Serang (ANTARA) - Banten merupakan salah satu provinsi dengan sejarah Islam yang kaya pada masanya, sehingga menyimpan banyak destinasi wisata religi yang menarik perhatian para peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu destinasi religi yang menjadi primadona adalah Komplek Masjid Agung Banten dengan nilai sejarah yang tinggi. Lokasi itu juga telah menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin berziarah sekaligus menikmati keindahan wisata religi dan sejarah daerah tersebut.

Komplek Masjid Agung Banten terletak di Banten Lama, Kota Serang, Banten. Tempat tersebut menjadi ikon dan simbol penting bagi masyarakat daerah itu, karena menjadi saksi bisu dari sejarah Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad di wilayah Banten.

Salah satu daya tarik utama dari destinasi wisata religi itu adalah Maqom Sultan Maulana Hasanudin Banten. Tempat tersebut merupakan makam dari salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di Banten yaitu Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Sultan Maulana Hasanudin Banten dikenal sebagai sosok yang berjasa dalam penyebaran ajaran agama Islam di wilayah itu. Karena itu, tidak heran jika tempat tersebut dipenuhi oleh pengunjung yang datang untuk berziarah dan berdoa.

"Hingga mencapai dua ribu pengunjung yang datang di hari ini," kata Sobar (35), salah satu satuan tugas Badan Kenadziran Kesultanan Maulana Hasanudin Banten di lokasi komplek tersebut di Kota Serang, Banten, Sabtu.

Kebanyakan pengunjung atau peziarah datang ke tempat itu pada waktu libur dan momen-momen tertentu, seperti saat ini di bulan Muharram atau awal pergantian tahun Hijriah umat Islam. Pada bulanl tersebut, banyak orang berdatangan untuk mendapatkan keberkahan.

"Biasanya Jumat sampai malam Senin ramai, apalagi kalau momen waktu tertentu hingga puluhan ribu yang datang ke sini. Kebanyakan dari Jawa, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Wonosobo, Kediri dan Cirebon. Begitu juga hingga Palembang serta Lampung," katanya.

Sultan Maulana Hasanudin Banten adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam di wilayah Banten. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dan tokoh penyebar agama Islam yang memiliki peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah Banten pada abad ke-16.

Maulana Hasanuddin ialah sultan pertama Banten yang memerintah 1552–1570. Ayahnya, Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan gelar Sunan Gunung.

Tidak hanya itu, di dekat area kompleks itu juga terdapat berbagai fasilitas dan sarana pendukung untuk para peziarah dan wisatawan, seperti, Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang menyajikan berbagai macam bersejarah dan informasi mengenai perjalanan Islam di Banten, sehingga, pengunjung dapat memahami perjalanan sejarah yang luar biasa serta melihat warisan berharga dari masa lalu.

Batu Karang Berelief

Pecahan bantu karang berelief itu ditemukan di bekas reruntuhan gerbang Istana Surosowan. Motif-motif relief yang teridentifikasi antara lain bentuk manusia (berupa lengan), motif hewan (berupa sayap dan kaki unggas) dan tumbuhan (berupa daun dan bunga). Pecahan tersebut diperkirakan sebagai hiasan gerbang istana.

Meriam besar tersebut memiliki panjang 3,45 meter kaliber 31 centimeter dan beratnya berkisar enam ton. Meriam itu diyakini oleh beberapa ahli bahwa sebenarnya adalah Meriam Ki Jimat.

Meriam itu disebut Babad Banten yang ditempatkan di dalam bangunan mandapa Keraton Surosowan, moncongnya terarah ke utara. Ki Amuk (meriam) memiliki ciri khas tiga inskripsi tulisan Arab pada punggungnya, hiasan matahari yang dikenal dengan Surya Majapahit dan sepuluh gelang pada tubuhnya. Meriam Ki Amuk di Komplek Masjid Agung Banten, Sabtu (22/7/2023) ramai dikunjungi wisatawan religi. ANTARA/Lukman Fauzi.
Keraton Surosowan

Keraton Surosowan ialah pusat pemerintahan kesultanan Banten yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin (1552-1570). Tempat tersebut dibangun bertahap fase pembangunan awal dibuat dinding yang mengelilingi Keraton.

Pada fase pembangunan kedua, pada 1680 dibuat dinding bagian dalam dan baston yang   berfungsi sebagai penahan tembakan. Fungsi tersebut juga mengalami perubahan yang semula tembok keliling pembatas menjadi pertahanan.

Berikutnya fase ketiga yakni pembuatan kamar-kamar di sepanjang dinding utara dan penambahan lantai untuk mencapai dinding pertahanan.

Kemudian, fase keempat dilakukan perubahan pada gerbang utara dan timur. Pada fase itu dinding luar dilapisi batu karang secara merata .

Fase pembangunan terakhir dilakukan penambahan kamar dan penyempurnaan isian dinding.

Keraton Kaibon

Keraton Kaibon terletak di lingkungan Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Keraton tersebut adalah bekas kediaman Sultan Syafiudin. Beliau adalah salah seorang Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Banten pada 1809-1815.

Nama Kaibon dari kata ka-ibu-an, yakni tempat tinggal yang diperuntukkan bagi ibunda Sultan Syafiudin. Secara resmi tempat tersebut digunakan hingga masa pemerintahan Bupati Banten pertama yang mendapat restu Belanda, yaitu Aria Adi Santika sebagai pengganti pemerintah Kesultanan yang dihapuskan mulai 1816.

Keraton Kaibon memiliki arsitektur pintu gerbang berbentuk bentar (ambang terbuka) dan paduraksa (ambang tertutup).

Keraton tersebut pada 1832 dihancurkan oleh Belanda dan sekarang hanya menyisakan fondasi dan reruntuhan bangunan.

UMKM

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan ekonomi lokal, terutama di sekitar kawasan wisata religi Banten Lama atau Komplek Masjid Agung Banten.

Di area sekitar kawasan tersebut pelaku UMKM memiliki kesempatan emas untuk berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal.

Kawasan itu menjadi tempat berkumpulnya berbagai pelaku UMKM yang bergerak di berbagai sektor usaha. Mulai dari penjual makanan dan minuman, pedagang suvenir dan kerajinan tangan, hingga jasa foto.

Marjuki (30) salah satu tukang jasa foto di lokasi tersebut mengatakan pendapatannya dalam sehari berkisar hingga Rp200 ribu per hari.

"Kalau ramai bisa mencapai 200 ribu, itu juga mentok segitu," katanya.

Ia menyebutkan, tukang jasa foto yang ada di situ kisaran hingga ratusan orang terbagi beberapa bos.

"Tapi kalau hari-hari biasa seperti Senin, Selasa, dan Rabu paling juga cuma cukup buat makan saja," pungkasnya.

Dengan kekayaan sejarah Islam dan nilai-nilai religi, Komplek Masjid Agung Banten tetap menjadi destinasi wisata religi yang menginspirasi dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjungnya serta selalu merindukan kedamaian batin.


 

Pewarta : Lukman Fauzi/Bayu Kuncahyo
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2024