Tak elok Kemenag kritisi dangkalnya pemahaman kitab suci tanpa solusi

id Kemenag,Kitab Suci,tidak paham kitab suci menteri agama,dangkalnya pemahaman kitab suci,Tak elok Kemenag kritisi dangkalnya pemahaman kitab suci

Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CCDC), Din Syamsuddin saat ditemui di Jakarta, Rabu (7/8/2019).

Jakarta (ANTARA) - Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CCDC), Din Syamsuddin mengatakan Kementerian Agama ikut bertanggung jawab apabila belum banyak masyarakat yang bisa mengkaji ayat-ayat kitab suci secara mendalam dan tak elok mengkritisi hal itu tanpa dibarengi dengan solusi.

"Jangan hanya membuka aib sendiri, tapi atasi masalah itu. Karena pemahaman keagamaan masyarakat kan tanggung jawab Kementerian Agama juga," ujar Din di Jakarta, Rabu.

Bagi Din, itu seperti pepatah menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Seharusnya Kementerian Agama bercermin dengan hal itu dan berupaya agar kedangkalan pengkajian Al Quran tidak sampai terjadi lagi.

Menurut mantan ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015 itu, Kementerian Agama seharusnya bisa mengatasi kedangkalan itu apalagi didukung oleh dana yang besar. "Dikemanakan dana yang besar itu? Tidak elok lah mengkritisi diri sendiri itu tapi tanpa jalan keluar," ujar Din.

Sebelumnya Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Kementerian Agama Muhammad Zain menekankan pentingnya membedakan ayat Al Quran dalam kategori teologis dan sosiologis secara tepat sehingga menekan perselisihan umat beragama.

"Sangat berbahaya jika tidak dipahami dengan konteks masyarakat Indonesia yang plural," kata dia merujuk terjemahan Al Baqarah 120 yang berbunyi "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti jalan mereka".

Jika dipahami secara teologis, kata dia, maka umat Islam akan didorong untuk tidak bekerja sama sama sekali dengan kalangan selain Muslim. Jika dimaknai seperti itu maka hubungan antarumat beragama tidak akan terwujud di negara plural.

Dia mengatakan Al Baqarah Ayat 120 itu merupakan ayat sosiologis dengan konteks turunnya ayat itu di Madinah guna menjelaskan bahwa pusat ekonomi dan kekuasaan zaman Rasulullah SAW sebelumnya dikuasai kalangan Yahudi dan Nasrani.

"Maka pantas Yahudi dan Nasrani cemburu kepada Islam sehingga turun Al Baqarah Ayat 120. Itu ayat sosiologis, bukan ayat teologis. Kalau ini ayat teologis kita bisa perang terus dengan Yahudi dan Nasrani," kata dia.

Sementara itu, Zain mengatakan dalam beberapa hal terdapat ayat Al Quran yang sifatnya teologis dan fundamental, seperti untuk persoalan akidah seperti dalam surat Al Kafirun Ayat 6 yang tertulis bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Adapun makna dari ayat itu adalah umat Islam memiliki batasan-batasan dalam beribadah dengan tidak menjalankan ibadah agama lain karena sudah memiliki ajaran yang sudah digariskan syariah. Tidak boleh ada tawar menawar dalam persoalan akidah.

"Artinya umat Islam harus tegas dalam hal akidah terhadap orang kafir. Maka tidak boleh umat Islam tawar menawar dalam hal akidah. 'Lakum diinukum wa liyadiin' ini jangan dipakai menjadi sosiologis," katanya.
Baca juga: Radikalisme disebabkan pemahaman sempit agama
Baca juga: Kemenag akan uji sahih terjemahan Quran
Baca juga: Menag minta pemda sukseskan pemberantasan buta aksara Al Quran

Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar