Bandung (ANTARA) - Peneliti di Observatorium Bosscha Yatny Yulianty menguak keistimewaan gerhana bulan total Super Blood Moon yang akan terjadi pada Rabu.
Fenomena ini berlangsung karena matahari, bumi, dan bulan berada pada posisi sejajar dan hal ini dikarenakan bulan bergerak mengelilingi bumi sesuai orbit (garis edar).
“Peristiwa gerhana bulan itu (merupakan) peristiwa yang sebetulnya bersiklus, berulang, karena ketiga benda tadi akan bergerak dalam satu keharmonisan, jadi (gerhana bulan merupakan) sebuah fenomena alam yang akan berulang dan sekarang sudah bisa dengan sangat baik diprediksi kapan akan terjadi lagi, di mana kita bisa melihatnya, itu sudah sangat bisa diprediksi secara astronomi,” kata Yatny Yulianty, dalam siaran pers Biro Humas ITB, Rabu.
Sementara itu Astronom Bosscha, Agus Triono menjelaskan, gerhana bulan total terjadi ketika hanya sebagian saja bayangan bumi yang menutupi bulan sedangkan gerhana bulan penumbra sulit dilihat secara kasat mata karena tidak terlalu berbeda dengan bulan purnama.
“Terjadinya gerhana bulan tergantung pada konfigurasi bagaimana posisi bulan relatif terhadap bumi dan matahari atau posisi bumi relatif terhadap bulan dan matahari. Disebut (gerhana bulan) total kalau misalnya bayangan (inti) bumi (umbra) secara total menutupi bulan kalau kita lihat dari arah kita, dari sudut pandang kita,” kata Agus Triono.
Keistimewaan gerhana 26 Mei 2021 adalah terjadi saat bulan berada dalam posisi terdekat dengan bumi karena bentuk orbit bulan terhadap bumi adalah elips, bukan lingkaran sempurna.
Hal ini menyebabkan penampakan bulan pada 26 Mei 2021 akan sedikit lebih besar daripada biasanya, dan warnanya akan tampak lebih terang sebelum terjadi gerhana bulan total.
Oleh karena itu, saat memasuki fase gerhana total masyarakat dapat melihat perbedaan secara jelas sebelum dan saat terjadi GBT yang akan berwarna kemerahan maka dari itu gerhana bulan kali ini disebut sebagai Super Blood Moon.
Bulan mulai memasuki fase gerhana (bulan memasuki bayangan umbra bumi) pada pukul 16.44 WIB.
Pada saat itu bulan belum terlihat di wilayah Indonesia bagian Barat karena masih di bawah ufuk, tetapi bulan sudah terbit di wilayah Indonesia bagian Timur.
Fase gerhana total terjadi pada pukul 18.11 WIB dan berlangsung selama 14 menit sehingga pada pukul 18.11-18.29 WIB bulan akan terlihat kemerahan.
Gerhana bulan benar-benar berakhir pada pukul 20.49 WIB.*
Yatny mengatakan gerhana bulan tahun ini akan terjadi dua kali yakni Gerhana Bulan Total (GBT) pada 26 Mei 2021 dan Gerhana Bulan Sebagian (GBS) pada 19 November 2021. Terdapat tiga jenis gerhana bulan yakni gerhana bulan total, sebagian, dan penumbra.
Keistimewaan gerhana bulan total Super Blood Moon
Rabu, 26 Mei 2021 16:17 WIB
Gerhana bulan total/file (numerologist.com)
Pewarta : Ajat Sudrajat
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Lampung minta perusahaan terapkan SOP secara ketat kurangi kecelakaan kerja
26 January 2026 14:57 WIB
Jaksa tuntut terdakwa kepemilikan narkoba Yessy Yuliana dua tahun dan enam bulan penjara
06 January 2026 18:43 WIB
Mendagri berhentikan sementara Bupati Aceh Selatan dari jabatannya selama 3 bulan
09 December 2025 21:37 WIB
Israel larang mufti besar Yerusalem Palestina masuki Masjid Al-Aqsa selama 6 bulan
06 August 2025 21:33 WIB
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
BMKG prakirakan kota-kota besar di Indonesia, termasuk Lampung diguyur hujan
26 January 2025 7:40 WIB, 2025
DMC Dompet Dhuafa membuka pos bagi penyintas erupsi Gunung Ibu Halmahera
24 January 2025 10:21 WIB, 2025
BMKG prakirakan hujan guyur mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Bandarlampung
22 January 2025 5:35 WIB, 2025
BNPB lakukan operasi modifikasi cuaca untuk kurangi banjir di Bandarlampung
20 January 2025 12:11 WIB, 2025
Jihan Nurlela sebut perlu revitalisasi mangrove untuk maksimalkan ekowisata
12 January 2025 5:06 WIB, 2025