Logo Header Antaranews Lampung

Pemerintah Libya Kuasai Kembali Bandara Tripoli

Selasa, 5 Juni 2012 16:37 WIB
Image Print
Situasi sangat membingungkan. Semua orang lari."

Tripoli (ANTARA/AFP) - Pihak berwenang Libya menguasai kembali Bandara Internasional Tripoli ysng diduduki mantan pemberontak Senin, mengepung pesawat-pesawat dan melarang terbang setelah pemimpin mereka ditahan, kata pejabat.

Pihak berwenang memerlukan sampai Senin petang untuk merebut kembali bandara ketika pasukan pemerintah menyerbu seusai perundingan dengan milisi itu mengalami kegagalan, kata wakil menteri dalam negeri Omar al-Khadrawi kepada wartawan.

Penerbangan diperkirakan tidak bisa dimulai kembali setidaknya 24 jam karena kerusakan prasarana bandara itu.

Serangan itu dilakukan oleh pria-pria bersenjata yang melepaskan tembakan ke udara dan mencederai seorang karyawan bandara itu, yang menimbulkan kepanikan dikalangan para calon penumpang, kata kantor berita resmi LANA.

"Situasi sangat membingungkan. Semua orang lari," kata seorang pejabat di bandara itu kepada AFP, dan menambahkan beberapa kendaraan lapis baja disiagakan di bandara itu yang menghambat lalu lintas.

Mobil-mobil yang membawa meriam anti-pesawat dan pria-pria bersenjata mengepung pesawat, dan melarang mereka bergerak," kata seorang pejabat lainnya dan menambahkan sejumlah calon penumpang terpaksa meninggalkan pesawat-pesawat.

Motif dari pria-pria brsenjata adalah untuk mendesak pemerintah menjelaskan keberadaan pemimpin mereka, Abu Ajila al-Habshi, kata LANA.

Komisi keamanan Tripoli, yang menjawab pertanyaan kementerian dalam negeri mengatakan tidak ada urusan dengan kehilangan dan penculikan Kolonel Abu Ajila al-Habshi dan pihaknya masih mencari mereka yang bertanggungjawab atas masalah itu.

Serangan itu memaksa pengalihan beberapa penerbangan ke pangkalan udara militer Matiga Tripoli termasuk ke dan dari Amman, Istambul, Roma dan Wina, kata para pejabat dan situs-sutus yang memantau penerbangan.

"Para anggota brigade Al-Awfya memasuki pesawat itu. Mereka bersenjata lengkap dan mereka memaksa kami keluar," kata Ahmed Loshta, seorang warga Tripoli yang menurut rencana akan ke Italia, kepada AFP.

Belasan truk yang membawa meriam-merian anti-pesawat tiba dilokasi itu segera sebelum mata hari terbenam. Kedatangan mereka disusul dengan tembakan-tembakan senjata api, kata seorang wartawan AFP di lokasi itu.

Pasukan pemerintah melakukan tindakan itu setelah perundingan gagal, kata wakil menteri dalam negeri.

"Pihak berwenang telah menguasai sepenuhnya bandara itu," kata Khadrawi kepada waratwan setelah operasi itu dan menambahkan puluhan penyerang ditahan dan senjata-senjata mereka dilucuti.

Dewan Transisi Nasional (NTC) yang berkuasa memberikan wewenang kepada kementerian-kementerian dalam negeri dan pertahanan, yang mengawasi konstelasi luas brigade-brigade dari bekas pemberontak, untuk "menggunakan segala cara yang diperlukan, termasuk kekuatan militer" untuk merebut kembali bandara itu.

"Sejumlah penyerang lari dan yang lainnya menyerah diri tanpa perlawanan," katanya dan menambahkan antara 30 sampai 40 orang ditahan.

Khadrawi mengatakan "para penyabot" juga meledakkan satu hangar dan membakar lapangan sekitar bandara itu.

"Kami memberitahu maskapai-maskapai penerbangan bahwa bandara itu akan ditutup dalam 24 jam ke depan," katanya dan menambahkan masalah-masalah teknis perlu diselesaikan sebelum penerbangan dapat dimulai kembali.

NTC masih berusaha untuk mengintegrasikan secara penuh para warga Libya yang berperang melawan pasukan Muamar Gaddafi sebelum mantan orang kuat Libya itu digulingkan dan dibunuh Oktober tahun lalu. (ANTARA).



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026