Nagan Raya siapkan 7.000 m2 batu giok untuk Masjid Baitul 'Ala

id Masjid Giok Aceh,Nagan Raya,Batu Giok

Warga melintasi bangunan Masjid Agung Baitul A'la di Kompleks Perkantoran Suka Makmue, milik Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Kamis (13/6/2019). Mulai tahun ini, pemerintah daerah setempat akan memasang 7.000 meter persegi batu alam jenis Giok pada setiap sisi bangunan masjid yang diharapkan akan menjadi ikon dan tujuan wisata islami baru di Aceh. (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Nagan Raya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, kini menyiapkan 7.000 meter persegi batu Giok untuk dipasang pada sejumlah sisi bangunan Masjid Agung Baitul 'Ala Kompleks Perkantoran Suka Makmue, yang akan dijadikan sebagai 'Masjid Giok' di kabupaten itu.

"Kita harapkan nantinya Masjid Giok ini menjadi salah satu kebanggaan masyarakat di Nagan Raya dan khususnya di Provinsi Aceh," kata Bupati Nagan Raya HM Jamin Idham kepada Antara, Kamis di Suka Makmue.

Menurutnya, terdapat sejumlah variasi batu alam yang akan ditempatkan di masjid tersebut, diantaranya giok jenis Black Jade akan dipasang di bagian tangga, kemudian Giok Nefrite dan jenis giok lain akan dipasang di bagian dalam lantai serta di sejumlah sisi bangunan lainnya.

Ia menargetkan pemasangan batu alam tersebut akan dimulai pada bulan Oktober 2019 mendatang, dan diharapkan pada tahun 2020 nantinya bisa digunakan untuk masyarakat umum, sebagai sarana ibadah serta berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Saat ini, pemerintah daerah juga sedang menunggu proses perakitan alat pemasangan batu alam yang khusus didatangkan dari Bandung, Jawa Barat. Mengingat proses pembelahan batu alam yang terdapat di kawasan pegunungan Nagan Raya, Aceh, membutuhkan mesin yang kuat, karena kualitas batu alam yang akan dibelah tersebut memiliki kualitas yang sangat baik.

Seluruh batu alam yang diambil di kawasan hutan produksi di Desa Krueng Isep, Kecamatan Beutong, tersebut seluruhnya diolah di Desa Blang Sapek, Kecamatan Suka Makmue.

Ia juga memastikan dalam pembelahan batu alam tersebut juga tidak menggunakan dana daerah, akan tetapi dilakukan kerjasama investasi.

Seluruh pekerja dan peralatan pembuatan dan alat belah batu didatangkan dari Jawa. Hal ini dilakukan guna menghemat biaya produksi dan memaksimalkan pembuatan bahan dasar lantai yang akan dipasang di masjid agung setempat.

"Kalau dulu batu gioknya dibawa ke Jawa Timur dan setelah diolah dikirim lagi ke Aceh. Itu kan tidak efektif dan boros. Kita sekarang ingin efisien, cepat dan tepat," kata Bupati HM Jamin Idham.*

Baca juga: Masjid Agung Nagan dipasangi 40 ribu keping giok

Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar