Logo Header Antaranews Lampung

WHO Soal Penularan Mers-Cov Orang-Ke-Orang

Selasa, 11 Juni 2013 12:43 WIB
Image Print
World Health Organization (WHO). (Dok. WHO).
Tampaknya ada tiga pola epidemiologi virus itu dan yang pertama adalah kasus sporadis yang terjadi pada masyarakat."

Jenewa (Antara/Xinhua-OANA) - Tak ada bukti penularan luas orang-ke-orang koronavirus sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV), kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Senin (10/6), setelah para ahli mengakhiri penyelidikan di Arab Saudi.

Sekalipun mulanya diduga virus itu telah menular dari orang ke orang, tampaknya itu terjadi karena kontak erat antara seseorang yang sakit dan orang lain: anggota keluarga, sesama pasien atau pekerja perawatan kesehatan, kata WHO.

Satu misi gabungan Arab Saudi dan WHO bertemu di Riyadh antara 4 dan 9 Juni guna menilai kondisi koronavirus baru di negeri tersebut.

WHO menyatakan kasus MERS pertama yang didokumentasikan terjadi di Jordania pada awal 2012. Secara global, setakat ini, telah ada 55 kasus yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk 31 kematian.

Di antara semua kasus tersebut, 40 telah terjadi Arab Saudi, dan sisanya telah dilaporkan dari negara lain di Timur Tengah, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, selain dari Tunisi di Afrika Utara, dan dari Prancis, Jerman, Italia serta Inggris di Eropa, kata WHO.

Misi itu mendapati bahwa sejauh ini, sebanyak 75 persen kasus di Arab Saudi tersebut telah terjadi pada lelaki dan kebanyak telah terjadi pada orang yang memiliki satu atau lebih kondisi kronis utama.

Misi itu juga mendapati jauh lebih sedikit penularan MERS-CoV telah dilaporkan pada pekerja perawatan kesehatan di negeri tersebut dibandingkan dengan perkiraan semulai, dengan dasar pengalam sebelumnya dalam kasus SARS. Selama wabah SARS, pekerja perawatan kesehatan menghadapi resiko tinggi untuk tertular.

Misi itu mengatakan meskipun tidak jelas mengapa lebih sedikit pekerja perawatan kesehatan yang telah tertular MERS-CoV, mungkin saja itu terjadi karena ada peningkatan dalam pengendalian penularan setelah wabah SARS, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa.

Misi tersebut menyimpulkan negara itu telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam penyelidikan dan pengendalian wabah tersebut.

Tampaknya ada tiga pola epidemiologi virus itu dan yang pertama adalah kasus sporadis yang terjadi pada masyarakat, katanya.

"Saat ini, kami tidak mengetahui sumber atau bagaimana orang ini tertular," kata misi tersebut.

Dua pola lain adalah kelompok penularan yang terjadi pada keluarga, dan kelompok penularan di instalasi perawatan kesehatan.

Perawatan, katanya, juga adalah pendukung utama dan tak ada data yang meyakinkan bahwa penggunaan agen antivirus ampuh, seperti ribavirin dan interferon, memberi manfaat. Penggunaan steroid dalam dosis tinggi mesti dihindari.

WHO mendesak semua negara agar memastikan pekerja perawatan kesehatan mereka sadar mengenai virus dan penyakit yang dapat ditimbulkannya, dan ketika diidentifikasi kasus radang paru-paru yang tak bisa dijelaskan, MERS-CoV bisa dipertimbangkan.

Ditambahkannya, jika kasus MERS-CoV ditemukan, kasus tersebut mesti dilaporkan ke WHO.

Penerjemah: Chaidar.



Pewarta :
Editor: M. Tohamaksun
COPYRIGHT © ANTARA 2026