Amman, Jordania (ANTARA) - Presiden Suriah Bashar al-Assad pada Kamis lalu mengatakan keputusan Trump untuk mempertahankan sedikit tentara AS di daerah Suriah yang dikuasai Suku Kurdi, tempat mereka memiliki minyak --yang memperlihatkan Washington adalah kekuatan kolonial yang harus pergi segera setelah rakyat Suriah melawan pendudukan mereka seperti di Irak.

Tapi ia mengatakan negaranya tak bisa memiliki kekuasaan sangat besar seperti Amerika Serikat dan berakhirnya kehadiran tentara Amerika di tanah Suriah tak bisa dicapai dengan cepat.

Bashar mengatakan Trump adalah "presiden terbaik Amerika" karena "transparansi lengkapnya" mengenai keinginan untuk mempertahankan kendali atas ladang minyak utama Suriah di Provisni Deir Az-Zor.

Tentara AS telah memulai penggelaran di provinsi tersebut melalui koordinasi dengan SDF untuk meningkatkan keamanan dan melanjutkan perang melawan sisa anggota IS, kata seorang juru bicara militer AS pada Kamis (31/10).

Baca juga: Suriah tuntut wilayah Kurdi dikembalikan

Banyak diplomat mengatakan keputusan AS untuk mencegah ladang minyak jatuh kembali ke dalam kekuasaan pemerintah akan membuat Damaskus kehilangan jutaan dolar AS --kebanyakan dari hasil penjualan minyak-- dan memastikan sekutu Kurdi menjadi sumber utama penghasilan untuk memerintahkan daerah yang dikuasainya.

Suku Kurdi takkan diminta untuk segera menyerahkan senjata mereka ketika militer Suriah memasuki daerah mereka dalam kesepakatan akhir dengan mereka, yang mengembalikan kekuasaan negara ke wilayah luas yang sekarang mereka kuasai, kata Bashar di dalam wawancara itu.

Baca juga: Turki tangkap18 tentara Suriah, kepada siapa diserahkan ?
Sumber: Reuters
 

Pewarta : Reuters
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2024