
Stok Beras Di Waykanan Menipis

Liwa (ANTARA LAMPUNG) - Stok beras di Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung menipis sehubungan produksi padi di daerah itu tidak mencapai target.
Cahyono, salah seorang pedagang di Pasar Pemda Waykanan, saat dihubungi, Sabtu, mengatakan dirinya tidak lagi mempunyai stok beras yang biasa ia ambil dari daerah Banjit Waykanan.
"Harga beras di pasar baru-baru ini naik Rp500, dari Rp6.500 menjadi Rp7 ribu perkilogram, tapi sudah sekitar satu minggu ini kosong, belum ada kiriman lagi dari Banjit," kata dia menjelaskan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Waykanan Amalia Rizkiyanti membenarkan jika produksi padi di daerah Banjit tidak mencapai target.
Selain itu, sebagian petani memilih menyimpan gabah dan diperkirakan akan menjualnya jika harga matadagangan itu meningkat.
"Untuk di Banjit produksi padi memang tidak maksimal, namun di Kecamatan Bahuga hasilnya cukup baik sehingga masih bisa mengatasi ketersediaan pangan di daerah ini," terang dia.
Darto, petani Kampung Pasar Banjit Kecamatan Banjit mengatakan, produksi padi pada musim panen lalu tidak maksimal akibat penyakit "patah leher" yang disebabkan terlambatnya masa tanam.
"Biasanya bulan Januari tanam padi sudah rapi, namun tahun ini baru bulan Maret petani bisa menanam karena permasalahan irigasi yang belum dibuka," kata dia.
Ia menambahkan, hasil padi yang ia dapatkan dari sawah seluas dua hektar hanya 1,7 kuintal, turun sekitar satu ton dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai 2,5 ton sehingga pendapatannya saat ini juga berkurang.
"Biaya rata-rata untuk bertanam padi sebesar Rp3 juta rupiah, untuk membajak biayanya Rp800 ribu per hektarnya, lalu pupuk untuk satu hektarnya menghabiskan 4,5 kuintal, campuran urea dan poska," jelas dia.
Harga pupuk urea per kuintal Rp85 ribu adapun poska Rp150 ribu, belum lagi untuk benih dan tenaga, ujar Darto, seraya menambahkan jika harga beras di tingkat petani tetap stabil, Rp5.900 per kilogram.
(ANTARA/PSO-049)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
