PM Johnson sebut Inggris mesti pangkas pengeluaran uji COVID
Minggu, 20 Februari 2022 18:50 WIB
Arsip - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengangkat tangan saat berjalan di luar kediamannya di Downing Street, London, Inggris, 1 Desember 2021. (ANTARA/Reuters/Henry Nicholls)
London (ANTARA) - Inggris ingin mempertahankan kemampuan untuk mendeteksi varian-varian virus corona baru tetapi harus berhenti menghabiskan begitu banyak dana untuk pengujian gratis karena kasus dan kematian turun, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan pada Minggu.
Johnson akan menetapkan sejumlah rencana minggu ini agar negara itu "hidup dengan COVID" di tengah saran bahwa pengujian virus corona gratis dapat disetop dan beberapa studi kesehatan dihentikan.
Ditanya oleh BBC bagaimana negara akan mengenali kedatangan varian baru, Johnson berkata: "Saya ingin memastikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mendeteksi varian itu dan pulih kembali secepat yang kita butuhkan."
"Kita membutuhkan ketahanan ... tapi misalnya, pada pengujian. Kita tidak perlu terus menghabiskan sebanyak 2 miliar paun (Rp39 triliun) per bulan, seperti yang kita lakukan pada Januari."
Sumber:Reuters
Johnson akan menetapkan sejumlah rencana minggu ini agar negara itu "hidup dengan COVID" di tengah saran bahwa pengujian virus corona gratis dapat disetop dan beberapa studi kesehatan dihentikan.
Ditanya oleh BBC bagaimana negara akan mengenali kedatangan varian baru, Johnson berkata: "Saya ingin memastikan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mendeteksi varian itu dan pulih kembali secepat yang kita butuhkan."
"Kita membutuhkan ketahanan ... tapi misalnya, pada pengujian. Kita tidak perlu terus menghabiskan sebanyak 2 miliar paun (Rp39 triliun) per bulan, seperti yang kita lakukan pada Januari."
Sumber:Reuters
Pewarta : Mulyo Sunyoto
Editor : Agus Wira Sukarta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Mantan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes didakwa rugikan negara Rp319 M
04 February 2025 22:52 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Kapal induk USS Abraham Lincoln siap lakukan operasi ke Iran dalam 1-2 hari
27 January 2026 9:55 WIB