Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG)-  Bukit Camang yang merupakan kawasan konservasi di wilayah Kota Bandarlampung, dalam seminggu terakhir kembali ditambang dengan menggunakan peralatan berat sehubungan tingginya permintaan atas bebatuan untuk kegiatan pembangunan di daerah itu.
 
Berdasarkan pantauan di kawasan Bukit Camang, Bandarlampung, Jumat, lalu lintas kendaraan pengangkut bebatuan dan tanah dari kawasan lindung itu menuju Jalan Lintas Sumatera ruas Rajabasa-Panjang Bandarlampung juga makin padat, sehingga mengganggu kelancaran dan keamanan pengguna jalan.
     
Permintaan atas bebatuan dan tanah urukan cukup tinggi belakangan ini, dan sekarang tengah dilakukan pelebaran dan perbaikan Jalinsum ruas Rajabasa-Panjang Bandarlampung.  Ruas Jalinsum sepanjang 18,5 km itu dilebarkan dengan menggunakan dana APBN dan pinjaman dari Bank Dunia.
    
Bukit Camang merupakan kawasan konservasi, namun ekskavator mulai digunakan secara terang-terangan untuk menggali material bukit itu  karena lemahnya penindakan dari jajaran Pemkot Bandarlampung dan aparat kepolisian.
      
Kondisi bukit itu kini makin rusak parah, dan dikhawatirkan bisa mengancam keselamatan para penambang, terutama saat kondisi cuaca hujan.
    
Puluhan bahkan ratusan orang menggantungkan kehidupan perekonomiannya dari kegiatan penambangan batu dan tanah dari bukit tersebut.
    
Penambangan ilegal itu telah berulangkali disorot para pegiat lingkungan, seperti Walhi Lampung, namun aktivitas itu tetap berlangsung.  Pemkot Bandarlampung dua tahun lalu telah menegaskan bahwa, pihaknya tidak pernah mengeluarkan izin untuk kegiatan penambangan di Bukit Camang.
     
Sehubungan  penambangan cenderung makin marak,  banyak kalangan mengharapkan Pemkot Bandarlampung bertindak tegas untuk menghentikan aktivitas tersebut.

Pewarta :
Editor : Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026