Kericuhan Jayapura berdampak bagi pariwisata di Papua
Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB
Pemandangan Kota Jayapura dari atas bukit sebagai salah satu tempat wisata bagi warga lokal (ANTARA News Papua / Hendrina Dian Kandipi)
Jayapura (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan dan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi Papua mengungkapkan kericuhan di Jayapura pada Kamis (29/8) berdampak signifikan kepada dunia pariwisata di Bumi Cenderawasih.
Ketua Asita Provinsi Papua, Iwanta Parangin-Angin di Jayapura, Rabu, mengatakan sudah ratusan tur dari wisatawan asing yang membatalkan pemesanan perjalanannya.
"Sudah banyak pembatalan, kalau tur biasa seperti belum lama ini, sudah membatalkan pesanan sekitar 100 orang," katanya.
Menurut Iwanta, batalnya kedatangan kapal pesiar yang seharusnya masuk pada 12 September 2019 dengan sekitar 500-an orang juga imbas dari kericuhan didi Jayapura.
"Dengan mahalnya harga tiket penerbangan dan paket wisata di Papua, mayoritas wisatawan yang datang adalah warga negara asing (WNA)," ujarnya.
Dia menjelaskan turis asing selalu merencanakan perjalanan wisatanya jauh-jauh hari, sehingga meski kericuhan terjadi pada akhir Agustus, pembatalan sudah dilakukan untuk perjalanan beberapa bulan ke depan.
"Sampai Oktober saja sudah ada pembatalan, biasanya turis begitu lihat berita kurang baik langsung membatalkan pesanan, jadi hingga Oktober sudah sekitar 150 turis yang membatalkan," katanya lagi.
Dia menambahkan paling banyak yang membatalkan pesanan adalah turis Eropa dan pihaknya mengalami kerugian lumayan besar, kini turis dari beberapa negara pun sering menanyakan situasi Papua.
Ketua Asita Provinsi Papua, Iwanta Parangin-Angin di Jayapura, Rabu, mengatakan sudah ratusan tur dari wisatawan asing yang membatalkan pemesanan perjalanannya.
"Sudah banyak pembatalan, kalau tur biasa seperti belum lama ini, sudah membatalkan pesanan sekitar 100 orang," katanya.
Menurut Iwanta, batalnya kedatangan kapal pesiar yang seharusnya masuk pada 12 September 2019 dengan sekitar 500-an orang juga imbas dari kericuhan didi Jayapura.
"Dengan mahalnya harga tiket penerbangan dan paket wisata di Papua, mayoritas wisatawan yang datang adalah warga negara asing (WNA)," ujarnya.
Dia menjelaskan turis asing selalu merencanakan perjalanan wisatanya jauh-jauh hari, sehingga meski kericuhan terjadi pada akhir Agustus, pembatalan sudah dilakukan untuk perjalanan beberapa bulan ke depan.
"Sampai Oktober saja sudah ada pembatalan, biasanya turis begitu lihat berita kurang baik langsung membatalkan pesanan, jadi hingga Oktober sudah sekitar 150 turis yang membatalkan," katanya lagi.
Dia menambahkan paling banyak yang membatalkan pesanan adalah turis Eropa dan pihaknya mengalami kerugian lumayan besar, kini turis dari beberapa negara pun sering menanyakan situasi Papua.
Pewarta : Hendrina Dian Kandipi
Editor : Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Trump akan pindahkan laga Piala Dunia 2026 dari Boston jika kerusuhan berlanjut
15 October 2025 19:44 WIB
Prabowo ajak rakyat untuk tenang, jaga keluarga, dan percaya pada pemerintah
31 August 2025 18:36 WIB
Jalan depan gerbang utama DPR sulit dilewati, motor melintas di tol dalam kota
30 August 2025 15:32 WIB
Polisi tangkap 22 orang terlibat pada kerusuhan truk di PIK 2 Tangerang
09 November 2024 8:24 WIB, 2024
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Terjebak cuaca buruk, ratusan wisatawan sudah dievakuasi ke kapal Pelni dari Karimunjawa
28 December 2022 11:09 WIB, 2022
Lummay Villa and Resort, destinasi wisata berkonsep Eropa berpadu budaya Bali
27 December 2022 18:20 WIB, 2022
Ancol targetkan 430 ribu pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru 2023
25 December 2022 14:05 WIB, 2022
Menparekraf Sandiaga Uno luncurkan Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional
17 December 2022 10:46 WIB, 2022