Tanjungraja, Lampung Utara (ANTARA LAMPUNG) - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Badan Pengurus Cabang Lampung Utara menggelar seri diskusi terfokus bertema "Mendorong Pengembangan Ekonomi dan Bisnis demi Kesejahteraan Rakyat Lampung Utara" seri I di Desa Srimenanti Kecamatan Tanjungraja, Kabupaten Lampung Utara, Selasa (2/7).
Menurut Ketua Umum BPC HIPMI Lampung Utara Robby Adhitama, pelaksanaan FGD ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan Universitas Lampung (Unila) yang digelar secara berseri dalam bentuk diskusi terfokus (focus group discussion/FGD) itu pada Selasa-Rabu (2-3 Juli 2013), dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten.
Seri kedua FGD akan digelar di Kecamatan Sungkai Utara, Rabu (3/7).
Sejumlah ahli/pakar dari Unila dan narasumber lain yang diundang dalam seri diskusi terfokus di aula Balai Benih Induk (BBI) Desa Srimenanti Kecamatan Tanjungraja adalah Ir Anshori Djausal MT, Dr Ayi Ahadiat, Ir Syahrio Tantalo MS, Rizani Puspawidjaja SH.
Menurut Robby, perkembangan ekonomi dan bisnis pada 23 kecamatan di Kabupaten Lampung Utara terus mengalami kemajuan sekaligus tantangan, sehingga tumbuh perbankan, minimarket, biro jasa, pasar tradisional, pedagang pengumpul, dan pabrik yang hampir merata di setiap kecamatan.
Kondisi sektor pertanian dan perkebunan, kata Robby, juga menghadapi permasalahan luas lahan perkebunan dan sawah yang berkurang akibat pertumbuhan penduduk dan permukiman baru.
Fluktuasi permintaan dunia atau pasar mengakibatkan komoditas lama ditinggalkan atau berkurang, seperti kopi, lada, cengkeh, dan karet, katanya.
Saat ini menurut dia, banyak berkembang perkebunan singkong, jagung, dan cokelat, namun yang dijual para petani dan pedagang tetap sama, yaitu bahan mentah yang tidak memiliki nilai tambah sehingga keuntungan yang diterima relatif kecil.
Potensi perikanan dan peternakan belum juga dapat terkelola dengan baik, dan terdapat pula permasalahan keamanan, infrastruktur jalan, dan birokrasi, kata Robby pula.
Tapi dia optimistis bahwa perkembangan ekonomi dan bisnis pada 23 kecamatan di Lampung Utara tetap memiliki peluang untuk berkembang, selain karena dorongan dari kalangan masyarakat dan dunia usaha itu sendiri, juga didukung jajaran Pemkab Lampung Utara.
Kabupaten Lampung Utara sebelum dipecah menjadi beberapa kabupaten pengembangan, dan kini telah menjadi kabupaten tersendiri, merupakan pusat pemerintahan, perekonomian dan bisnis di kawasan ini. Namun setelah itu, saat ini kejayaan yang dimiliki kabupaten ini apakah masih dapat terus dipertahankan, ujar dia lagi.
Diskusi berseri ini, menurut Robby, mengikutsertakan para camat bersama pelaku usaha di wilayah kecamatan setempat, dengan tema: Pembangunan Ekonomi dan Bisnis Demi Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lampung Utara.
Dia berharap, Kabupaten Lampung Utara akan semakin maju secara bisnis dan perekonomian daerah ini terus meningkat.
"Lampung Utara yang semula menjadi pusat ekonomi dan pertanian, sentra penghasil kopi dan cengkeh, pasarnya buka hingga 24 jam, setelah dipecah menjadi beberapa kabupaten, kejayaannya hanya menjadi kenangan," ujar dia pula.
