Bupati Musi Banyuasin bahas pembangunan sawit berkelanjutan di Belanda

id sawit,kelapa sawit,cpo

Ilustrasi - Pekerja melansir Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Pekanbaru, Riau, Rabu (20/3/2019). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman/ama).

Palembang (ANTARA) - Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin memenuhi undangan lembaga swadaya masyarakat internasional The Sustainable Trade Initiative (IDH) guna membahas pembangunan perkebunan sawit berkelanjutan di Utrecht, Belanda, 22-24 Maret 2019.

Dodi yang dihubungi dari Palembang, Sabtu, mengatakan dalam kesempatan itu, kedua belah pihak membahas mengenai program Verified Source Area (VSA) di Musi Banyuasin bersama Program Director Daan Wensing dan Senior Commodity Trade Specialist Willem Klaassens.

Ia mengatakan VSA merupakan sistem yang memastikan semua komoditas sawit dan karet dari Musi Banyuasin terverifikasi sehingga dapat menangkal kampanye hitam terkait dengna isu deforestasi yang sering dimunculkan negara-negara Eropa terhadap produk Indonesia.

Industri sawit nasional terusik atas penolakan Uni Eropa terhadap komoditas tersebut. Masyarakat "Benua Biru" itu menuding produk minyak nabati dari olahan sawit tidak ramah lingkungan dan bertentangan dengan konsep lingkungan berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia mesti terus mempromosikan dan memfasilitasi pertumbuhan sektor sawit karena menyangkut penghidupan petani. Fokusnya adalah sawit yang diproduksi, diolah, dan diekspor adalah sawit yang berkelanjutan.

Untuk itu, kata dia, dalam metode VSA yang akan diterapkan di Musi Banyuasin, ribuan hektare lahan sawit di daerah itu akan diverifikasi untuk memastikan area yang digunakan tidak memasuki kawasan hutan lindung.

"Upaya menerapkan metode VSA ini merupakan bagian dari komitmen Kabupaten Musi Banyuasin untuk mengimplementasikan pembangunan sawit berkelanjutan," kata dia.

Pada kesempatan itu, Dodi juga menginformasikan bahwa Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin telah menjalankan program peremajaan sawit terhadap 7.500 hektare lahan yang menjadi proyek percontohan di Indonesia pada 2017 karena menyasar petani swadaya.

Pada 2019, program peremajaan sawit itu terus berlanjut dengan mendapatkan alokasi tambahan seluas 5.000 hektare.

Program perkebunan berkelanjutan itu juga diwujudkan Pemkab Musi Banyuasin dengan mendorong pengelolaan inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati atau biofuel untuk mengurangi penggunaan energi fosil melalui penyusunan nota kesepahaman dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Pewarta : Dolly Rosana
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar