Korlantas Polri operasikan gawai canggih untuk olah TKP kecelakaan

id 3d laser scanner,korlantas,polri,polisi,korps lalu lintas

Direktur Penegakan Hukum (Dirgakum) Korps Lalu Lintas Polri, Brigjen Pol Pujiono Dulrahman (kiri), dalam giat pelatihan operasional 3D Laser Scanner di Jakarta, Jumat (12/4). (ANTARA News/Fianda Rassat)

Jakarta (ANTARA) - Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia mulai memperkenalkan gawai canggih bernama 3D Laser Scanner untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kecelakaan lalu lintas dengan lebih cepat dan akurat.

"Dulu olah TKP kecelakaan lalu lintas dilakukan secara manual, artinya ke lapangan harus bawa kapur, meteran dan sebagainya. Sekarang 3D Laser Scanner ini bisa merekronstruksi kejadian yang sebenarnya, baik sebelum, saat, dan sesudah kecelakaan," kata Direktur Penegakan Hukum (Dirgakum) Korps Lalu Lintas Polri, Brigjen Pol Pujiono Dulrahman, dalam pelatihan operasional 3D Laser Scanner di Jakarta, Jumat.

Pujiono mengatakan gawai canggih itu mampu menggambarkan situasi di TKP kecelakaan, mulai dari lubang jalan, cone, hingga batu yang ada jalan. 3D Laser Scanner ini mampu merekonstruksi dan membuat animasi kejadian sebelum, saat, dan setelah kejadian.

"Kini kami bisa mengetahui kecepatan kendaraan. Tidak lagi menghitung berapa panjang jejak rem. Kami tinggal masukkan data-data di TKP dia (3D Laser Scanner) bisa berpikir dan mengolah kendaraan itu melaju dengan kecepatan sekian," tambahnya.
 
Gawai 3D Laser Scanner yang bisa rekam data TKP laka lantas dengan lebih cepat dan akurat. (ANTARA News/Fianda Rassat)


Selain foto, alat ini juga mampu menggambarkan situasi yang ada di TKP dengan mendetail mulai dari pohon, rumah, dan sebagainya dengan area pandang 360 derajat.

Pujiono juga mengatakan akurasi alat baru ini dalam mengolah TKP sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 90 persen.

"(Ketepatannya) 90 persen. Karena bukti otentik di TKP itu tergambarkan," ujarnya.

Dijelaskan Pujiono alat canggih ini adalah buatan Swiss dengan lisensi produksi di Amerika Serikat.

Terkait pemahaman personel terhadap operasional alat tersebut, Pujiono mengatakan 80 persen anggota sudah menguasai penggunaan alat tersebut.

"Sekarang 80 persen. Kami ada video atau animasinya, jadi kalau dia lupa tinggal lihat juga videonya. Caranya seperti apa dan ada juga tutorialnya. Kalau masih ada kesulitan di lapangan tinggal telepon, akan dibantu," pungkasnya.

Pewarta : Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar