Perusakan Bukit Camang Tetap Berlangsung
Senin, 5 November 2012 13:07 WIB
Kondisi Bukit Camang yang makin parah (FOTO ANTARA LAMPUNG/Hisar Sitanggang)
Bandarlampung (ANTARA LAMPUNG)- Perusakan Bukit Camang yang termasuk dalam kawasan konservasi masih tetap berlangsung hingga sekarang, dan dalam dua pekan terakhir penambangan pasir, tanah dan bebatuan bukit itu telah menggunakan alat berat atau ekskavator.
Berdasarkan pantauan di Bukit Camang, Bandarlampung, Senin, ekskavator mulai digunakan secara terang-terangan untuk menggali material bukit itu, kemudian memasukkannya ke dalam berbagai truk yang sudah di parkir di kawasan bukit itu.
Perusakan bukit itu terus berlangsung dan puluhan orang setiap harinya menggantungkan kehidupan perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai buruh di daerah konservasi itu.
Sehubungan tidak adanya tindakan dari Pemkot Bandarlampung, kegiatan penambangan di bukit itu terus langsung, meski status kawasan itu adalah daerah konservasi.
Bebatuan, pasir dan tanah dari bukit itu umumnya diangkut menggunakan truk ke berbagai daerah di Bandarlampung melalui jalan pinggir kota.
Penambangan itu selain membahayakan keselamatan penambang dan warga setempat, juga kerap menimbulkan genangan air dan longsoran tanah ke jalan di sisi bukit itu saat hujan turun. Tanah berlumpur itu tentu berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan, apalagi kondisi jalan yang cukup curam.
Penambangan itu juga berdampak berkurangnya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau di Kota Bandarlampung. Di sisi bukit itu juga terdapat sekolah dan rumah-rumah warga, yang kerap terkena tumpahan air bercampur lumpur dari bukit saat hujan.
Penambangan ilegal itu telah berulangkali disorot oleh para pegiat lingkungan, seperti Walhi Lampung, namun aktivitas itu tetap berlangsung hingga sekarang. Padahal, Pemkot Bandarlampung telah menegaskan bahwa penambangan itu tanpa izin.
Sementara itu, sejumlah pengendara yang kerap melintasi jalan di kawasan bukit Camang itu, juga meminta aparat kepolisian membantu Pemkot menghentikan penambangan tersebut dengan merazia kendaraan yang mengangkut material tambang dari bukit konservasi itu.
"Cukup dengan menilang truk yang mengangkut material hasil penambangan dari bukit itu, kegiatan penambangan itu akan berhenti dengan sendirinya," ucap salah satu pengendara yang enggan disebutkan namanya.
Jalan yang melewati pinggiran Bukit Camang juga merupakan jalan pintas utama bagi warga kota Bandarlampung untuk menuju tempat kerjanya di Tanjungkarang dan Telukbetung, Bandarlampung.
Berdasarkan pantauan di Bukit Camang, Bandarlampung, Senin, ekskavator mulai digunakan secara terang-terangan untuk menggali material bukit itu, kemudian memasukkannya ke dalam berbagai truk yang sudah di parkir di kawasan bukit itu.
Perusakan bukit itu terus berlangsung dan puluhan orang setiap harinya menggantungkan kehidupan perekonomian keluarganya dengan bekerja sebagai buruh di daerah konservasi itu.
Sehubungan tidak adanya tindakan dari Pemkot Bandarlampung, kegiatan penambangan di bukit itu terus langsung, meski status kawasan itu adalah daerah konservasi.
Bebatuan, pasir dan tanah dari bukit itu umumnya diangkut menggunakan truk ke berbagai daerah di Bandarlampung melalui jalan pinggir kota.
Penambangan itu selain membahayakan keselamatan penambang dan warga setempat, juga kerap menimbulkan genangan air dan longsoran tanah ke jalan di sisi bukit itu saat hujan turun. Tanah berlumpur itu tentu berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan, apalagi kondisi jalan yang cukup curam.
Penambangan itu juga berdampak berkurangnya daerah resapan air dan ruang terbuka hijau di Kota Bandarlampung. Di sisi bukit itu juga terdapat sekolah dan rumah-rumah warga, yang kerap terkena tumpahan air bercampur lumpur dari bukit saat hujan.
Penambangan ilegal itu telah berulangkali disorot oleh para pegiat lingkungan, seperti Walhi Lampung, namun aktivitas itu tetap berlangsung hingga sekarang. Padahal, Pemkot Bandarlampung telah menegaskan bahwa penambangan itu tanpa izin.
Sementara itu, sejumlah pengendara yang kerap melintasi jalan di kawasan bukit Camang itu, juga meminta aparat kepolisian membantu Pemkot menghentikan penambangan tersebut dengan merazia kendaraan yang mengangkut material tambang dari bukit konservasi itu.
"Cukup dengan menilang truk yang mengangkut material hasil penambangan dari bukit itu, kegiatan penambangan itu akan berhenti dengan sendirinya," ucap salah satu pengendara yang enggan disebutkan namanya.
Jalan yang melewati pinggiran Bukit Camang juga merupakan jalan pintas utama bagi warga kota Bandarlampung untuk menuju tempat kerjanya di Tanjungkarang dan Telukbetung, Bandarlampung.
Pewarta :
Editor : M. Tohamaksun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkot Bandarlampung hentikan sementara aktivitas pengerukan bukit di Sukabumi
10 November 2025 19:09 WIB
Bharata Muda dan Bukit Asam petik kemenangan di Kejurnas Voli U-19 Bandarlampung
09 December 2024 0:50 WIB, 2024
Terpopuler - Warta Bumi
Lihat Juga
BMKG prakirakan kota-kota besar di Indonesia, termasuk Lampung diguyur hujan
26 January 2025 7:40 WIB, 2025
DMC Dompet Dhuafa membuka pos bagi penyintas erupsi Gunung Ibu Halmahera
24 January 2025 10:21 WIB, 2025
BMKG prakirakan hujan guyur mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Bandarlampung
22 January 2025 5:35 WIB, 2025
BNPB lakukan operasi modifikasi cuaca untuk kurangi banjir di Bandarlampung
20 January 2025 12:11 WIB, 2025
Jihan Nurlela sebut perlu revitalisasi mangrove untuk maksimalkan ekowisata
12 January 2025 5:06 WIB, 2025