Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG)- Harga beras di Bandarlampung pada pekan kedua Mei masih bertahan seperti akhir April lalu, meski pasokan bahan pokok itu lancar sehubungan panen padi masih berlangsung di Provinsi Lampung.
    
Sejumlah pedagang beras di Bandarlampung, Rabu, menyebutkan panen padi hanya berpengaruh sedikit terhadap penurunan harga beras sehingga nilai jualnya tetap di atas harga pembelian pemerintah (HPP) beras tahun 2012.
    
"Harga beras termurah di Pringsewu Rp6.500/kg, kami jual di Bandarlampung Rp7.000/kg. Ini harga beras asalan, sudah di atas HPP," kata Rodjie, salah satu agen beras di Pasar Tugu Bandarlampung.
    
Ia menyebutkan panen padi di Lampung masih berlangsung di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung Selatan dan Kabupaten Tulangbawang.
    
Agen beras lainnya, Edi Susanto, menyebutkan harga beras asalan Rp7.000/kg masih bertahan sejak pertengahan April.
    
Ia menyebutkan panen di Lampung tidak berlangsung secara serentak di semua sentra pertanian padi.
    
Harga beras asalan di Bandarlampung pada Maret lalu berkisar Rp7.500- Rp7.800/kg, bahkan bulan sebelumnya sempat mencapai Rp8.000/kg.
   
Para pedagang juga menyebutkan harga beras kualitas medium kini Rp8.000/kg dan beras premium berkisar Rp9.000-Rp9.300/kg.
   
Beras produksi Lampung memiliki mutu yang baik dengan rasa yang lebih gurih, sehingga beras itu banyak diborong pedagang lintas provinsi, seperti dari Jambi, Sumut dan Riau.
    
Meski panen padi tengah berlangsung, harga beras tetap diperkirakan sulit turun ke harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp6.600/kg.
   
Dalam kesempatan terpisah, Perum Bulog Divre Lampung menyebutkan sampai awal Mei baru menyerap beras petani sebanyak 26.789 ton atau masih jauh di bawah target pembelian beras tahun 2012.
   
"Penyerapan beras petani akan terus kami lakukan sampai target 190 ribu ton untuk tahun 2012 tercapai," kata Kepala Divisi Penyerapan Bulog Divre Lampung, Eko AS.
    
Dengan demikian, Bulog Lampung harus meningkatkan upaya untuk menyerap beras sebanyak 163.211 ton.
   
Sementara pantauan di sejumlah pabrik penggilingan beras di Lampung seperti Ambarawa Kabupaten Pringsewu, petani setempat enggan menjual beras hasil panennya kepada Bulog dengan alasan harga yang ditawarkan pemerintah masih rendah.