Logo Header Antaranews Lampung

Israel Bertindak Jika Perang Suriah Capai Perbatasan

Selasa, 5 Maret 2013 08:44 WIB
Image Print

PBB (Antara/Reuters) - Israel mengingatkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Senin bahwa negara tersebut tidak bisa "berdiam diri" saat perang saudara di Suriah sudah merembet ke daerah perbatasan.

Sementara itu Rusia menanggapi protes Israel tersebut dengan menuduh kelompok bersenjata di Suriah telah memicu ketegangan di antara dua negara dengan bertempur di zona demiliterisasi.

Duta Besar Israel untuk PBB Ron Prosor menulis kepada 15 anggota Dewan Keamanan untuk memprotes peluru-peluru dari Suriah yang telah mencapai teritori Israel.

"Israel tidak bisa berdiam diri saat kehidupan warga negaranya terancam oleh tindakan-tindakan pemerintah Suriah yang tidak mempertimbangkan akal sehat," tulis Proso.

"Israel telah berupaya menahan diri sejauh ini," kata dia.

Israel sendiri dikenal sebagai negara yang tidak bisa diam. Sebelumnya Menteri Pertahanan negara tersebut Ehud Barak mengatakan bahwa serangan dengan target kompleks persenjataan Suriah pada 30 Januari lalu menunjukkan bahwa Israel sangat serius mencegah arus senjata berat ke Lebanon.

Dengan jumlah pengungsi hampir mencapai satu juta orang yang membanjiri Turki, Yordania, Iraq, dan Lebanon, PBB mengingatkan bahwa perang saudara di Suriah telah memicu perseteruan sektarian yang dapat membahayakan kestabilan kawasan.

Sementara itu Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin, yang juga merupakan presiden Dewan Keamanan pada Maret, mengatakan bahwa ketegangan antara Israel dan Suriah disebabkan karena "fenomena baru yang sangat membahayakan", yaitu munculnya kelompok bersenjata di area pemisah antara kedua negara di Golan Heights.

Israel merebut wilayah Golan Heights dari Suriah dalam perang 1967. Pasukan Suriah tidak diizinkan memasuki wilayah pemisah tersebut di bawah kesepakatan gencatan senjata pada 1973. Kedua negara itu secara teknis masih berada dalam kondisi perang.

Saat ini, penjaga keamanan PBB berpatroli di area Golan Heights.

"Hadirnya kelompok bersenjata dia area pemisah secara potensial dapat mengancam hubungan keamanan antara Suriah dan Israel," kata Churkin kepada wartawan, sambil menambahkan bahwa pasukan penjaga keamanan PBB bernama UNDOF di area pemisah tidak dapat mengatasi situasi terbaru.

"Sayangnya, UNDOF tidak diizinkan untuk mengatasi situasi terbaru di area pemisah karena mereka hanya berfungsi sebagai pengawas yang tidak bersenjata," kata Churkin.

Di sisi lain, pemerintah Kroasia pada Kamis lalu berencana untuk menarik anggotanya di UNDOF sebagai tindakan pencegahan setelah media melaporkan bahwa senjata dari negara tersebut telah dikirim kepada gerilyawan Suriah.

Kroasia mempunyai 98 tentara dalam pasukan yang berkekuatan 1.000 personil itu.

Penerjema : GMN Lintang/A Krisna



Pewarta :
Editor: Hisar Sitanggang
COPYRIGHT © ANTARA 2026