
Debat Capres

Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Debat Calon Presiden-Wakil Presiden Dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjelang Pemilihan Presiden 9 Juli 2014, dan telah diawali satu kali debat dari rencana lima kali debat. Tanggapan dan komentar berkaitan pelaksanaan debat tahap awal itu bermunculan dan sempat menjadi trending topic di media sosial.
Berikut tulisan yang merupakan tanggapan Dr Syarief Makhya, pengamat sosial dan politik dari FISIP Universitas Lampung tentang Debat Capres-cawapres tersebut:
Dari sisi peningkatan kualitas membangun demokrasi debat capres sangat positif untuk pembelajaran pada masyarakat untuk berbeda pilihan dan berbeda berpendapat terutama untuk pemilih yang belum punya pilihan. Dari debat capres, rakyat diajak untuk memahami visi dan misi capres, walaupun masih terkecoh pada aspek penampilan dan gaya berkomunikasi, bukan pada subtansi.
Secara subtansi kedua capres ada komitmen untuk memperbaiki demokrasi, pemerintahan yang bersih dan membangun penegakan hukum, walaupun komitmen memberbaiki tersebut : (a) sifatnya inkremental (tambal sulam) dari kebijakan yang sudah ada; (b) tidak sesuai dengan realitas politik atau akan mengalami hambatan struktural. Misalnya, ketika ada pertanyaan bagaimana dampak koalisi partai dalam penyusunan kabinet. Jawaban kedua capres cenderung hanya sebatas wacana yang sulit dan tidak mungkin bisa dilaksanakan, seperti pembentukan zaken kabinet, atau koalisi ikhlas.
Untuk kasus upaya menyehatkan demokrasi juga tidak ada jawaban yang secara radikal mampu memberikan alternatif yang memungkinkan untuk direalisasikan. Kedua capres terkesan ragu dan ada kehawatiran menjadi bumerang.
Debat capres harus bisa dipertanggungjawabkan, karena menjadi bagian alat kontrol pada saat terpilih jadi presiden. Apa yang disampaikan ke publik bukan alat untuk sekadar mempengaruhi pemilih, tetapi harus menjadi kontrak politik dengan rakyat. Implikasinya, rakyat akan menuntut jika komitmen yang disampaikan ke publik tidak terpenuhi atau tidak terimplementasikan.
Debat capres tidak bisa digeneralisasi untuk menyimpulkan pilihan pada capres tertentu, karena alat ukurnya berbeda-beda. Biarlah rakyat menentukan pilihannya seperti yang dilihat, didengar dan diterjemahkannya, sehingga membentuk persepsi politik yang tumbuh dari akal sehat dan nuraninya.
Pada Senin (9/6) di Balai Sarbini Jakarta, telah berlangsung debat Capres-Cawapres perdana yang bertema "Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Kepastian Hukum".
Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden hadir dalam debat itu, dengan menggunakan pakaian seragam masing-masing.
Pasangan capres-cawapres nomor urut 1 Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa menggunakan pakaian putih lengan panjang dan celana warna krem dengan songkok warna hitam.
Sedangkan pasangan calon nomor urut 2, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla menggunakan jas dengan pakaian warna putih dan dasi warna merah.
Format debat terdiri enam segmen, pertama penyampaian visi dan misi, pendalaman visi misi, pertanyaan soal tema, pertanyaan antarkandidat, tanya jawab penutup, dan terakhir pernyataan penutup masing-masing pasangan.
Debat capres-cawapres berlangsung selama 90 menit dengan dipandu moderator, yaitu Direktur Pusat Kajian Anti-Korupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada Yogyakarta Zaenal Arifin Mochtar.
Sebelum debat dimulai, dua kelompok simpatisan pasangan capres-cawapres Pemilu Presiden 2014 ini sempat saling meneriakkan yel-yel menyambut pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK.
Berbeda dengan massa Jokowi-JK, kelompok massa dari kubu Prabowo-Hatta didominasi oleh para pemuda.
Dua kelompok massa tersebut bergerombol di depan dua pintu masuk Balai Sarbini yang disiapkan untuk menyambut dua pasangan peserta itu yang masuk dari pintu yang berlainan.
Pewarta : Dr Syarief Makhya
Editor:
Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
