Logo Header Antaranews Lampung

Cak Nun: Warga Lampung Harus Saling Percaya

Minggu, 17 November 2013 22:02 WIB
Image Print
Budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam dialog Sekala Selampung di Bandarlampung, Sabtu (16/11) malam. Hadir pula Ketua Komnas-HAM SN Laila (tengah) dan Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo (kiri).(Foto: ANTARA LAMPUNG/Zukri Fahmi-Humas PT CP P

Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengajak warga Provinsi Lampung harus saling mempercayai dan dalam setiap beraktivitas jangan membedakan agama maupun suku.

"Masyarakat Lampung harus bisa saling percaya untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama," kata Cak Nun pada dialog publik "Sekala Selampung, Lampung Rumah Bersama" bertema Tausiah Cinta untuk Indonesia, di lapangan Korpri kantor gubernur/DPRD Lampung, di Bandarlampung, Sabtu (16/11) malam.

Menurut Cak Nun, untuk membangun daerah menjadi lebih maju lagi, rasa saling percaya itu harus dijaga dan dipelihara bersama agar jangan sampai menodai kepercayaan yang telah diberikan.

"Dengan rasa saling percaya itu, akan tercipta masyarakat yang saling menghargai satu sama lainnya tanpa memandang dari mana asalnya. Sekala Lampung ini tentunya menjadi wadah tempat berkumpul bagi seluruh lapisan masyarakat dari berbagai macam latang belakang di daerah ini," katanya lagi.

Sekala Selampung bisa menjadi wadah atau tempat bagi masyarakat mengeluarkan semua pemikiran mereka untuk bisa memecahkan suatu permasalahan yang terjadi di daerah ini, ujarnya.

Cak Nun menegaskan bahwa kegiataan itu tidak memihak dan jangan sampai dijadikan ajang untuk kampanye dengan membela kandidat tertentu.

"Ini sebagai wadah kejujuran bagi masyarakat Lampung, dengan bersikap jujur diharapkan bisa memecahkan masalah," katanya.

Ia mengatakan bahwa masyarakat perlu belajar untuk lebih jujur dan saling percaya, tanpa harus melihat perbedaan satu sama yag lainnya.

Cak Nun berharap kegiatan seperti ini patut diselenggarakan satu kali dalam satu bulan dan harus ada hasil dalam setiap pembahasan yang akhirnya nanti dapat membantu pemerintah.

"Kegiatan seperti ini memang sangat baik dan bila perlu jangan hanya di Kota Bandarlampung saja, kota dan kabupaten lainnya pun bisa," kata dia lagi.

Kendati hujan mengguyur Kota Bandarlampung, tidak menghalangi warga datang mengikuti dialog publik bersama Cak Nun ini

Sekala Selampung ini diselenggarakan didukung perusahaan tambak udang PT Centralproteina (CP) Prima, FISIP Universitas Lampung (Unila), dan Dewan Kesenian Lampung (DKL).

Hujan tidak menyurutkan langkah warga Lampung untuk menyaksikan dialog sekaligus tausiah cinta untuk Indonesia yang disampaikan Cak Nun, meskipun air hujan mengguyur pula panggung acara.

"Sekala Selampung ini diselenggarakan untuk menjadi wadah bagi masyarakat Lampung memecahkan suatu masalah maupun polemik yang ada di tengah masyarakat," kata Drs Ikram Baadillah MSi, dosen FISIP Unila, salah satu penyelenggara acara tersebut.

Dia mengatakan, Provinsi Lampung yang dihuni masyarakat dari berbagai macam budaya dan agama, warga daerah ini itu dapat berkumpul di sini untuk memecahkan masalah yang ada.

"Dengan adanya forum diskusi ini, diharapkan dapat membantu Pemerintah Provinsi Lampung untuk mengatasi masalah sosial yang terjadi pada saat ini, katanya pula.

"Lampung rentan dengan berbagai permasalahan dan rawan konflik sosial, sehingga dengan adanya forum diskusi ini ke depan kita dapat menyelesaikan semua permasalahan itu secara bijaksana," kata dia.

Menurut Sugianto, juga dosen FISIP Unila, kegiatan dialog ini untuk masyarakat Lampung agar berani jujur dalam berbicara.

"Masyarakat Lampung yang pluralis adalah sebuah keniscayaan, dan itu perlu dijaga keakrabannya," katanya lagi.

Dia mengatakan, belajar dan berani jujur dalam sebuah perbedaan merupakan keberanian untuk mengakui keberagaman.

Itu adalah bentuk energi dalam pentas yang menjunjung tinggi nilai kejujuran, ujarnya lagi.

"Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memajukan Lampung agar lebih jaya lagi," katanya pula.

Menurut Cak Nun, Lampung memang harus mempunyai identitas, sehingga dengan adanya kegiatan ini dan ke depan dapat terus secara rutin digelar untuk dapat mencari solusi atas permasalahan yang ada.

"Kegiatan ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan sosial yang terjadi saat ini," katanya lagi.

Ia mengajak semua pihak untuk dapat menjadikan Lampung sebagai rumah bersama bagi semua budaya dan agama, jangan sampai timbul konflik karena adanya permasalahan di antara warga di daerah ini.

Acara seperti ini, menurut Cak Nun, juga wajib dijaga sebagai alternatif dialog dalam rumah bersama bagi semua agama dan ideologi.

"Mari semua ini dijaga agar selalu menjadi ruang untuk bersama hidup damai di daerah ini dalam kebersamaan dan toleransi," ujar Emha lagi.

Turut hadir dalam forum ini, budayawan yang juga arsitek Lampung Ir H Anshori Djausal MT, Wakil Bupati Tulangbawang Heri Wardoyo, Ketua Komnas-HAM SN Laila, Wakil Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan sejumlah tokoh lainnya.

Acara diawali dengan menyanyikan sejumlah lagu wajib Indonesia dan daerah (Lampung), penampilan performance Jazz Cetik, pembacaan puisi Cahyono ES, penampilan Jamus Kalimasada dari Metro Lampung, dan monolog.

Dalam dialog hadir perwakilan warga Lampung dari beragam etnis, adat, dan agama yang membaur bersama-sama membahas berbagai hal.



Pewarta :
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2026