Laporan: Media enggan sebut ekstremis kanan-jauh sebagai teroris

id Ekstremisme,teroris,Media enggan,Sayap-kanan

Menlu Bicara Soal Semangat Toleransi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) menjadi pembicara pada Simposium Tahunan Trygve Lie membahas kebebasan beragama yang digelar International Peace Institute (IPI) di sela-sela Sidang Majelis Umum ke-72 PBB di New York, Amerika Serikat, Kamis (21/9/2017). Menlu Retno mengatakan bahwa mendorong semangat toleransi dan juga kebebasan beragama dan berkepercayaan adalah satu cara efektif untuk melawan ekstremisme yang mengatasnamakan agama. (ANTARA /Aditya Wicaksono)

London (ANTARA) - Orang Muslim yang ekstrem tiga kali lebih mungkin untuk dicap sebagai teroris oleh media dibandingkan dengan ekstremis kanan-jauh, demikian hasil studi baru-baru ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Signal Al menganalisis peliputan media, termasuk siaran radio dan berita televisi, mengenai sejumlah serangan teroris yang telah berlangsung dalam dua tahun belakangan. Penelitian itu menyimpulkan bahwa ada keengganan yang berlangsung terus oleh organisasi media untuk menyebut ekstremis sayap-kanan sebagai teroris.

Dalam satu studi mengenai 200.000 artikel berita di seluruh dunia, analisis itu mendapati ekstremis Muslim dicap sebagai teroris sebanyak 78,4 persen. Namun ekstremis sayap-kanan diidentifikasi sebagai teroris hanya sebanyak 23,6 persen, demikian laporan Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi.

"Dalam istilah bahasa yang digunakan, dan jumlah peliputan, perlakuan media mengenai bentuk berbeda eksremis berat sebelah. Seorang Muslim dapat diduga dengan cepat dicap sebagai teroris, sementara media ragu untuk menerapkan istilah yang itu buat orang kulit putih," kata badan penelitian tersebut di dalam dokumen yang disiarkan pada 3 April.

Setelah serangan Christchurch di Selandia Baru, yang menyaksikan 50 orang Muslim yang sedang shalat dibantai oleh seorang teroris sayap-kanan, Signal Al mendapati dari semua artikel yang dianalisis, 90.000 artikel tak membuat kaitan antara serangan itu dan terorisme dan lebih dari 40 persen peliputan global tidak mencap serangan tersebut sebagai perbuatan terorisme.

Penelitian itu membandingkan peliputan serangan di Christchurch dengan lima lagi serangan oleh kelompok sayap-kanan dengan serangan oleh ekstremis Muslim dalam 15 bulan belakangan. Untuk serangan oleh kelompok sayap-kanan, istilah "terorisme" tak digunakan dalam 84,1 persen peliputan.

Hasil tersebut digambarkan sebagai "mencolok, jika secara tak menyenangkan tidak mengejutkan" dan itu adalah bukti bahwa peliputan media mengenai serangan oleh orang Muslim sangat berbeda dengan serangan oleh kelompok sayap-kanan.

"Kepercayaan bahwa media memperlakukan terorisme secara tidak seimbang tergantung atas latar-belakang si penyerang dilandasi dalam jumlah. Dalam serangan yang dipelajari, artikel mengenai ekstremisme Islam tidak menyebut-nyebut terorisme pada seperempat waktu. Artikel mengenai penyerang sayap-kanan tidak menyebut terorisme tiga-perempat waktu. Ini adalah masalah yang akan berlaku pada media dalam banyak topik, bukan hanya terorisme," kata para pengulas.

"Tak ada perusahaan media yang bisa diambil sebagai sumber yang tak memihak, masing-masing menggunakan prasangka mereka sendiri dan sikap bias tak peduli apa pun topiknya," kata studi tersebut.

Namun, analisis itu juga mendapati bahwa dalam kasus serangan Christchurch, perusahaan media, secara tak biasa, mau mencap ekstremis sayap-kanan itu serangan teroris setelah Perdana Menteri Selandia Jacinda Ardern mengumumkan peristiwa tersebut sebagai perbuatan terorisme dalam waktu enam jam setelah serangan terjadi. Keputusan semacam itu, yang telah digambarkan sebagai berani, membuat media mengikuti perbuatan PM Selandia Baru tersebut.

Itu bertolak-belakang dengan pemimpin dunia, seperti Presiden AS Donald Trump --yang enggan mencap serangan oleh kelompok sayap-kanan-jauh sebagai perbuatan teroris dan seperti media mengikutinya. Satu contoh yang diberikan ialah perbuatan teroris terhadap sinagog Pittsburgh pada Oktober 2018, saat Trump menggambarkan serangan itu sebagai perbuatan pembunuhan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh harian Independent, ekstremisme sayap-kanan berkembang di Inggris dan warga kulit putih Inggris lebih mungkin untuk bersimpati pada eksremisme ketimbang yang dilakukan oleh keturuan Asia Muslim.

Pemerintah diperingatkan agar tidak semata-mata memusatkan perhatian orang ekstremisme yang berorientasi Muslim sebab ekstremisme kanan-jauh adalah ancaman yang berkembang.

Sumber: Anadolu Agency
Baca juga: Al-Buthi ajak ulama Indonesia berperan aktif tangkal ekstremisme
Baca juga: China sebut ekstremisme keagamaan menyebar luas di Xinjiang
Baca juga: 100.000 ulama Bangladesh demo menentang ekstremisme


Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor: Maria D Andriana
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar