BPBD Bantul petakan jalur mudik dan wisata rawan longsor

id BPBD,bantul

Kantor BPBD Bantul (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta telah memetakan beberapa ruas jalan yang menjadi jalur mudik dan jalur wisata saat libur Lebaran 2019 yang rawan longsor.

"Kalau jalur rawan longsor itu kita punya peta wilayah, namun kalau berbicara kaitannya dengan mudik tentu kemungkinannya potensi itu kecil, karena saat ini musim kemarau," kata Manajer Pusat Pengendali dan Operasional (Pusdalops) BPBD Bantul Aka Luk Luk di Bantul, Rabu.

Beberapa wilayah di Bantul yang terdapat jalur rawan longsor diantaranya di wilayah Bantul timur seperti ruas jalan di Imogiri, kemudian wilayah perbukitan Dlingo dan sebagian wilayah Kecamatan Piyungan.

Namun demikian, kata dia, kejadian longsor itu berpotensi terjadi ketika ada penyebab yang sebelumnya terjadi seperti hujan dengan intensitas tinggi hingga membuat pergerakan tanah maupun tanah basah.

"Kalau longsor itu identiknya adalah musim hujan, dan ketika berbicara longsor harus ada pemicunya, biasanya yang paling banyak di saat musim hujan, meskipun kalau longsor itu di musim kemarau bisa saja terjadi," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, karena pelaksanaan mudik dan wisata libur Lebaran 2019 bertepatan dengan musim kemarau, yang paling mungkin berpotensi terjadi bukan ke bencana longsornya, tetapi lebih kepada kasus kebakaran.

"Dan kalau di Bantul itu dari data kami justru ada kebakaran lahan, sawah dan hutan. Di kasus mudik 2018 kemarin ada kebakaran kendaraan karena kepanasan mesin dan korsleting listrik yang berakibat kebakaran," katanya.

Untuk itu, kata dia, BPBD Bantul selain akan mewaspadai kemungkinan kejadian longsor di jalur jalur wilayah perbukitan, juga potensi kejadian kebakaran yang biasanya terjadi saat musim kemarau.

Baca juga: Tiga pos pemadam kebakaran akan dibangun BPBD Bantul

Baca juga: BPBD Bantul harapkan kesiapsiagaan masyarakat tidak terpaku pada musim

Pewarta : Hery Sidik
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar