Logo Header Antaranews Lampung

Idulfitri, Insiden Tolikara dan Keutuhan NKRI

Sabtu, 18 Juli 2015 09:41 WIB
Image Print

Bandarlampung (ANTARA Lampung) - Puasa Ramadan 1436 Hijriah tahun 2015 telahhotbah dijalani dan ditunaikan oleh umat Islam umumnya, dan Idulfitri sebagai Hari Kemenangan pun telah tiba disambut suka cita bersama-sama.

Silaturahmi dan sikap saling memaafkan menyeruak dalam tradisi halalbihalal yang khas Indonesia dalam beberapa hari ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV (2008:476), halalbihalal didefinisikan sebagai `hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb.) oleh sekelompok orang`.

Berdasarkan definisi tersebut, halalbihalal dapat dimaknai sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama sesudah bulan puasa Ramadan dalam suasana Idulfitri pada bulan Syawal dengan tujuan sebagai media untuk saling bermaafan sesama muslim, dan orang yang hadir dalam acara tersebut supaya segala kesalahan yang telah dilakukan dapat dimaafkan.

Pada khotbah Idulfitri di Masjid Jami Al Mukmin Kelurahan Sukarame Kecamatan Sukarame, Kota Bandarlampung di Provinsi Lampung, khatib Ustad Mufid SAg menyampaikan tentang hikmah Ramadan, salah satunya yaitu setelah berpuasa sebulan penuh dan menjalankan berbagai kewajiban dan anjuran ibadah yang menyertainya, seharusnya terus berbekas pada diri setiap umat Islam yang menjalaninya dalam kehidupan selanjutnya.

"Kita semua perlu mengevaluasi diri, sehingga saat Lebaran dan sesudahnya seharusnya amal ibadah yang kita jalankan terus mengalami peningkatkan dan menjadi semakin baik," ujar dia lagi.

Khatib Salat Idulfitri yang diikuti seribuan umat Islam setempat itu juga mengingatkan, semestinya Ramadan juga mendorong umat Islam menjadi lebih peduli dan aktif membantu sesamanya yang masih kekurangan.

"Selama berpuasa kita menghadapi cobaan dan perjuangan berat menahan haus, lapar, dan godaan yang membatalkan puasa lainnya. Karena itu, selepas Ramadan dan menjalani ibadah puasa, seterusnya setiap umat Islam menjadi lebih peka, lebih peduli dan aktif membantu sesamanya, yaitu sesama umat Islam maupun warga lainnya yang memerlukan pertolongan.

"Kepedulian itu juga tak sebatas umat Islam dan warga negara di Indonesia saja, tapi juga umat Islam dan warga negara lain yang membutuhkan pertolongan dan bantuan kita semua," ujarnya lagi.

Di media sosial yang menjadi tren sebagian besar masyarakat saat ini, mencuat pula khotbah Idulfitri, antara lain mengingatkan pentingnya toleransi dalam kehidupan masyarakat kita.

Kita jarang sekali mendengar kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah mempersilakan rombongan orang Kristen melakukan misa di Masjid Nabawi, sebagaimana juga kita jarang mendengar Khalifah Umar bin Khatab yang sembahyang di pelataran gereja. Kita juga jarang mendengar jaminan Nabi Muhammad SAW yang dikirimkan terhadap orang Kristen dan agama lain untuk hidup aman dan tenteram tanpa diganggu.

Semua kisah-kisah di atas adalah kisah sebenarnya yang hampir sama sekali kita tidak pernah mendengarnya dan justru kita sering mendengar para ustad atau habib yang berteriak-teriak menakuti nonmuslim, melarang pembangunan gereja, mengancam Ahmadiyah dan Syiah, bahkan mengkafirkan sesama muslim.

Agama itu berguna jika dia menjadi alat perekat kemanusiaan, bukan alat penebar kebencian. Agama itu tidak pernah mencapai tujuannya jika justru saling mengancam dan bersautan pedang. Adalah tugas umat beragama untuk kembali ke tujuan awal agama masing-masing. Yang Islam kembali ke rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta. Yang Kristen kembali ke Cinta Kasih. Yang Hindu kembali ke Tri Hita Karana. Yang Buddha kembali ke 8 Jalan Kebenaran.

"Mari kembali ke fitrah, ke tujuan asal, ke sikap dasar. Perbedaan adalah fitrah adanya, perbedaan itu sudah sejak awal ada dan akan terus ada. Hal terindah yang harus kita lakukan adalah toleransi atas perbedaan-perbedaan itu. Tentu kita boleh saling mengingatkan atau berdiskusi atau bahkan mengkritik, tapi semua itu harus berdasarkan rahmatallilalamin, cinta kasih, tri hita karana, 8 jalan kebenaran. Karena di atas segala perbedaan itu, kita punya persamaan yang jauh lebih penting yaitu persamaan sebagai sesama umat manusia yang menempati planet indah bernama bumi yang harus kita jaga bersama dan kita rawat bersama. Semoga semesta memberkati kita semua dan semua manusia hidup dalam satu cinta, cinta yang menyelimuti semesta," seperti termuat dalam akun salah satu media sosial (facebook) itu pula.

Namun, saat umat Islam merayakan Hari Kemenangan setelah satu bulan menjalani ibadah puasa, dari Tanah Papua, di Kabupaten Tolikara, terdengar kabar adanya insiden antarumat beragama telah terjadi di sana. Kejadian yang mengagetkan kita semua.

Insiden antara umat Islam dan warga umat Kristen Protestan di sana itu, seperti menguji kembali semuanya, termasuk menguji keimanan kita masing-masing, menguji pula kesiapsiagaan aparat keamanan dan fungsi pemerintahan dalam mengatasi setiap problem kemasyarakatan secara cepat dan tepat serta efektif.

Insiden itu, pasti pula menguji sikap toleransi antarumat beragama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu dalam keutuhan Indonesia yang kita cintai bersama.

Berkaitan insiden Tolikara itu, dari Jakarta, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyerukan seluruh umat Islam di Kabupaten Tolikara, Papua, menahan diri atas kekerasan massa yang bertepatan dengan Idulfitri 1 Syawal 1436 Hijriah di daerah itu.

"Tidak perlu membalas, tunjukkan bahwa kita adalah umat yang toleran," kata Din di Jakarta, Jumat (17/7), menanggapi konflik antarkelompok warga di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara, Papua.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menyampaikan penyesalan atas terjadi kasus tersebut, dan berdasarkan laporan yang dia terima, sumber persoalan bermula dari salah paham antarkelompok agama di daerah itu.

"Ya kebetulan ada dua acara yang berdekatan, ada acara Idulfitri dan ada pertemuan pemuka masyarakat gereja di sana. Memang asal muasalnya soal `speaker` (pengeras suara). Jadi mungkin butuh komunikasi lebih baik lagi untuk acara-acara seperti itu," kata Wapres mengenai kasus yang menimbulkan aksi pembakaran sejumlah bangunan di daerah itu.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, sesuai menghadiri "open house" di Istana Wapres, menjelaskan situasi dan kondisi di Papua pascaperistiwa tersebut sudah ditangani dan tidak memerlukan penambahan pasukan.

Ketua Umum MUI juga meminta Kepolisian RI untuk mengusut dan menindak para pelakunya sesuai hukum.

Din menyatakan sungguh sangat disesalkan karena di tengah upaya membangun toleransi antarumat beragama, ternyata masih ada kelompok yang intoleran bahkan dengan menebar benci dan aksi kekerasan pada hari suci umat agama lain.

Wapres pun mengimbau seluruh masyarakat untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain, khususnya dalam kehidupan beragama.

Warga diminta untuk dapat menahan diri dalam menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada.

"Mestinya kedua-duanya menahan diri, masyarakat yang punya acara keagamaan lain harus saling memahami. Ini ada dua kepentingan yang bertepatan, satu Idulfitri, satu lagi karena `speaker`, jadi saling `bertabrakan`," katanya.

Wapres menyatakan telah menginstruksikan kepada pihak Kepolisian RI dan pimpinan kelompok adat setempat supaya menyelesaikan persoalan tersebut.

Saat bersamaan, kita mengetahui bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama sejumlah menteri, justru beberapa hari sebelum dan saat Idulfitri berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, membangun tradisi baru Presiden berlebaran di daerah--bukan hanya berlebaran dan menggelar open house di ibu kota Jakarta seperti terjadi selama ini.

Hidup Rukun

Dari Provinsi Lampung, saat Idulfitri, Gubernur Lampung M Ridho Ficardo bersama Wakil Gubernur Bakhtiar Basri dan pejabat di lingkungan Pemprov Lampung, melaksanakan Salat Idulfitri 1436 Hijriah, di Lapangan Saburai Bandarlampung, menyampaikan lagi ajakan agar warga hidup dalam kerukunan.

Gubernur beserta jajaran tampak bercampur baur dengan masyarakat yang menyambut penuh antusias.

Gubernur Ridho dalam kesempatan itu mengharapkan kepada warga masyarakat dari seluruh lapisan menjadikan nilai-nilai Ramadan sebagai sumber kekuatan dan semangat pengabdian serta pelayanan kepada masyarakat dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara optimal.

"Baik pejabat TNI dan Polri, aparatur pemerintahan, pimpinan dan anggota partai politik, organisasi sosial kemasyarakatan hendaknya tidak menjadikan Ramadan sebagai rutinitas tahunan semata," kata Gubernur termuda di Indonesia ini.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas pengertian segenap elemen masyarakat di Lampung yang telah menghormati dan mengagungkan Ramadan.

Salah satunya selama bulan Ramadan tidak melakukan hal-hal yang mengganggu kekhusukan dalam menjalankan ibadah puasa.

"Saya mengajak seluruh masyarakat Lampung agar menjadikan momentum Idulfitri untuk lebih meningkatkan kerukunan, kebersamaan, persatuan dan kesatuan dalam membangun masyarakat dan daerah Sai Bumi Ruwai Jurai yang kita cintai," ujarnya.

Dalam ceramah Salat Id disampaikan oleh Khatib, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung, Mahmudin Bunyamin menyampaikan tentang penting untuk mengevaluasi pasca-Ramadan, dan menjadi pemaaf sebagai sifat utama yang dimiliki oleh umat muslim.

Pada salah satu masjid di Kota Bandarlampung, belasan juta rupiah dana zakat fitrah, zakat mal, infak, dan sedekah beserta ribuan kilogram beras disalurkan pengurus Masjid Jami Al Mukmin Kelurahan Sukarame Bandarlampung pada Idul Fitri 1436 Hijriah/2015.

Pengurus Masjid Jami Al Mukmim, Ustad Muslim, menyebutkan panitia masjid ini berhasil mengumpulkan dana ZIS lebih dari Rp30 juta, selain sebanyak 1.700 kg lebih beras zakat fitrah umat Islam lingkungan sekitarnya.

"Dana ZIS dan beras zakat fitrah itu telah disalurkan kepada mustahik yang berhak menerimanya sebanyak sekitar 400-an orang, termasuk dana yang dikumpulkan kelompok pengajian ibu-ibu untuk disalurkan pula kepada warga sekitar," ujarnya lagi.

Menurutnya, sepanjang tahun hasil pengumpulan ZIS saat Idulfitri di daerah ini melalui masjid tersebut terus menunjukkan peningkatan yang membuktikan antusiasme dan kepatuhan umat Islam di daerah ini untuk menjalankan kewajiban sesuai ajaran Islam.

Pengumpulan ZIS juga dilakukan masjid dan musala di Bandarlampung melalui panitia masing-masing. Sejumlah umat Islam memilih menyalurkan zakat fitrah dalam bentuk beras maupun uang tunai senilai beras sesuai ketentuan.

Selain zakat fitrah, umat Islam juga menyalurkan zakat, infak, sedekah ke masjid-masjid dan panitia Idulfitri terdekat. Potensi luar biasa dari pengumpulan ZIS dari seluruh pelosok Indonesia, untuk kepentingan umat, termasuk dapat digunakan untuk mendorong pemberdayaan umat terus digaungkan berbagai kalangan.

Kembali pada insiden Tolikara Papua itu, sejumlah pihak kemudian bersama-sama menyerukan agar menahan diri dan tidak terpicu melakukan tindakan berikutnya yang dapat memperkuruh suasana di Tanah Papua itu.

Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur, Kota Jayapura, Pater Neles Tebay yang juga Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) menyesalkan peristiwa pembakaran tempat ibadah di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Jumat pagi.

"Kami menyesalkan atas peristiwa pembakaran tempat ibadah, 70 rumah dan kios di Tolikara, yang terjadi pada perayaan Idul Fitri," kata Neles Tebay di Kota Jayapura, Jumat malam.

Tindakan pembakaran seperti itu, baik dilakukan secara sengaja atau tanpa direncanakan, tidak dapat diterima dan dibenarkan oleh setiap orang yang beriman.

"Budaya Papua tidak mengajarkan orang untuk mengganggu, apalagi membakar tempat ibadah," katanya.

Menurut dia, tradisi atau budaya mengajarkan bahwa orang Papua tidak boleh mengganggu tempat-tempat yang dipandang keramat atau sakral atau suci menurut kepercayaan budaya setempat.

Tempat-tempat suci dalam budaya adalah tempat-tempat yang, menurut keyakinan orang setempat, dihuni oleh roh-roh.

Apabila mengganggu tempat suci itu, menurut keyakinan orang Papua maka akan ada konsekuensi dalam hidup keluarga dari orang yang mengganggu tempat tersebut.

"Konsukuensinya bisa saja para pengganggu jatuh sakit atau salah satu anggota keluarganya meninggal dunia tanpa sakit terlebih dahulu atau terjadi musibah kelaparan," katanya.

Pater mengatakan orang Papua dibina untuk menghormati tempat keramat atau sakral dalam budayanya.

Ketika agama-agama besar seperti Kristen dan Islam masuk ke Tanah Papua, tempat ibadah dari agama-agama ini seperti gereja dan masjid, dipandang sebagai tempat keramat, sakral atau suci.

"Oleh karena itu orang Papua, entah apapun agamanya, selama ini tidak pernah mengganggu, apalagi membakar entah gereja, entah masjid. Daun rumput selembar saja tidak pernah diganggu dan dipetik dari halaman gereja atau masjid," katanya.

Kejadian pembakaran musala di Tolikara, kata dia, merupakan peristiwa pertama kali dalam sejarah Papua di mana sebuah tempat ibadah dibakar.

"Orang Papua tidak pernah membakar tempat ibadah selama ini, kecuali yang baru terjadi di Tolikara ini. Maka, sebagai orang Papua, saya memohon maaf atas peristiwa yang melanggar norma adat ini," katanya.

Ia mengakui bahwa peristiwa pembakaran tempat ibadah itu, telah mencederai upaya masyarakat sipil Papua bersama semua pimpinan agama untuk mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai.

Peristiwa itu mengingatkan bahwa kampanye Papua Tanah Damai masih terbatas hanya pada tingkat para pimpinan agama-agama.

Konsep Papua Tanah Damai ternyata masih harus dimasyarakatkan hingga di tingkat akar rumput.

"Rakyat perlu dilibatkan dalam diskusi, refleksi, dan bekerja sama untuk membangun Papua Tanah Damai, sehingga mereka berperanserta dalam mengupayakan dan memelihara perdamaian di tempat masing-masing," katanya.

Para bupati di semua kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat perlu memfasilitasi diksusi dan dialog internal Papua tentang slogan Papua Tanah Damai agar semua pihak berpartisipasi dalam memelihara slogan tersebut.

"Tidak ada satu pun pihak yang memuji atas tindakan pembakaran tempat ibadah ini. Tetapi juga tidak perlu langsung menuduh kelompok lain sebagai pelaku pembakaran tanpa didasarkan atas investigasi yang kredibel. Kami memohon semua pihak untuk menahan diri dan tidak memanasi situasi," katanya.

Sebagai salah satu tokoh agama, Neles Tebay mengatakan ada baiknya mendorong polisi untuk melakukan investigasi secepatnya bukan hanya untuk menemukan para pelaku pembakaran tetapi juga menemukan faktor penyebab utama yang memicu pembakaran itu.