Karena itu, bagaimana memajukan Lampung Utara ke depan, diharapkan dapat diperoleh masukan dan rekomendasi dari seri FGD berbasis kecamatan di dua simpul, yaitu simpul pertama di Kecamatan Bukit Kemuning, Abung Tinggi, Abung Barat, Abung Tengah, Abung Kunang, Abung Pekurun, Kotabumi Selatan, Abung Selatan, Abung Semuli, dan Tanjungraja.
"FGD ini diharapkan menghasilkan langkah terobosan dan rekomendasi penting bagi perencaanaan pembangunan Kabupaten Lampung Utara ke depan," kata dia pula.
Menurut Ir Anshori Djausal MT, potensi yang dimiliki Kabupaten Lampung Utara sebenarnya masih dapat terus dikembangkan dan dioptimalkan lagi, baik pada sektor pertanian-perkebunan, jasa dan perdagangan, pariwisata maupun pengembangan industri skala rumah tangga maupun pengolahan hasil pertanian-perkebunan untuk memberikan nilai tambah serta peningkatan pendapatan petani dan masyarakat daerah ini.
Hasil pertanian dan perkebunan berupa kopi akan semakin mahal bila dijual dalam bentuk kopi bubuk, bukan kopi biji, hasil panen petani berupa singkong bila dijual dalam bentuk singkong mentah harganya berkisar di bawah Rp1.000 per kg, tapi kalau sudah diolah seperti menjadi singkong rebus akan menjadi lebih mahal, termasuk dapat diolah menjadi bahan baku industri yang kompetitif.
"Kabupaten Lampung Utara memiliki sejumlah keunggulan ekonomi yang harus terus ditingkatkan dan dikembangkan semakin maju lagi," ujar akademisi Fakultas Teknik Unila yang kini maju sebagai calon wakil bupati Kabupaten Lampung Utara berpasangan dengan calon bupati H Zainal Abidin (Bupati incumbent/petahana) itu pula.
Menurut Anshori, FGD ini bertujuan untuk menggali bersama permasalahan dan solusi problematika masyarakat dari kampung-kampung di Lampung Utara, dan sengaja tidak digelar di hotel, mengingat masyarakat desa yang lebih mengetahui masalah sebenarnya.
Dia menyatakan bahwa kewajiban pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur dan sarana publik yang diperlukan, tapi yang dapat membuat masyarakat menjadi kaya atau sejahtera adalah sektor ekonomi dan bisnis yang digerakkan atas inisiatif mesyarakat sendiri.
"Tapi pemerintah wajib mengurusnya," ujar dia lagi.
Dia berharap, pembangunan pertanian dan perkebunan serta perekonomian di Lampung Utara akan berubah menjadi lebih baik, mengingat sekitar 90 persen matapencaharian penduduknya adalah petani.
"Jangan sampai tidak berubah budidaya pertanian atau perkebunan di sini. Harus dapat mengembangkan pertanian dengan industri terkaitnya, membuka sektor lain yang potensial bisnisnya tinggi," ujar dia.
Ia juga melihat adanya potensi sektor pariwisata yang cukup besar di Kabupaten Lampung Utara dan dapat dikembangkan.
"Tidak perlu membangun hotel mewah, tapi cukup menyediakan rumah tinggal atau homestay yang aman dan nyaman, para wisatawan bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda di daerah ini," kata dia pula.
Anshori menegaskan bahwa potensi sebenarnya daerah ini adalah berapa banyak orang yang siap untuk membangun, bukan potensi sumberdaya alam semata.
Karena itu, dia berharap berbagai upaya memajukan daerah ini dapat dilakukan bersama-sama, termasuk oleh Pengurus HIPMI setempat yang dapat memberikan kontribusi lebih baik untuk kemajuan di Kabupaten Lampung Utara ke depannya.
Menurut Camat Tanjungraja Muhammad Nur, di wilayah ini memiliki 19 desa dengan sejumlah potensi ekonomi, termasuk sektor pariwisata.
Dia menyebutkan, beberapa permasalahan di 11 kecamatan di daerah ini antara lain modal usaha para pelaku usaha yang masih kurang, bahan baku sulit, seperti keripik Bu Siti kurang bahan baku dan pemasaran terbatas, sehingga perlu dicarikan jalan keluar yang terbaik untuk membantu memajukannya.
Menurut Ketua Umum BPC HIPMI Lampung Utara Robby Adhitama, pelaksanaan FGD ini bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lampung Utara dan Universitas Lampung (Unila) yang digelar secara berseri dalam bentuk diskusi terfokus (focus group discussion/FGD) itu pada Selasa-Rabu (2-3 Juli 2013), dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten.
Seri kedua FGD akan digelar di Kecamatan Sungkai Utara, Rabu (3/7).
Sejumlah ahli/pakar dari Unila dan narasumber lain yang diundang dalam seri diskusi terfokus di aula Balai Benih Induk (BBI) Desa Srimenanti Kecamatan Tanjungraja adalah Ir Anshori Djausal MT, Dr Ayi Ahadiat, Ir Syahrio Tantalo MS, Rizani Puspawidjaja SH.
Menurut Robby, perkembangan ekonomi dan bisnis pada 23 kecamatan di Kabupaten Lampung Utara terus mengalami kemajuan sekaligus tantangan, sehingga tumbuh perbankan, minimarket, biro jasa, pasar tradisional, pedagang pengumpul, dan pabrik yang hampir merata di setiap kecamatan.
Kondisi sektor pertanian dan perkebunan, kata Robby, juga menghadapi permasalahan luas lahan perkebunan dan sawah yang berkurang akibat pertumbuhan penduduk dan permukiman baru.
Fluktuasi permintaan dunia atau pasar mengakibatkan komoditas lama ditinggalkan atau berkurang, seperti kopi, lada, cengkeh, dan karet, katanya.
Saat ini menurut dia, banyak berkembang perkebunan singkong, jagung, dan cokelat, namun yang dijual para petani dan pedagang tetap sama, yaitu bahan mentah yang tidak memiliki nilai tambah sehingga keuntungan yang diterima relatif kecil.
Potensi perikanan dan peternakan belum juga dapat terkelola dengan baik, dan terdapat pula permasalahan keamanan, infrastruktur jalan, dan birokrasi, kata Robby pula.
Tapi dia optimistis bahwa perkembangan ekonomi dan bisnis pada 23 kecamatan di Lampung Utara tetap memiliki peluang untuk berkembang, selain karena dorongan dari kalangan masyarakat dan dunia usaha itu sendiri, juga didukung jajaran Pemkab Lampung Utara.
Kabupaten Lampung Utara sebelum dipecah menjadi beberapa kabupaten pengembangan, dan kini telah menjadi kabupaten tersendiri, merupakan pusat pemerintahan, perekonomian dan bisnis di kawasan ini. Namun setelah itu, saat ini kejayaan yang dimiliki kabupaten ini apakah masih dapat terus dipertahankan, ujar dia lagi.
Diskusi berseri ini, menurut Robby, mengikutsertakan para camat bersama pelaku usaha di wilayah kecamatan setempat, dengan tema: Pembangunan Ekonomi dan Bisnis Demi Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Lampung Utara.
Dia berharap, Kabupaten Lampung Utara akan semakin maju secara bisnis dan perekonomian daerah ini terus meningkat.
"Lampung Utara yang semula menjadi pusat ekonomi dan pertanian, sentra penghasil kopi dan cengkeh, pasarnya buka hingga 24 jam, setelah dipecah menjadi beberapa kabupaten, kejayaannya hanya menjadi kenangan," ujar dia pula.
Karena itu, bagaimana memajukan Lampung Utara ke depan, diharapkan dapat diperoleh masukan dan rekomendasi dari seri FGD berbasis kecamatan di dua simpul, yaitu simpul pertama di Kecamatan Bukit Kemuning, Abung Tinggi, Abung Barat, Abung Tengah, Abung Kunang, Abung Pekurun, Kotabumi Selatan, Abung Selatan, Abung Semuli, dan Tanjungraja.
"FGD ini diharapkan menghasilkan langkah terobosan dan rekomendasi penting bagi perencaanaan pembangunan Kabupaten Lampung Utara ke depan," kata dia pula.
Menurut Ir Anshori Djausal MT, potensi yang dimiliki Kabupaten Lampung Utara sebenarnya masih dapat terus dikembangkan dan dioptimalkan lagi, baik pada sektor pertanian-perkebunan, jasa dan perdagangan, pariwisata maupun pengembangan industri skala rumah tangga maupun pengolahan hasil pertanian-perkebunan untuk memberikan nilai tambah serta peningkatan pendapatan petani dan masyarakat daerah ini.
Hasil pertanian dan perkebunan berupa kopi akan semakin mahal bila dijual dalam bentuk kopi bubuk, bukan kopi biji, hasil panen petani berupa singkong bila dijual dalam bentuk singkong mentah harganya berkisar di bawah Rp1.000 per kg, tapi kalau sudah diolah seperti menjadi singkong rebus akan menjadi lebih mahal, termasuk dapat diolah menjadi bahan baku industri yang kompetitif.
"Kabupaten Lampung Utara memiliki sejumlah keunggulan ekonomi yang harus terus ditingkatkan dan dikembangkan semakin maju lagi," ujar akademisi Fakultas Teknik Unila yang kini maju sebagai calon wakil bupati Kabupaten Lampung Utara berpasangan dengan calon bupati H Zainal Abidin (Bupati incumbent/petahana) itu pula.
Menurut Anshori, FGD ini bertujuan untuk menggali bersama permasalahan dan solusi problematika masyarakat dari kampung-kampung di Lampung Utara, dan sengaja tidak digelar di hotel, mengingat masyarakat desa yang lebih mengetahui masalah sebenarnya.
Dia menyatakan bahwa kewajiban pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur dan sarana publik yang diperlukan, tapi yang dapat membuat masyarakat menjadi kaya atau sejahtera adalah sektor ekonomi dan bisnis yang digerakkan atas inisiatif mesyarakat sendiri.
"Tapi pemerintah wajib mengurusnya," ujar dia lagi.
Dia berharap, pembangunan pertanian dan perkebunan serta perekonomian di Lampung Utara akan berubah menjadi lebih baik, mengingat sekitar 90 persen matapencaharian penduduknya adalah petani.
"Jangan sampai tidak berubah budidaya pertanian atau perkebunan di sini. Harus dapat mengembangkan pertanian dengan industri terkaitnya, membuka sektor lain yang potensial bisnisnya tinggi," ujar dia.
Ia juga melihat adanya potensi sektor pariwisata yang cukup besar di Kabupaten Lampung Utara dan dapat dikembangkan.
"Tidak perlu membangun hotel mewah, tapi cukup menyediakan rumah tinggal atau homestay yang aman dan nyaman, para wisatawan bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda di daerah ini," kata dia pula.
Anshori menegaskan bahwa potensi sebenarnya daerah ini adalah berapa banyak orang yang siap untuk membangun, bukan potensi sumberdaya alam semata.
Karena itu, dia berharap berbagai upaya memajukan daerah ini dapat dilakukan bersama-sama, termasuk oleh Pengurus HIPMI setempat yang dapat memberikan kontribusi lebih baik untuk kemajuan di Kabupaten Lampung Utara ke depannya.
Menurut Camat Tanjungraja Muhammad Nur, di wilayah ini memiliki 19 desa dengan sejumlah potensi ekonomi, termasuk sektor pariwisata.
Dia menyebutkan, beberapa permasalahan di 11 kecamatan di daerah ini antara lain modal usaha para pelaku usaha yang masih kurang, bahan baku sulit, seperti keripik Bu Siti kurang bahan baku dan pemasaran terbatas, sehingga perlu dicarikan jalan keluar yang terbaik untuk membantu memajukannya.