
Pengamat: Bimbel Buat Anak Seperti Mesin

Anak-anak dilatih secara mekanis seperti mesin untuk menjawab soal-soal dengan cepat dan tepat secara berulang-ulang."
Jakarta (ANTARA Lampung) - Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta Jimmy Paat mengatakan bimbingan belajar (bimbel), yang semakin marak menjelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), membuat anak-anak seperti mesin.
"Anak-anak dilatih secara mekanis seperti mesin untuk menjawab soal-soal dengan cepat dan tepat secara berulang-ulang," kata Jimmy ketika dihubungi Antara di Jakarta, Senin (18/5).
Menurut Jimmy, hal tersebut merupakan risiko yang harus diambil oleh para siswa SMA sederajat yang berlomba-lomba untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dengan mengikuti program bimbingan belajar.
"Salah satu alasan mereka ikut lembaga bimbingan itu adalah karena merasa bahwa jika hanya dengan mengikuti belajar di sekolah sesuai kurikulum tidak bisa membawa mereka diterima oleh PTN yang diharapkan," tuturnya.
Padahal, Jimmy melanjutkan, mengerjakan soal-soal hanya sebagian kecil dari proses belajar. Oleh karena itu tidak tepat jika disebut bimbingan belajar.
"Harusnya namanya bukan 'bimbingan belajar', tetapi 'bimbingan mengerjakan soal', sebab yang diajarkan memang hanya mengerjakan ," katanya.
Menjelang SBMPTN yang akan dilaksanakan pada 9 Juni 2015, beragam lembaga bimbingan belajar memang gencar menawarkan program "intensif" untuk siswa SMA/SMK yang baru melaksanakan UN dan para alumni.
Ada pun biaya yang ditawarkan cukup beragam. Beberapa lembaga bimbingan di wilayah Jakarta menawarkan harga mulai dari Rp1 juta hingga Rp9 juta/ peserta.
Berbagai fasilitas juga disediakan, mulai dari kebebasan untuk berdiskusi dengan pengajar kapan saja, fasilitas penginapan hingga janji memberikan pengembalian uang ("cash back") jika tidak lulus PTN yang diinginkan.
Namun, mahalnya biaya tersebut tidak menghalangi para siswa untuk mengikuti program bimbel.
"Antusiasme para siswa untuk mengikuti program intensif tahun 2015 cukup tinggi," kata Kepala Cabang Lembaga Pendidikan KSM wilayah Salemba, Jakarta Pusat, Aida Fitriani kepada Antara.
Sebagai buktinya, ujar Aida, ratusan kursi yang disediakan lembaga tersebut terisi penuh oleh para siswa yang akan berjuang melewati UN, sejak program intensif dimulai pada 25 April 2015.
Pewarta : Michael Teguh Adiputra Siahaan
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