"Dengan mengetahui faktor penyebabnya, kita bisa mencegah agar hal yang tidak terulang lagi di masa depan. Kami mendorong para pimpian agama di seluruh Tanah Papua untuk secara bersama memelihara perdamaian di Bumi Cenderawasih," katanya.

Berkaitan insiden Tolikara tersebut, "Papua Itu Kita" menyampaikan sikap menyayangkan terjadi insiden di Tolikara.

Narahubung "Papua Itu Kita" Zely Ariane menyatakan, peristiwa ini tidak dapat dilihat pada kejadian pada hari ini saja.

Menurutnya, berbagai upaya/usaha utk mengarahkan konflik di Papua menjadi horizontal dengan isu keagamaan bukanlah kali pertama. Namun karena kuatnya kerukunan dan kecintaan hidup bersama orang Papua dengan warga lain yang berbeda, baik agama maupun suku bangsa, mestilah lebih dulu diingat sebagai nilai yang dimiliki oleh masyarakat Papua.

Sebelum peristiwa hari ini, berbagai peristiwa kekerasan di Papua tak berhenti setiap minggu yang mengorbankan warga sipil, dan memenjarakan setidaknya 500 orang sepanjang Mei-Juni 2015. Namun, berita insiden Tolikara yang menyebar begitu cepat, dengan narasumber sangat terbatas, telah membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua.

Peristiwa di Tolikara terjadi karena kelalaian aparat yang tidak mampu menangani persoalan sosial yang terjadi disana. Ini juga membuktikan bahwa pendekatan aparat di Papua melulu dengan kekerasan dan senjata. Metode dialogis justru tak pernah dijadikan pendekatan utama.

"Papua Itu Kita" meminta masyarakat, pimpinan agama, wakil-wakil masyarakat adat, untuk mengambil peran maksimal, menenangkan warga dan memberi penjelasan khususnya kepada media-media arus besar nasional terkait dengan fakta peristiwa yang sangat kita harapkan tidak menyulut konflik lebih luas.

Pihaknya menyerukan kepada pimpinan Polri agar tidak menggunakan cara kekerasan dalam menangani masalah ini, upaya dialogis adalah cara tepat menyelesaikan persoalan antar masyarakat.

Kepada media untuk memprioritaskan narasumber yang kredibel dan beragam, serta menyusun berita yang kiranya dapat membantu tokoh agama dan adat untuk menenangkan warga.

Kepada Pemerintah Daerah agar mengusut akar masalah dan mengambil langkah-langkah pencegahan ke depan dengan mediasi dan rehabilitasi bagi semua pihak yang dirugikan.

"Papua Itu Kita" memberikan catatan, termasuk kaitannya dengan penyebaran sistematis dan cepat edaran dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di media sosial yang mengindikasikan adanya keanehan peristiwa/pasca peristiwa di Tolikara Papua itu, semestinya dapat segera di atasi dari awal.

Namun disayangkan, pihak pemerintah dan kepolisian setempat tidak melakukan upaya preventif (pencegahan dini) dengan memfasilitasi dialog antarpihak. Waktu antara selama enam hari dibiarkan menjadi api dalam sekam.

"Papua itu Kita" menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan catatan bahwa baru pertama kali isu konflik politik di Papua bergeser ke isu agama terjadi, meskipun telah berulangkali dicoba namun gagal.

Idulfitri atau Lebaran adalah momentum yang sangat tepat bagi umat Islam maupun seluruh warga bangsa ini, untuk memperkuat kembali bingkai kesatuan dan persatuan sebagai sebuah bangsa yang utuh bersatu, kokok dan kuat dalam berbagai perbedaan yang ada.

Insiden ini agaknya menjadi batu ujian kita semua untuk dapat menyelesaikan potensi konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) serta dipicu oleh berbagai perbedaan di tengah masyarakat yang kerapkali terus berembus dan gampang meletup di seluruh pelosok Indonesia, termasuk dari Tanah Papua.

Tolikara Papua adalah juga bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang musti kita jaga bersama-sama keutuhan dan kehidupan toleransi antarwarga di dalamnya.

Indonesia ini milik kita semua warga bangsa Indonesia, dan Tanah Papua juga adalah bagian dari milik kita semuanya tanpa kecuali.....



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026