Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi di Pulau Curiak
Minggu, 10 April 2022 5:25 WIB
Seekor bayi bekantan yang baru saja lahir di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala bersama induknya. (ANTARA/Firman)
Banjarmasin (ANTARA) - Seekor bayi bekantan lahir di luar kawasan konservasi Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel), yang dikelola Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan pemerintah daerah setempat.
"Lahir dalam kawasan Stasiun Riset Bekantan dari seekor bekantan betina dewasa kelompok alpha," kata founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Sabtu.
Ia mengatakan peristiwa langka itu merupakan kelahiran pertama bayi bekantan di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2022. Sebelumnya, tahun 2019 telah lahir tujuh ekor bekantan, sehingga total delapan ekor bekantan yang dilahirkan sejak stasiun riset itu diresmikan tahun 2018.
Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi bekantan merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Di kawasan pulau kecil yang dikelola dan dijaga oleh SBI serta masyarakat nelayan setempat telah berhasil menyumbang penambahan populasi bekantan di Indonesia.
Amel berharap semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai.
Tidak saja bagi upaya penyelamatan bekantan, tetapi juga nasib nelayan tradisional yang bergantung pada sungai serta hutan mangrove sebagai tempat bagi ikan air tawar yang menjadi penghidupan nelayan sekitar.
Untuk menyelamatkan bekantan yang tersisa di kawasan Pulau Curiak, Amel dan tim di SBI melakukan tiga program penting dan strategis di bidang konservasi.
Pertama, membangun "greenbelt" (sabuk hijau) sebagai kawasan penyangga habitat bekantan. Kedua, program "buy back land" atau membeli kembali lahan yang telah beralih fungsi. Ketiga, restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan.
Stasiun Riset Bekantan merupakan role model pengelolaan kawasan habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang telah berhasil merestorasi habitat bekantan dan melakukan penambahan populasi monyet berwarna oranye dan berhidung panjang secara alami mencapai 100 persen lebih dalam kurun waktu 5 tahun.
Awalnya pada tahun 2016, populasi bekantan yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan di Pulau Curiak sekitar 14 ekor. Kemudian sampai bulan April 2022 ini telah bertambah menjadi 31 ekor.
"Lahir dalam kawasan Stasiun Riset Bekantan dari seekor bekantan betina dewasa kelompok alpha," kata founder Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) Foundation Amalia Rezeki di Banjarmasin, Sabtu.
Ia mengatakan peristiwa langka itu merupakan kelahiran pertama bayi bekantan di kawasan Stasiun Riset Bekantan sepanjang tahun 2022. Sebelumnya, tahun 2019 telah lahir tujuh ekor bekantan, sehingga total delapan ekor bekantan yang dilahirkan sejak stasiun riset itu diresmikan tahun 2018.
Menurut Amel, sapaan akrab Amalia Rezeki, kelahiran bayi bekantan merupakan sebuah capaian yang luar biasa. Di kawasan pulau kecil yang dikelola dan dijaga oleh SBI serta masyarakat nelayan setempat telah berhasil menyumbang penambahan populasi bekantan di Indonesia.
Amel berharap semua pemangku kepentingan bisa saling membantu satu sama lain menyelamatkan bekantan di kawasan tersebut dengan menjaga habitatnya yang tersisa agar tidak beralih fungsi yang dapat merusak habitat bekantan dan ekosistem hutan mangrove rambai.
Tidak saja bagi upaya penyelamatan bekantan, tetapi juga nasib nelayan tradisional yang bergantung pada sungai serta hutan mangrove sebagai tempat bagi ikan air tawar yang menjadi penghidupan nelayan sekitar.
Untuk menyelamatkan bekantan yang tersisa di kawasan Pulau Curiak, Amel dan tim di SBI melakukan tiga program penting dan strategis di bidang konservasi.
Pertama, membangun "greenbelt" (sabuk hijau) sebagai kawasan penyangga habitat bekantan. Kedua, program "buy back land" atau membeli kembali lahan yang telah beralih fungsi. Ketiga, restorasi mangrove rambai dengan menanam kembali pohon mangrove, khususnya jenis pohon rambai yang merupakan tegakan dan pakan utama bekantan.
Stasiun Riset Bekantan merupakan role model pengelolaan kawasan habitat bekantan di luar kawasan konservasi yang telah berhasil merestorasi habitat bekantan dan melakukan penambahan populasi monyet berwarna oranye dan berhidung panjang secara alami mencapai 100 persen lebih dalam kurun waktu 5 tahun.
Awalnya pada tahun 2016, populasi bekantan yang menjadi maskot fauna Kalimantan Selatan di Pulau Curiak sekitar 14 ekor. Kemudian sampai bulan April 2022 ini telah bertambah menjadi 31 ekor.
Pewarta : Firman
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Semen Indonesia terus dorong penerapan efisiensi dan konservasi energi di proses produksi
29 September 2022 8:19 WIB, 2022
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
BMKG prakirakan kota-kota besar di Indonesia, termasuk Lampung diguyur hujan
26 January 2025 7:40 WIB, 2025
DMC Dompet Dhuafa membuka pos bagi penyintas erupsi Gunung Ibu Halmahera
24 January 2025 10:21 WIB, 2025
BMKG prakirakan hujan guyur mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Bandarlampung
22 January 2025 5:35 WIB, 2025
BNPB lakukan operasi modifikasi cuaca untuk kurangi banjir di Bandarlampung
20 January 2025 12:11 WIB, 2025
Jihan Nurlela sebut perlu revitalisasi mangrove untuk maksimalkan ekowisata
12 January 2025 5:06 WIB, 2025