada pentas wayang di desa," kata Agus, salah satu siswa SDN Giritengah I Kecamatan Borobudur, di kawasan Pegunungan Menoreh, salah satu di antara tiga siswa yang sebelumnya melongok di jendela gandok tersebut.

Gending pembuka pun dilantunkan tiga sinden dari Sanggar Wayang Walisongo Yogyakarta yang diajak Junaidi, yang juga pengajar Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, pada acara dongeng anak, Sabtu (23/1) itu.

"'Yo dho dongeng crito wayang, isine carito becik keno kanggo nuntun laku, sinau kanthi temen, kayo watak e satriyo luhur, pinter-pinter sarta pener, nanging ojo niru marang watak sing kang ala'," begitu terdengar syair tembang diiringi tabuhan gamelan itu.

Syair tembang itu kira-kira maksudnya mengajak anak-anak untuk menyimak dongeng berasal dari lakon wayang, supaya mereka menyerap nilai-nilai yang luhur dan tidak meniru watak yang buruk.

Sebelum mendongeng dengan judul "Pandawa Bejo Kurawa Cilaka", kepada anak-anak itu, Junaidi yang meraih doktor pedalangan melalui tesisnya tentang lakon wayang "Salya Begal", karya pendiri Pondok Tingal, Boediardjo (1921--1997), memperkenalkan sejumlah buku tentang wayang yang ditulis khusus untuk kalangan pelajar, dengan penerbit Arindo Nusa Media Yogyakarta.

Pada kesempatan tersebut, juga diputar film animasi dengan durasi pendek khusus untuk anak-anak, tentang tokoh-tokoh wayang, karya tim animasi Pangestu Jaya Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Sedangkan staf UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Borobudur yang juga pegiat Sanggar Seni Pondok Tingal Budi Ismoyo berkesempatan menyampaikan pesan tentang pentingnya dongeng anak dilestarikan karena menjadi bagian dari penanaman nilai-nilai budi pekerti dan karakter bangsa.

"Kami selalu mengundang anak-anak dari PAUD, TK, hingga SD di seluruh kabupaten, untuk hadir mengikuti dongeng anak di sini," ujar Budi yang sejak tradisi dongeng anak itu dirintis Boediardjo, membantu mendatangkan anak-anak untuk hadir.

Awalnya, katanya, berupa latihan wayang untuk anak-anak di rumah tinggal Boediardjo di Dusun Tingal, Desa Wanurejo. Dalam rangkaian latihan itu, Boediardjo mendongeng lakon wayang kepada anak-anak.

Hingga saat ini, dongeng anak di Pondok Tingal telah menjadi tradisi setiap Sabtu Pahing. Mereka yang menjadi pendongeng berasal dari berbagai kalangan, seperti para guru, tokoh seniman dan budayawan.

"Apa yang didongengkan, akan melekat dalam ingatan anak. Nilai-nilai budi pekerti itu melekat dalam diri anak hingga dewasa," kata Budi yang juga Koordinator Gabungan Seniman Borobudur (Gasebo) itu.

Pihaknya juga sering menggelar lomba mendongeng dengan peserta para guru di daerah setempat sebagai bagian dari upaya melahirkan para pendongeng yang andal untuk anak-anak.

Dongeng anak melalui lakon carangan "Pandawa Bejo Kurawa Cilaka" (Pandawa beruntung Kurawa celaka) selama sekitar setengah jam pada Sabtu (23/1) yang dibawakan dalang Junaidir itu, bertutur tentang kehendak baik keluarga Pandawa untuk bersilaturahim kepada gurunya Begawan Abiyoso di Pertapaan Sapta Arga.

Mereka dikisahkan harus melewati jembatan di salah satu bengawan untuk sampai ke pertapaan Sapta Arga. Akan tetapi, saat melewati jembatan tersebut, para Kurawa mengganggu dengan melempari mereka menggunakan bebatuan.

Semar kemudian memberi petuah kepada para Pandawa dan Kurawa tentang pentingnya perilaku kebaikan dan perbuatan saling mendukung terhadap niat luhur orang lain.

"'Pandawa tumindake apik, mulane entok kabejan, Kurawa tumindake ala, entuk cilaka' (Pandawa berbuat kebaikan sehingga memperoleh anugerah, sedangkan Kurawa berbuat buruk sehingga celaka, red.)," demikian ungkapan sang dalang mengakhiri dongengnya.

Gending "pelog barang" kemudian ditabuh menjadi pengiring tembang penutup dongeng anak pada kesempatan itu yang terkesan berlangsung secara meriah. Sambil menyimak dongeng tersebut, beberapa anak membuka bekal dari rumah masing-masing, berupa makanan untuk disantapnya, sebagian lainnya membuka buku tulis untuk membuat catatan-catatan.

"Ayo mulih lihlilih menyang ngomah mahmahmah. Ayo mulih lihlihlih menyang ngomah mahmahmah. Sakbubare rerere bar sekolah lahlahlah. Tekan ngomah, salin sandhangane. Mangan ngombe dedolanan'," begitu syair tembang jawa itu yang terjemahannya kira-kira "Ayo pulang ke rumah. Setelah selesai sekolah. Sampai rumah, mengganti pakaian, lalu makan dan minum, kemudian bermain".

Junaidi mengingatkan para orang tua agar tidak mendongeng kepada anak-anak tentang cerita "Kancil Nyolong Timun" (Kancil mencuri mentimun) karena dalam ingatan anak akan melekat bahwa perbuatan mencuri sebagaimana dilakukan kancil sebagai suatu keberhasilan.

"Kalau 'Kancil Nyolong Timun' itu yang melekat di benak anak adalah keberhasilan kancil mencuri mentimun. Itu tidak pas. Kenapa tidak mengemas menjadi cerita kecerdikan kancil dalam mengatasi suatu masalah, supaya yang melekat adalah pentingnya menjadi cerdik dan pintar," ujarnya usai mendongeng.

Budi Ismoyo mengemukakan dongeng anak selalu mengajak anak-anak untuk mengambil nilai-nilai kebaikan dan juga mengingatkan secara saksama pentingnya mereka meninggalkan hal-hal yang bersifat buruk.

Ia mengaku tantangan yang tidak gampang diatasi para orang tua dan guru saat ini terkait dengan tradisi mendongeng, antara lain karena tawaran kemajuan perkembangan teknologi informasi yang memengaruhi kegemaran anak.

Selain itu, katanya, dibutuhkan kreativitas untuk menciptakan dongeng-dongeng anak yang baru agar pustaka dongeng anak semakin berkembang dan beraneka kemasan, sehingga menarik minat mereka untuk menyimak.

Setiap seminggu sebelum hari "H" dongeng anak, kata Ninik, pengelola kompleks Pondok Tingal dengan salah satu usaha lainnya berupa penginapan para wisatawan Candi Borobudur pihaknya bersama UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Borobudur menghubungi beberapa sekolah untuk mengirim anak-anaknya ke tempat tersebut, guna mengikuti kegiatan dongeng anak.

"Gratis, kami menyiapkan camilan untuk anak-anak. Kalau hari ini untuk anak SD, yang bulan depan anak-anak PAUD dan TK, begitu bergantian seterusnya," katanya.
Pewarta :
Editor : Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar