"Influencer" penyebar hoaks perlu minta maaf ke publik
Minggu, 6 Oktober 2019 6:01 WIB
Ilustrasi anti-hoaks di aplikasi ponsel pintar. (ANTARA News/Handry Musa).
Jakarta (ANTARA) - Pendiri dan Pemimpin Rumah Produksi Cameo Project Martin Anugrah menilai para pemilik akun media sosial dengan ribuan pengikut (influencer) perlu meminta maaf kepada publik dan pengikutnya jika terbukti menyebarkan berita bohong atau hoaks.
"Indonesia ini budaya "latah"-nya kuat. Latah menyebarkan berita trending, menyebarkan sesuatu yang dianggap benar, membela sosok dan golongan tertentu, sehingga beritanya jadi masif," ujar Martin kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pria yang juga memiliki 33,9 ribu pengikut dalam akun Instagram-nya itu mencontohkan kasus berita bohong soal Audrey, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengaku menjadi korban pengeroyokan 12 siswi SMA.
"Saya mengerti, kasus itu bisa meningkatkan engagement dalam media sosial sehingga banyak influencer akhirnya menyorotnya. Tapi setelah kasus itu terbukti hoaks, mereka malah tidak minta maaf," katanya.
Padahal, permohonan maaf yang disampaikan influencer akan menjadi penanda klarifikasi bagi para pengikutnya.
Para pengikut sang influencer, lanjut Martin, akan memahami informasi yang sebelumnya tersebar itu merupakan berita bohong.
Martin mengatakan para pengikut influencer akan teredukasi dan turut berhenti menyebarkan informasi palsu.
Bagi influencer, permohonan maaf tersebut bisa jadi pengingat untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan berita dan informasi berikutnya.
"Kalau dia tidak ngaku, tidak minta maaf, kemungkinan akan gampang kirim hoaks lagi tanpa ada rasa bersalah dan malu. Setidaknya, kalau influencer mengakui dan dia minta maaf, dia ada introspeksi diri juga," kata Martin.
"Indonesia ini budaya "latah"-nya kuat. Latah menyebarkan berita trending, menyebarkan sesuatu yang dianggap benar, membela sosok dan golongan tertentu, sehingga beritanya jadi masif," ujar Martin kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Pria yang juga memiliki 33,9 ribu pengikut dalam akun Instagram-nya itu mencontohkan kasus berita bohong soal Audrey, siswi SMP di Pontianak, Kalimantan Barat, yang mengaku menjadi korban pengeroyokan 12 siswi SMA.
"Saya mengerti, kasus itu bisa meningkatkan engagement dalam media sosial sehingga banyak influencer akhirnya menyorotnya. Tapi setelah kasus itu terbukti hoaks, mereka malah tidak minta maaf," katanya.
Padahal, permohonan maaf yang disampaikan influencer akan menjadi penanda klarifikasi bagi para pengikutnya.
Para pengikut sang influencer, lanjut Martin, akan memahami informasi yang sebelumnya tersebar itu merupakan berita bohong.
Martin mengatakan para pengikut influencer akan teredukasi dan turut berhenti menyebarkan informasi palsu.
Bagi influencer, permohonan maaf tersebut bisa jadi pengingat untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan berita dan informasi berikutnya.
"Kalau dia tidak ngaku, tidak minta maaf, kemungkinan akan gampang kirim hoaks lagi tanpa ada rasa bersalah dan malu. Setidaknya, kalau influencer mengakui dan dia minta maaf, dia ada introspeksi diri juga," kata Martin.
Pewarta : Agita Tarigan
Editor : Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Real Madrid berbela sungkawa atas wafatnya pelatih tim Valencia putri di Labuan Bajo
28 December 2025 13:21 WIB
Terpopuler - Gadget
Lihat Juga
OPPO A6 Pro bisa dipakai untuk mengisi daya perangkat elektronik seperti powerbank
07 October 2025 19:55 WIB
Samsung debutkan Galaxy Tab S10 Lite secara global, yang diperkaya dengan fitur AI
12 September 2025 12:41 WIB