Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengedukasi kelompok wanita tani (KWT) di daerahnya untuk mengelola cabai menjadi produk turunan guna menjamin pasokan bagi konsumsi masyarakat.

"Komoditas cabai seperti cabai merah, cabai keriting memang sempat membuat inflasi. Sehingga akan dilakukan evaluasi jumlah produksi cabai hingga Desember mendatang, sekaligus dilakukan beberapa upaya untuk tetap menjaga ketersediaan pasokan," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Lampung Kusnardi, di Bandarlampung, Selasa.

Ia mengatakan untuk tetap menjaga ketersediaan pasokan bagi masyarakat, dalam rencana jangka menengah pihaknya segera memperluas pelaksanaan edukasi pengolahan cabai menjadi produk turunan salah satunya adalah bubuk cabai.

"Saat ini memang telah dilakukan edukasi tentang pengelolaan produk turunan dari cabai kepada KWT di daerah sentra produksi seperti di Lampung Selatan, dan ini masuk dalam rencana jangka menengah. Dengan perluasan pelatihan pengolahan cabai menjadi bubuk cabai atau lainnya kepada gapoktan, dan petani," katanya pula.

Dia menjelaskan dengan melakukan edukasi pengolahan komoditas cabai tersebut, diharapkan dapat mencegah adanya tindakan petani membuang cabai saat panen raya akibat harga anjlok. Sekaligus mendukung pelaksanaan program hilirisasi komoditas lokal Lampung.

Baca juga: Pemprov Lampung intensifkan tanam tanam cabai di pekarangan

"Tujuan edukasi pengeringan ini agar saat panen harganya tidak anjlok. Beberapa waktu lalu saat panen raya cabai dijual hanya Rp8 ribu-Rp11 ribu per kilogram, dan saat musim kering seperti ini produk cabai bubuk bisa dilepas ke pasaran jadi konsumsi masyarakat tidak terganggu," ujarnya lagi.

Menurutnya, dengan adanya pengolahan cabai segar menjadi cabai bubuk juga akan membantu meningkatkan nilai jual cabai milik petani.

"Kalau ini sudah terbentuk dengan baik maka pola konsumsi masyarakat akan berubah, dengan lebih membiasakan menggunakan produk cabai olahan jadi ketergantungan atas cabai segar berkurang. Jadi harga cabai di pasaran lebih stabil," katanya lagi.

Ia melanjutkan dengan adanya hal tersebut, maka dari sisi produksi dan konsumsi terjaga sekaligus dapat menekan inflasi.

"Dari sisi produksi petani tidak kebingungan mendapatkan pasar dan konsumsi masyarakat terpenuhi. Ini dilakukan dengan tujuan menjaga stabilisasi harga serta stok walau tidak panen," ujar dia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung untuk produktivitas tanaman cabai di daerah ini pada 2022, yakni untuk jenis cabai besar dengan luas panen 1.515 hektare, produksi 69.146 kuintal, dan produktivitas 45,64 kuintal per hektare.

Lalu untuk cabai rawit memiliki luas panen 2.009 hektare, produksi sebanyak 111.934 kuintal, dan produktivitas 55,72 kuintal per hektare. Kemudian jenis cabai keriting luas panen 3.153 hektare, produksi sebanyak 227.202 kuintal serta produktivitas 72,06 kuintal per hektare.

Baca juga: Mendag sebut hasilkan produk turunan jaga stabilitas harga cabai
Baca juga: Wamendag: Pemda segera bantu stabilkan harga cabai


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemprov Lampung edukasi KWT mengolah cabai jadi produk turunan

Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2024