Wartawan Al-Jazeera Ditangkap Polisi
Selasa, 31 Desember 2013 6:53 WIB
TUGAS WARTAWAN: Kepala Dinas Kominfo Lampung, Setiato (kiri) menjawab pertanyaan Wartawan. (Foto ANTARA Dok/M.Tohamaksun).
Kairo (Antara/AFP) - Polisi rahasia Mesir telah menangkap seorang wartawan Australia yang memenangkan penghargaan dan seorang wartawan Mesir untuk saluran TV Al-Jazeera yang berbasis di Qatar karena dicurigai melakukan penyiaran secara ilegal berita yang merugikan "keamanan dalam negeri", kata kementerian dalam negeri.
Petugas dinas Keamanan Nasional menggerebek biro darurat mereka di hotel di Kairo pada Minggu, menangkap dua orang dan menyita peralatan mereka, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Berita itu tidak mengidentifikasi wartawan tersebut, hanya menyebutkan salah satu yang menjadi "anggota Ikhwanul Muslimin" dan yang lain orang Australia.
Rekan mereka di Al-Jazeera mengidentifikasi mereka sebagai kepala biro Kairo Mohamed Adel Fahmi, dan wartawan Australia Peter Greste.
Serangan tersebut terjadi setelah pihak berwenang mendaftar gerakan Ikhwanul Muslimin presiden Mohamed Moursi yang digulingkan sebagai "organisasi teroris", membuat keanggotaan dalam kelompok Islam atau bahkan kepemilikan sastra kejahatan.
Para wartawan itu "menyiarkan berita langsung yang merugikan keamanan dalam negeri," kata Kementerian Dalam Negeri, dan menambahkan dari mereka juga ditemukan kepemilikan "publikasi-publikasi" Ikhwanul Muslimin.
Greste, mantan wartawan BBC, yang memenangkan penghargaan bergengsi Peabody di tahun 2011 untuk sebuah film dokumenter di Somalia. Fahmy, yang sebelumnya bekerja dengan CNN adalah
wartawan terkenal di Kairo tanpa hubungan dengan Ikhwanul Muslimin.
Pemerintah Mesir yang dilantik militer menumpas afiliasi Al-Jazeera menyusul penggulingan Moursi pada Juli, menuduh penyiar
cakupan pro-Ikhwanul Muslimin.
Beberapa wartawan Al-Jazeera masih tetap dalam tahanan, termasuk Abdullah Elshamy, seorang wartawan untuk stasiun bahasa Arab yang ditangkap pada 14 Agustus ketika polisi membubarkan protes kamp Islam di Kairo, menewaskan ratusan dalam bentrokan.
Pemerintah menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris pekan lalu setelah pemboman mobil bunuh diri di sebuah kantor polisi menewaskan 15 orang.
Serangan ini menyalahkan para gerilyawan Islam, meskipun kelompok yang terinspirasi Al Qaida itu mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut dan Ikhwanul Muslimin mengutuknya.
Penerjemah: A.Krisna.
Petugas dinas Keamanan Nasional menggerebek biro darurat mereka di hotel di Kairo pada Minggu, menangkap dua orang dan menyita peralatan mereka, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Berita itu tidak mengidentifikasi wartawan tersebut, hanya menyebutkan salah satu yang menjadi "anggota Ikhwanul Muslimin" dan yang lain orang Australia.
Rekan mereka di Al-Jazeera mengidentifikasi mereka sebagai kepala biro Kairo Mohamed Adel Fahmi, dan wartawan Australia Peter Greste.
Serangan tersebut terjadi setelah pihak berwenang mendaftar gerakan Ikhwanul Muslimin presiden Mohamed Moursi yang digulingkan sebagai "organisasi teroris", membuat keanggotaan dalam kelompok Islam atau bahkan kepemilikan sastra kejahatan.
Para wartawan itu "menyiarkan berita langsung yang merugikan keamanan dalam negeri," kata Kementerian Dalam Negeri, dan menambahkan dari mereka juga ditemukan kepemilikan "publikasi-publikasi" Ikhwanul Muslimin.
Greste, mantan wartawan BBC, yang memenangkan penghargaan bergengsi Peabody di tahun 2011 untuk sebuah film dokumenter di Somalia. Fahmy, yang sebelumnya bekerja dengan CNN adalah
wartawan terkenal di Kairo tanpa hubungan dengan Ikhwanul Muslimin.
Pemerintah Mesir yang dilantik militer menumpas afiliasi Al-Jazeera menyusul penggulingan Moursi pada Juli, menuduh penyiar
cakupan pro-Ikhwanul Muslimin.
Beberapa wartawan Al-Jazeera masih tetap dalam tahanan, termasuk Abdullah Elshamy, seorang wartawan untuk stasiun bahasa Arab yang ditangkap pada 14 Agustus ketika polisi membubarkan protes kamp Islam di Kairo, menewaskan ratusan dalam bentrokan.
Pemerintah menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris pekan lalu setelah pemboman mobil bunuh diri di sebuah kantor polisi menewaskan 15 orang.
Serangan ini menyalahkan para gerilyawan Islam, meskipun kelompok yang terinspirasi Al Qaida itu mengaku bertanggung jawab atas pemboman tersebut dan Ikhwanul Muslimin mengutuknya.
Penerjemah: A.Krisna.
Pewarta :
Editor : M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prabowo dan MBZ bertemu di Istana Qasr Al Bahr, sepakat perkuat kemitraan strategis
27 February 2026 10:13 WIB
Kemenag bersama Pemkab Lamsel luncurkan gerakan Lampung Selatan Bertadarus
23 February 2026 19:38 WIB
Dompet Dhuafa-Jamaah Masjid Al-Anshor Pekanbaru kirim paket rendang untuk penyintas bencana Sumatera
29 December 2025 7:30 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
AS kehilangan peralatan militer senilai Rp33 triliun di tengah operasi ke Iran
05 March 2026 10:59 WIB
Palang Merah Iran sebut serangan AS-Israel tewaskan 200 orang lebih, 750 terluka
01 March 2026 4:47 WIB