Goldman Sachs prediksi tidak ada kesepakatan dagang sebelum pilpres AS

id Goldman Sachs ,perang dagang,kesepakatan perdagangan AS dan China,pilpres AS,federal reserve

Ilustrasi - perang dagang antara AS dan China yang sedang berlangsung. ANTARA/Shutterstock/am.

London (ANTARA) - Goldman Sachs mengatakan pihaknya tidak lagi memperkirakan Amerika Serikat (AS) dan China menyepakati kesepakatan untuk mengakhiri sengketa perdagangan berkepanjangan mereka sebelum pemilihan presiden (pilpres) November 2020, karena para pembuat kebijakan dari kedua ekonomi terbesar di dunia "mengambil garis keras".

Bank sekarang memperkirakan dua penurunan suku bunga secara berturut-turut dari Federal Reserve AS (Fed) “mengingat meningkatnya risiko kebijakan perdagangan, ekspektasi pasar untuk penurunan suku bunga yang jauh lebih dalam, dan peningkatan risiko global terkait dengan kemungkinan Brexit tanpa kesepakatan”.

Komentar pada perdagangan AS dan revisi ekspektasi Fed datang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan minggu lalu ia akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada 300 miliar dolar AS impor China mulai 1 September, semakin memperparah ketegangan perdagangan dengan Beijing.

Langkah oleh Washington "menunjukkan bahwa kedua belah pihak dalam konflik perdagangan mengambil garis yang lebih keras, mengurangi kemungkinan resolusi dalam waktu dekat," kepala ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius menulis dalam sebuah catatan.

Hatzius mengatakan memperkirakan tarif baru akan tetap diberlakukan pada hari pemilihan pada November.

Ekuitas global telah kehilangan hampir 2,5 triliun dolar AS karena retorika keras dari Amerika Serikat dan China. Pada Senin (5/8/2019), China membiarkan yuan merosot sebagai respons terhadap tarif terbaru AS.

Hatzius melihat peluang 75 persen penurunan suku bunga oleh Federal Reserve pada September dan peluang 50 persen pada Oktober, mengikuti penurunan minggu lalu. Dia sebelumnya hanya memperkirakan dua pemotongan tahun ini.

"The Fed telah semakin responsif tahun ini terhadap ancaman perang perdagangan, ekspektasi pasar obligasi, dan kekhawatiran pertumbuhan global," tambah Hatzius seperti dikutip dari Reuters.

Baca juga: China dituduh manipulator mata uang, tuduhan AS pukul sentimen pasar

Baca juga: Darmin khawatir perlemahan yuan pengaruhi mata uang lainnya


 

Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar