Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG) - Komoditas singkong atau ubi kayu memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi listrik terbarukan di Indonesia, kata Prof Resi Bohang MBA, Dirut PT Lampung Kasava Agro, di Bandarlampung, Rabu.
"Potensi pengembangan budidaya komoditas singkong ini sangat besar, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan sumber energi terbarukan dapat segera diperoleh," ujar dia.
Menurut Resi Bohang, potensi perkebunan singkong di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung cukup besar, sehingga perlu dukungan dari semua pihak untuk mengembangkan potensi tersebut.
"Saya kurang lebih sudah 18 tahun meneliti kandungan yang terdapat pada singkong, dan kualitasnya cukup baik untuk dijadikan sumber energi listrik," kata dia lagi.
Dia melanjutkan, sebagian perusahaan di Lampung khususnya yang bergerak di bidang bioenergi (ethanol) sudah menerapkan pengembangan pembangkit listrik dari bahan baku singkong, namun itu baru menggunakan ampasnya saja.
"Kalau sudah dikembangkan secara tepat dan terencana maka tidak ada lagi daerah terutama yang ada di pedalaman yang tak teraliri arus listrik," kata dia.
Ketersediaan energi listrik itu, ujar dia, dapat mendorong perkembangan kesejahteraan masyarakat yang dipastikan meningkat, mengingat wilayah tersebut bisa berkembang sehingga teknologi dapat diakses lebih mudah.
Menurut Adjisar Ch, Direktur Pemasaran PT Lampung Kasava Agro, Provinsi Lampung merupakan daerah potensial untuk penerapan pembangkit listrik berbahan baku singkong.
"Provinsi ini merupakan 60 persen penghasil singkong secara nasional, dan ditunjang dengan tersedia alat-alat pertanian yang cukup lengkap, lahan masih luas serta tersedia pabrik tapioka dan ethanol yang sangat memerlukan bahan baku singkong," kata dia.
Lampung Kasava Agro, ujar dia lagi, telah berhasil melaksanakan proyek percontohan budidaya singkong dengan produksi tinggi di Provinsi Lampung, sehingga provinsi ini sangat layak dijadikan daerah percontohan pembangkit listrik tenaga singkong.
Di Lampung, PT PLN (Persero) mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 130 MW dengan biaya produksi dan atau dibeli dari pihak swasta menggunakan tenaga diesel dengan harga Rp2.800 per kWh. Apabila menggunakan pembangkit listrik tenaga singkong, maka PLN hanya akan membeli sebesar Rp975 per kWh sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2012 tanggal 31 Januari 2012, ujar dia.
Hal ini, lanjut dia, akan mengurangi pemakaian bahan bakar berbasis fosil dan sekaligus akan mengurangi subsidi pemerintah, serta meningkatkan kesejahteraan dan harkat petani melalui pergerakan perekonomian rakyat sebagai dampak pelaksanaan budidaya singkong untuk bahan baku sumber energi listrik tersebut.
"Subsidi pemerintah di bidang energi yang mencapai 84,4 persen dari total anggaran subsidi pemerintah dapat dialihkan kepada subsidi nonenergi yang langsung dapat menyentuh masyarakat," kata dia lagi.
Sebelumnya, Edi Sukmoro, Kepala Divisi Umum dan Manajemen PT PLN, menyatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga gas metana berbahan baku singkong itu merupakan yang pertama di Indonesia.
Percontohan awal ini, kata dia, PLN bekerjasama dengan PT Lampungcasava Agro dengan luas lahan budidaya singkong sekitar 52 hektare.
"Kami akan mengujicobakan pembangkit listrik dengan daya yang dihasilkan sekitar satu megawatt, seperti halnya telah dikatakan oleh Pak Wagub tadi untuk energi tersebut hanya membutuhkan sekitar 150 hektare kebun singkong, maka ke depan percontohan itu akan dilaksanakan secara berkala," kata dia lagi.
Dia mengemukakan, pengembangan potensi pembangkit listrik dari gas metana berbahan singkong ini cukup potensial dilaksanakan di provinsi ini.
"Di Jerman pembangkit listrik dari gas metana berbahan baku jagung sudah ada, mudah-mudahan dengan bahan baku singkong yang kualitasnya lebih baik akan membuat biaya pokoknya lebih rendah," ujar dia.
Apabila percontohan tersebut sudah terlaksana, ujar Edi lagi, satu megawatt daya listrik itu dapat dikembangkan lagi, sehingga energi listrik itu dapat disalurkan ke daerah lainnya.
"Energi listrik ini merupakan sumber energi yang dapat terbarukan, sehingga tidak akan habis asalkan petani masih mau menanam komoditas singkong tersebut," kata Edi Sukmoro pula.
Lampung merupakan daerah utama penghasil singkong di Indonesia, sehingga diharapkan pengembangan singkong menjadi bahan baku energi listrik terbarukan akan menjadi terobosan yang sangat berarti di daerah ini.
"Potensi pengembangan budidaya komoditas singkong ini sangat besar, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan sumber energi terbarukan dapat segera diperoleh," ujar dia.
Menurut Resi Bohang, potensi perkebunan singkong di Indonesia khususnya di Provinsi Lampung cukup besar, sehingga perlu dukungan dari semua pihak untuk mengembangkan potensi tersebut.
"Saya kurang lebih sudah 18 tahun meneliti kandungan yang terdapat pada singkong, dan kualitasnya cukup baik untuk dijadikan sumber energi listrik," kata dia lagi.
Dia melanjutkan, sebagian perusahaan di Lampung khususnya yang bergerak di bidang bioenergi (ethanol) sudah menerapkan pengembangan pembangkit listrik dari bahan baku singkong, namun itu baru menggunakan ampasnya saja.
"Kalau sudah dikembangkan secara tepat dan terencana maka tidak ada lagi daerah terutama yang ada di pedalaman yang tak teraliri arus listrik," kata dia.
Ketersediaan energi listrik itu, ujar dia, dapat mendorong perkembangan kesejahteraan masyarakat yang dipastikan meningkat, mengingat wilayah tersebut bisa berkembang sehingga teknologi dapat diakses lebih mudah.
Menurut Adjisar Ch, Direktur Pemasaran PT Lampung Kasava Agro, Provinsi Lampung merupakan daerah potensial untuk penerapan pembangkit listrik berbahan baku singkong.
"Provinsi ini merupakan 60 persen penghasil singkong secara nasional, dan ditunjang dengan tersedia alat-alat pertanian yang cukup lengkap, lahan masih luas serta tersedia pabrik tapioka dan ethanol yang sangat memerlukan bahan baku singkong," kata dia.
Lampung Kasava Agro, ujar dia lagi, telah berhasil melaksanakan proyek percontohan budidaya singkong dengan produksi tinggi di Provinsi Lampung, sehingga provinsi ini sangat layak dijadikan daerah percontohan pembangkit listrik tenaga singkong.
Di Lampung, PT PLN (Persero) mengoperasikan pembangkit dengan kapasitas 130 MW dengan biaya produksi dan atau dibeli dari pihak swasta menggunakan tenaga diesel dengan harga Rp2.800 per kWh. Apabila menggunakan pembangkit listrik tenaga singkong, maka PLN hanya akan membeli sebesar Rp975 per kWh sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2012 tanggal 31 Januari 2012, ujar dia.
Hal ini, lanjut dia, akan mengurangi pemakaian bahan bakar berbasis fosil dan sekaligus akan mengurangi subsidi pemerintah, serta meningkatkan kesejahteraan dan harkat petani melalui pergerakan perekonomian rakyat sebagai dampak pelaksanaan budidaya singkong untuk bahan baku sumber energi listrik tersebut.
"Subsidi pemerintah di bidang energi yang mencapai 84,4 persen dari total anggaran subsidi pemerintah dapat dialihkan kepada subsidi nonenergi yang langsung dapat menyentuh masyarakat," kata dia lagi.
Sebelumnya, Edi Sukmoro, Kepala Divisi Umum dan Manajemen PT PLN, menyatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga gas metana berbahan baku singkong itu merupakan yang pertama di Indonesia.
Percontohan awal ini, kata dia, PLN bekerjasama dengan PT Lampungcasava Agro dengan luas lahan budidaya singkong sekitar 52 hektare.
"Kami akan mengujicobakan pembangkit listrik dengan daya yang dihasilkan sekitar satu megawatt, seperti halnya telah dikatakan oleh Pak Wagub tadi untuk energi tersebut hanya membutuhkan sekitar 150 hektare kebun singkong, maka ke depan percontohan itu akan dilaksanakan secara berkala," kata dia lagi.
Dia mengemukakan, pengembangan potensi pembangkit listrik dari gas metana berbahan singkong ini cukup potensial dilaksanakan di provinsi ini.
"Di Jerman pembangkit listrik dari gas metana berbahan baku jagung sudah ada, mudah-mudahan dengan bahan baku singkong yang kualitasnya lebih baik akan membuat biaya pokoknya lebih rendah," ujar dia.
Apabila percontohan tersebut sudah terlaksana, ujar Edi lagi, satu megawatt daya listrik itu dapat dikembangkan lagi, sehingga energi listrik itu dapat disalurkan ke daerah lainnya.
"Energi listrik ini merupakan sumber energi yang dapat terbarukan, sehingga tidak akan habis asalkan petani masih mau menanam komoditas singkong tersebut," kata Edi Sukmoro pula.
Lampung merupakan daerah utama penghasil singkong di Indonesia, sehingga diharapkan pengembangan singkong menjadi bahan baku energi listrik terbarukan akan menjadi terobosan yang sangat berarti di daerah ini.