Padang (ANTARA) - Kepala Search And Rescue (SAR) Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Akmal mengatakan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan rumah warga maupun fasilitas umum di daerah itu akibat gempa tektonik magnitudo 6,9.

"Informasi dari Kepala Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat yang lebih dekat dengan episentrum gempa, tidak ada laporan korban jiwa dan kerusakan," kata Kepala SAR Kabupaten Kepulauan Mentawai Akmal saat dihubungi di Mentawai, Selasa.

Akan tetapi, lanjutnya, terdapat satu dusun di desa tersebut yang hingga kini blank spot (tidak ada sinyal). SAR Mentawai belum bisa memastikan apakah hal tersebut dampak langsung dari gempa atau bukan. Namun, pada hari biasanya sinyal di daerah itu kurang bagus.

Akmal mengatakan saat gempa terjadi masyarakat di Bumi Sikerei mengungsi ke sejumlah lokasi evakuasi yang telah ditetapkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Berdasarkan informasi Kepala Desa Simalegi, Kecamatan Siberut Barat, yang diterima SAR Mentawai, hingga kini terdapat beberapa kepala keluarga yang masih memilih bertahan di lokasi pengungsian.

Namun, secara umum masyarakat sudah memilih kembali ke rumah masing-masing dan beraktivitas normal terutama di Tua Pejat.

"Jadi, secara umum untuk Tua Pejat sudah berjalan aman, lancar dan masyarakat sudah beraktivitas seperti biasanya," ujarnya.

Kembalinya masyarakat ke rumah masing-masing setelah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencabut peringatan dini tsunami setelah gempa bumi berkekuatan 6,9 magnitudo pukul 03.00 WIB.

Selain itu, Bandara Rokot, salah satu fasilitas vital di Kabupaten Kepulauan Mentawai tetap berjalan normal yang ditandai dengan mendaratnya pesawat Susi Air pukul 07.45 WIB dari Kota Padang.

Berdasarkan catatan BMKG, gempa tektonik yang berlokasi di laut pada kedalaman 23 kilometer dengan jarak 177 kilometer barat laut Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terjadi pada pukul 03.00 WIB, Selasa dini hari (25/4).

BMKG menunjukkan gempa bumi itu memiliki parameter update yang awalnya 7,3 magnitudo menjadi 6,9 magnitudo.




 

Pewarta : Muhammad Zulfikar
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2024