Park Geun-hye Dobrak Tradisi Korea Selatan

id Korea Selatan

Park Geun-hye Dobrak Tradisi Korea Selatan

Park Geun-hye (asianews.it)

Tradisi presiden Korea Selatan yang selama ini selalu pria terpatahkan, pada 25 Februari 2013.
        
Park Geun-hye, seorang wanita, pada tanggal itu dilantik menjadi presiden wanita pertama Negeri Ginseng tersebut, setelah dirinya memenangi pemilihan Presiden 19 Desember 2012.
        
Wakil Presiden Boediono beserta sejumlah pemimpin negara asing hadir dalam pengangkatan sumpah Presiden Korsel ke-18 di Plaza Dewan Nasional yang dilakukan di ruangan terbuka dengan suhu udara cukup dingin.
        
Dia pada pemilu meraih suara 51,6 persen, yang berarti menggantikan Presiden Lee Myung-bak.
        
Wanita yang lahir di Daegu, 2 Februari 1952 itu, berhasil mengikuti jejak ayahnya Park Chung-hee yang juga pernah menjadi Presiden Korsel pada 17 Desember 1963-26 Oktober 1979.
        
Park adalah anak pertama dari pasangan Park Chung-hee dan Yuk Young-soo. Dia memiliki seorang adik pria bernama Park Ji-man, dan adik perempuan Park Seoyeong. Park sang Presiden sendiri belum pernah menikah.
        
Dalam tahun 1953, keluarga pindah ke Seoul dan Presiden Park lulus sekolah dasar di Seoul, menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Kebudayaan China di Taiwan tahun 1987, juga dari Universitas Nasional Pukyong dan KAIST" tahun 2008, and Universitas Sogang tahun 2010.
         
Karir ayahnya sebagai Presiden berakhir tragis, karena dibunuh pada 26 Oktober 1979 di Seoul oleh orang yang menjadi lawan politiknya.
        
Jadi sebenarnya Park Geun-hye sebenarnya bukan orang baru yang terjun di dunia politik, karena ayahnya juga pernah menduduki kursi nomor satu di Korsel.
        
Sebagai anak mantan Presiden Korsel, dia tentunya memahami betul dan pernah tinggal di Istana Biru, sebutan istana Presiden Korsel, saat masih anak-anak sampai ketika ayahnya tewas dibunuh.
        
Park masih berusia sembilan tahun ketika ayahnya Park Chung-Hee menduduki jabatan Presiden dalam sebuah kudeta militer yang selanjutnya menduduki jabatan selama 18 tahun pemerintahan otoriter.
        
Kemenangan Park sebagai Presiden wanita pertama, juga dilakukan dengan cara sama, yaitu melalui suatu referendum warisan ayahnya, yang namanya masih memicu emosi bagi kalangan warga Korea Selatan.
        
Park memang dikagumi karena dalam pesannya menginginkan negara keluar dari kemiskinan, namun juga dicerca di sejumlah lokasi Pemilu saat berkampanye Desember 2012.
     
Park tampaknya memahami jika banyak warga Korsel yang tidak menyukai cara ayahnya memimpin, sehingga dalam upaya rekonsiliasi secara terbuka meminta maaf kepada masyarakatnya yang menjadi korban saat kepemimpinan ayahnya.
        
Dia berada di Perancis pada 1974 untuk mengikuti sekolah pascasarjana, ketika ibunya tewas dibunuh oleh seorang penembak yang sebenarnya ditujukan untuk ayahnya.  
   
Duka Park tidak berhenti disitu, ketika dia terpaksa harus meninggalkan Istana Kepresidenan saat ayahnya ditembak mati oleh pengawalnya pada tahun 1979.
        
Darah politiknya yang berasal dari ayahnya tampaknya mengakir di tubuh Park dan dia memulai karir politiknya pada 1998 sebagai anggota parlemen di kampung halamannya.
        
Sebagai wanita yang berusia 61 tahun, Presiden Park tidak menikah sehingga tidak memiliki anak.
      
Kondisi ini yang dia gunakan untuk menaikan popularitasnya dalam menjadi presiden yang berupaya menghapuskan korupsi.
        
"Saya tidak memiliki keluarga untuk  dirawat dan tidak memiliki anak-anak untuk diurus kesehatannya" kata Park dalam pidato televisi pada hari terakhir kampanye.
        
"Kalian, masyarakat, adalah keluarga saya dan kebahagiaan masyarakat adalah alasan bahwa saya mengurusi politik," tambahnya.
        
Citra politiknya tersebut mendapat tentangan dari lawan politiknya, mendapat sebutan seorang aristokrat sendiri beripa "Ratu es".
        
Sekalipun dirinya mendapat tentangan, tapi lawan-lawan politiknya akhirnya harus mengakui keberhasilannya saat melakukan kampanye yang berhasil mengantarkannya menjadi Presiden Korsel.
        
Dalam tugasnya dalam lima tahun mendatang, Park menghadapi tantangan yang sangat besar, seperti dengan memulihkan perekonomian Korsel.
        
Korsel saat ini menduduki urutan kelima belas ekonomi terbesar dunia, yang berarti mengakhiri situasi "booming" perekonomiannya.
        
Bank Sentral memprediksi pertumbuhan ekonomi Korsel tahun ini hanya mencapai 2,4 persen.
        
Angka itu jauh lebih rendah saat Presiden Lee Myung-bak menjanjikan pertumbuhan hingga tujuh persen.
        
Sejumlah kalangan menilai target pertumnbuhan ekonomi tujuh persen adalah tidak realistis dan terlalu ambisius.
        
Saat Park melakukan kampanye pencalonan menjadi presiden, sejumlah pihak menyerang dirinya dan memperingatkan bahwa "Keturunan seorang diktaktor tidak akan merubah seperti kekejaman ayahnya".
         
Namun Presiden Park telah mengisyaratkan bahwa dirinya akan menjalankan kepemimpinan dengan baik, dan bahkan kemungkinan akan melakukan pertemuan puncak dengan seterunya, Korea Utara.