Logo Header Antaranews Lampung

Aktivis Protes Lewat Diskusi Musikal

Selasa, 6 Mei 2014 07:36 WIB
Image Print

Bandarlampung (Antara Lampung) - Sejumlah aktivis di Lampung melalui Band Sindikat Musik Penghuni Bumi (Simponi), Komnas Perempuan, Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR dan IAIN Raden Intan Bandarlampung, menggelar serangkaian diskusi musikal, di antaranya membahas masalah kekerasan seksual.
Menurut Direktur Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR, Sely Fitriani, di Bandarlampung, Selasa, gelar aksi protes lewat pentas musikal diawali di IAIN Raden Intan Bandarlampung pada Senin (5/5) itu, diberi nama "Sister in Danger Tour 2014" sebagai bentuk protes kepada negara yang dinilai tidak bisa menjamin keamanan warganya.
"Diskusi musikal adalah kombinasi dari musik akustik dengan presentasi dan diskusi interaktif. Selama presentasi dan diskusi berlangsung, Simponi memainkan instrumen dan menyanyikan delapan lagu yang relis evan dengan materi yang sedang dibahas," ujarnya lagi.
Selain materi tentang fakta korban, bentuk, dampak dan pelaku kekerasan seksual, juga dibahas tentang keadilan gender, hak asasi manusia (HAM) dan solusi yang bisa dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa dalam menghadapi masalah yang sangat penting ini.
"Durasi diskusi musikal berlangsung sekitar dua jam," kata Sely, didampingi Manager Simponi M Berkah Gamulya.
Pentas tersebut juga sebagai bentuk kecaman kepada penegak hukum yang tidak berpihak kepada korban, dan salah satu bentuk pendidikan untuk mencegah adanya korban dan pelaku kekerasan seksual di masa depan.
"Sister in Danger Tour 2014 akan berlangsung pada 3 hingga 30 Mei 2014 pada 16 sekolah dan universitas yang berada di 10 kota di Banten dan Sumatera, yaitu Serang, Lampung, Bengkulu, Padang, Bukittinggi, Rantauprapat, Kota Pinang, Medan, Banda Aceh, Palembang, serta untuk di Provinsi Lampung diselenggarakan Senin, 5 Mei 2014, di Gedung Serba Guna IAIN Raden Intan Bandarlampung," kata Sely pula.
Direktur LSM DAMAR itu mengungkapkan adanya kasus kekerasan seksual yang terjadi, seperti korban Ni dan Na yang diperkosa tiga orang yang baru dikenal (di Lampung Selatan).
Lalu RI, 7 tahun, anak yang menjadi korban kekerasan seksual (di Bandarlampung), juga DE, 14 tahun remaja jadi korban kekerasan saat masih berpacaran (di Bandarlampung).
Selanjutnya ST, 15 tahun, remaja putus sekolah karena malu yang jadi korban kekerasan seksual (di Bandarlampung).
"Mereka adalah contoh beberapa korban kekerasan seksual pada 2014. Atas dasar kemarahan, kekhawatiran dan kepedulian masih marak kasus kekerasan seksual ini, sejak tahun 2013, Simponi, Komnas Perempuan, Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR, IAIN Raden Intan beserta banyak organisasi lain mengkampanyekan stop kekerasan seksual lewat diskusi musikal untuk menjangkau kalangan muda yang menjadi korban dan juga pelaku terbanyak," kata Sely lagi.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026